Tuesday, January 31, 2012

Fall of Giants

Manusia adalah satu-satunya binatang yang saling membantai jenisnya sendiri hingga berjuta-juta korban. Mungkin umat manusia pada akhirnya akan membinasakan peradaban mereka sendiri dari muka bumi dan meninggalkannya pada burung-burung dan pepohonan.” (Walter von Ulrich) ~hlm. 431.

Kutipan itu sangat tepat menggambarkan Perang Dunia yang terjadi karena kesombongan dan kebodohan manusia yang merasa paling hebat di dunia. Meski kematian Archduke Franz Ferdinand—pewaris tahta kerajaan Austria yang dibunuh oleh nasionalis Serbia—menjadi pemicu terjadinya perang Dunia I, namun sebenarnya penyebab perang itu adalah karena para petinggi dan diplomat negara-negara yang berkepentingan tidak menginginkan perdamaian. Inilah yang menjadi setting utama dari buku pertama trilogi teranyar dari Ken Follett: Fall of Giants (Runtuhnya Dinasti Raksasa).

Lewat buku ini, Ken Follett seolah-olah hendak menunjukkan, bahwa sebenarnya perang dapat dihindari. Perang bukanlah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah politik internasional, apalagi mengingat banyaknya manusia yang harus dikorbankan dalam perang—Perang Dunia I sendiri memakan sekitar 10 juta korban, konflik paling mematikan dengan jumlah korban ke 6 terbesar sepanjang masa. Di sisi lain, Fall of Giants juga menyoroti Revolusi Rusia akibat tumbangnya pemerintahan Tsar, bangkitnya Partai Buruh di Inggris, dan perjuangan wanita untuk mendapatkan kesetaraan dalam ekonomi dan politik. Semua gelombang revolusi dunia yang ada dalam sejarah itu dengan briliannya dijalin oleh Ken Follett lewat konflik pribadi tokoh-tokoh fiktif yang turut mengalami akibat—langsung maupun tak langsung—dari Perang Dunia I. Lewat mereka, kita yang tak pernah merasakan perang, diajak melihat dan turut merasakan akibat dari perang itu.

Kisah ini berfokus pada tokoh-tokoh di 4 negara besar: Inggris, Rusia, Jerman, dan Amerika. Dibuka dengan inisiasi Billy, putra penambang batu bara di Aberowen, Wales. Dari keseluruhan buku ini, prolog inilah yang menjadi favoritku, sekaligus menjadikan Billy yang pemberani, tokoh favoritku. Aberowen melambangkan kesewenang-wenangan dan kesombongan kaum borjuis terhadap kaum buruh. Earl (Fitz) Fitzherbert adalah pemilik tanah pertambangan yang berpandangan konservatif dan meyakini bahwa kaum bangsawanlah yang harus memimpin Inggris, dan Inggris adalah negara yang paling hebat. Meski beristrikan bangsawan Rusia, Putri Bea, Fitz masih menjalin cinta dengan pengurus rumah tangganya: Ethel Williams, yang tak lain adalah kakak Billy Williams. Ketika Ethel akhirnya hamil, Fitz mencampakkannya begitu saja.

Suatu hari Fitz mengadakan jamuan untuk Raja Inggris: George ke V, dan mengundang diplomat-diplomat muda dunia. Hadir di jamuan itu: Maud Fitzherbert (adik Fitz)—perempuan liberal yang berjuang agar wanita memiliki hak pilih dalam pemilu, Walter von Ulrich—diplomat muda Jerman yang cinta damai, putra Otto von Ulrich yang dekat dengan Kaiser Jerman. Di pesta itu Walter dan Maud mulai berpacaran. Hadir juga Gus Dewar—diplomat cerdas yang akan menjadi penasihat yunior Presiden Amerika: Woodrow Wilson. Terakhir, Robert von Ulrich, kakak Walter yang homoseksual dan bekerja untuk Austria. Di pesta ini mereka terlibat dalam debat cerdas mengenai akankah negara masing-masing berperang beserta alasannya.

Sayangnya, tak lama kemudian terjadi pembunuhan atas Archduke Austria oleh orang Serbia. Austria marah besar. Di sini pendapat para diplomat terbelah. Di satu sisi mereka berpendapat bahwa Austria harus membalas perlakuan Serbia, meski hal itu akan memicu konflik dengan Rusia yang akan harus melindungi jalur perdagangannya di Balkan, dan yang notabene memiliki kekuatan militer menakutkan. Ayah Walter—Otto, Fitz dan Robert berada di kubu ini. Meski di luar mereka tak ingin terjadi perang, namun di dalam mereka yakin perang lah solusinya. Terutama bagi Fitz yang punya ambisi pribadi untuk sukses di militer untuk menjadi lebih terhormat. Di sisi satunya ada orang-orang muda yang cinta perdamaian: Maud dan Walter—yang jika perang berlangsung pasti tak dapat melanjutkan hubungan mereka, mengingat Inggris dan Jerman akan berada di 2 pihak yang berseberangan. Sementara itu, di luar lingkaran elite politik Eropa, ada juga Gus Dewar, Ethel dan Billy Williams, Grigori dan Lev Peshkov.

Masing-masing tokoh ini memiliki masalahnya sendiri-sendiri, dan secara langsung maupun tak langsung, perang akan mempengaruhi masa depan mereka. Contohnya kisah Grigori dan Lev Peshkov, dua bersaudara asal Rusia yang menjadi yatim piatu karena ayah dan ibu mereka dibunuh oleh rezim monarki. Sejak saat itu Grigori bertekad untuk bekerja dan mengumpulkan uang untuk pindah ke Amerika. Ada nuansa tersendiri di bagian Grigori dan Lev ini. Meski saudara kandung, mereka berbeda jauh dalam karakter. Grigori bermoral baik dan pekerja keras; sedang Lev bermoral buruk, selalu terbelit masalah dan sama sekali tak bertanggung jawab. Yang menarik adalah ketika mereka berdua jatuh cinta pada seorang wanita yang sama. Menarik melihat bagaimana kebanyakan wanita muda yang sering ‘terperosok’ pada ketampanan fisik dan rayuan gombal. Salah satu ending yang kutunggu-tunggu adalah apakah Katerina akhirnya sadar siapa yang mencintainya dengan tulus hingga mengorbankan banyak hal, dan mampukah Katerina berbalik mencintainya?

Seperti yang kita tahu, Perang Dunia I akhirnya meletus. Tokoh-tokoh muda kita pun berangkat ke medan perang. Kadang satu sama lain berjumpa, meski berada di pihak yang bermusuhan. Ken Follett tak hanya pandai menuturkan sejarah, namun ketegangan dan tragisnya perang dengan baik terekam lewat halaman demi halaman buku ini. Sementara itu, para wanita tak tinggal diam. Ethel mulai berjuang bersama Maud untuk mengangkat derajat kaum wanita. Meski awalnya hanyalah pengurus rumah tangga, Ethel dapat meniti karir sebagai editor koran, hingga memasuki ranah politik sebagai wakil Partai Buruh di parlemen. Satu lagi ending yang aku harapkan: akankah Fitz bertemu kembali dengan Ethel yang selalu mempesonanya? Dan bagaimana reaksi Fitz yang cenderung tak suka dengan kemandirian wanita, melihat Ethel yang kini nyaris sederajat dengannya? Dan akankah Ethel mampu melepaskan cintanya terhadap Fitz?

kiri: pasukan Rusia di parit untuk berlindung, menunggu serangan dari Jerman; Kanan: pertempuran di Somme

Lalu bagaimana nasib Walter dan Maud? Akankah 5 tahun perang mampu memisahkan cinta mereka? Dan bagaimana dengan Gus Dewar yang berkali-kali mengalami kegagalan cinta? Dan yang terakhir, bagaimana dengan Billy kita, si anak penambang? Akankah ia menjadi pahlawan dalam perang ini, atau hanya pecundang? Yang jelas, salah satu yang kusuka di bagian perang adalah peperangan di Somme yang sangat penting bagi Inggris. Mengapa? Hanya yang membaca bukunya yang akan tahu…

Meski mengasyikkan di bagian awal pemicu perang hingga perang berlangsung, kisah ini menjadi lumayan “berat” dan serius justru ketika perang usai dan monarki hancur, lalu negara-negara yang terlibat harus membangun struktur negara yang baru. Begitu masuk ranah politik domestik, alurnya agak menurun. Namun tetap, endingnya menjanjikan—seperti biasa dengan Ken Follett. Keberadaan tokoh-tokoh nyata seperti Winston Churchil, Lenin, dan Woodrow Wilson semakin menambah daya tarik kisah ini. Belum lagi keahlian Ken Follett membuat para tokohnya—yang semula tampak memiliki kehidupannya sendiri-sendiri—tiba-tiba saja bersilangan jalan dan membuat konflik makin melebar dan ruwet. Ruwet yang indah, untungnya!

Empat bintang kuanugerahkan bagi Fall of Giants. Satu bagi Ken Follett—yang telah bekerja keras meramu fakta sejarah yang akurat dengan fiksi yang menawan, satu bagi Billy, satu bagi Grigori, dan satu lagi untuk penerbit Esensi yang telah menerjemahkan buku ini, dan mengajak kita memperluas wawasan tentang Perang Dunia I, sekaligus diingatkan akan ngerinya perang dan indahnya perdamaian. Perang adalah permainan berbahaya segelintir pemimpin politik yang membuat jutaan rakyatnya menderita—bak bidak-bidak catur yang tak berdaya dikendalikan oleh para pemain catur. Herannya, bukannya belajar dari Perang Dunia I, negara-negara di dunia kembali berperang dengan cakupan yang lebih luas dan korban lebih banyak di Perang Dunia II. Tak sabar rasanya menunggu sekuel kedua trilogi Century ini yang bertutur tentang perang itu. Seperti kutipan di awal resensi ini, manusia yang (katanya) beradab, ternyata bisa jauh lebih biadab daripada binatang….

Judul: Fall of Giants
Penulis: Ken Follett
Penerjemah: Alphonsus C. Putro
Penerbit: Esensi (Erlangga grup)
Terbit: 2011
Tebal: 928 hlm

Tuesday, January 17, 2012

Historical Fictions I Wish To Be Translated

Berharap sangat para penerbit di Indonesia mau menerjemahkan dan menerbitkan novel-novel historical fiction ini. Ada 5 novel yang bagiku menarik, karena bukan saja bacaan yang menghibur, dari kelimanya aku yakin akan bisa belajar banyak hal baru. Inilah mereka, lengkap dengan rating di Goodreads, tahun terbit, informasi tentang apa novel itu, dan yang membuatku tertarik pada novel-novel itu. *berdoa semoga ada penerbit yang mau mengabulkan keinginanku*


Rating: 3,92, terbit Februari 2006

Tentang Joan of Arc, dari sudut pandang sepupunya.

“Joan of Arc... glorified mascot or truly a holy messenger? One thing I loved about this book is it allows you to decide.”











V
di’s Virgins by Barbara Quick
Rating 3,53, terbit Juli 2007

Tentang seorang gadis, murid komposer ternama Antonio Vivaldi.

“This novel is based on the real life composer Antonio Vivaldi who taught in an orphanage where there were tremendously gifted girls who sang and played musical instruments such as the violin. The story is told poetically through the voice of an orphan who plays violin and who is searching for her mother.”








Rating: 4,01, terbit 1987

Tentang Michelangelo yang melukis langit-langit Sistine Chapel.

“The book also gets inside his head as an artist as he designs and executes all of his work, especially his most beloved marble sculptures. I had no idea there are so many grades of marble and never thought about how arduous it was to extract the right marble out of the Roman hills. Or to move the finished sculptures to their designated locations.

The dense writing and length (760 pages) made it a slog for me to get through - but an exciting slog and I find myself thinking a lot about it. That's why I gave it five stars.”





T
he
Paris
Wife by Paula Mclain
Rating 3,74, terbit Februari 2011

Tentang kisah cinta Ernest Hemingway dan istri pertamanya, Hadley Richardson.

“A heartbreaking portrayal of love and torn loyalty, The Paris Wife is all the more poignant because we know that, in the end, Hemingway wrote that he would rather have died than fallen in love with anyone but Hadley.”











Madame Tussaud by Michelle Moran
Rating 3,99, terbit Februari, 2011

Tentang Marie Tussaud yang ahli membuat patung lilin.

“Spanning five years, from the budding revolution to the Reign of Terror,Madame Tussaud brings us into the world of an incredible heroine whose talent for wax modeling saved her life and preserved the faces of a vanished kingdom.”

Thursday, January 12, 2012

Historical Fiction Challenge 2012


Untuk blog yang baru lahir ini, aku mengikuti sebuah reading challenge dari blog luar. Ini persyaratannya:

During these following 12 months you can choose one of the different reading levels:
1. Severe Bookaholism: 20 books
2. Undoubtedly Obsessed: 15 books
3. Struggling the Addiction: 10 books
4. Daring & Curious: 5 books
5. Out of My Comfort Zone: 2 books

Nampaknya gampang sih, karena kita bisa memilih sendiri jenis tantangan kita. Aku memberanikan diri untuk menantang diriku sebagai “Struggling the Addiction”. Inilah buku-buku yang akan kubaca, yang seiring berjalannya waktu akan ku-update:

1. The Evolution of Calpurnia Tate by Jacqueline Kelly -- READ

2. Wanita by Paul I. Wellman -- READ

3. Juliet by Anne Fortier -- READ

4. Fall of Giants by Ken Follett -- READ

5. The Thorn Birds by Colleen McCullough -- READ

6. Genghis Khan: Badai Di Tengah Padang by Sam Djang -- READ

7. Pope Joan by Donna Woolfolk Cross -- READ

8. Selene (Cleopatra's Daughter) by Michelle Moran - READ

9. Pompeii by Robert Harris -- READ

10. Gadis Kretek by Ratih Kumala -- READ

11. Lust for Life by Irving Stone -- READ

12. Vivaldi's Virgin by Barbara Quick -- READ

13. Pontius Pilatus by Paul L. Maier -- READ

14. The Court of the Lion by Eleanor Cooney and Daniel Altiery -- READ

15. I, Claudius by Robert Graves -- READ


Tuesday, December 20, 2011

The Odessa File

Holocaust mungkin salah satu peristiwa besar dalam sejarah dunia yang paling banyak dibukukan. Dari kisah nyata hingga ke fiksi sejarah, ada begitu banyak buku yang telah terbit mengenai peristiwa kemanusiaan itu. Frederick Forsyth--penulis novel thriller politik pun tak ketinggalan mengangkat tema Nazi dan Holocaust ke dalam buku ini: The Odessa File.

Odessa dan SS

ODESSA (Organisation der ehemaligen SS-Angehörigen = organisasi mantan anggota SS)
SS (Schutz-Staffel = negara di dalam negara yang diciptakan Hitler di bawah Nazi, Jerman)
Singkatnya, anggota SS adalah mereka yang berkuasa pada jaman Nazi, termasuk para pemimpin kamp-kamp konsentrasi yang memusnahkan kaum Yahudi.

[Fakta] Setelah Jerman dikalahkan Sekutu pada akhir Perang Dunia II (1945), banyak anggota SS yang ketakutan*akan diadili dan dihukum sebagai penjahat perang. Mereka ini semburat melarikan diri ke negara-negara lain (Mesir, Argentina), mengganti identitas, dan menghilang begitu saja. Odessa didirikan untuk melindungi para mantan anggota SS ini, memfasilitasi agar mereka tak pernah ditemukan dan aman dari hukuman. Sekaligus, Odessa menanamkan konsep bahwa Holocaust adalah tindakan patriotik para mantan anggota SS itu.

Proyek Roket Mesir

[Fakta] Seperti kita tahu, Mesir adalah musuh bebuyutan Israel. Pada sekitar tahun 60-an, ketika Mesir dipimpin oleh Raja Farouk, mereka memulai proyek membangun roket pemusnah yang rencananya akan dipakai untuk memusnahkan Israel. Roket itu dibangun di negara Mesir, namun menggunakan ilmuwan-ilmuwan dari Jerman. Ketika rencana ini tercium oleh Israel, teror pun dialami oleh para ilmuwan Jerman itu. Diantaranya Prof. Wolfgang Pilz, yang mendapat kiriman sebuah bom yang kemudian meledak, dan merusak wajah sekretaris Pilz yang membukanya. ~Encyclopedia Astronautica. [Fiktif] Dalam buku ini, perekrutan ilmuwan Jerman untuk Mesir itu dilakukan oleh Odessa.

Pembunuhan John F. Kennedy

[Fakta] 22 November 1963 terjadi salah satu peristiwa menggemparkan, yaitu meninggalnya Presiden AS John F. Kennedy setelah tertembak ketika menaiki mobil. Meski kenyataannya hingga kini dalang di balik pembunuhan itu tak pernah terungkap, [Fiktif] versi buku ini mengaitkan pembunuhan Kennedy dengan Odessa. Dikisahkan Kennedy ngotot menekan Jerman untuk mengirimkan persenjataan ke Israel sebagai bagian dari kompensasi terhadap Israel. Karena pemimpin Jerman saat itu lemah, khawatir Amerika akan berhasil menekan Jerman, maka Odessa pun menghalangi pengiriman senjata itu dengan membunuh Kennedy.

The Odessa File (kisah fiksi di dalam bingkai sejarah)

Tokoh utama kisah ini adalah seorang wartawan berkebangsaan Jerman bernama Peter Miller. Pada hari ketika JFK terbunuh itu, ia sedang berkendara di atas Jaguar XK 150 S warna hitam dengan garis kuningnya, ketika tiba-tiba ada mobil ambulans meraung-raungkan sirenenya. Insting jurnalisnya langsung menyuruh ia membuntuti ambulans itu, karena siapa tahu ada peristiwa kebakaran atau kecelakaan yang patut diliput sebagai berita menarik? Miller tak sadar bahwa keputusannya saat itu akan mengubah seluruh hidupnya!

Ternyata hanya seorang pria renta yang bunuh diri dengan gas di apartemen kumuh; suatu peristiwa yang tak menarik siapa pun! Maka pulanglah Miller ke apartemennya, dan ke pelukan Sigi, kekasihnya yang seorang penari striptis. Namun esok paginya, polisi teman lama Miller datang dan membawakan sebuah buku harian milik si pria renta yang bunuh diri itu. Meski tak terlalu antusias, Miller membacanya sampai habis.

Namaku Salomon Tauber. Aku seorang Yahudi, dan akan segera mati.” Begitulah buku harian itu dimulai. Singkat kata, Mr. Tauber adalah salah satu keturunan Yahudi-Jerman yang berhasil selamat dari Holocaust, dari kamp konsentrasi di Riga yang konon telah memusnahkan 70.000-80.000 jiwa. [Fakta] *Komandan ghetto di Riga adalah anggota SS: Eduard Roschmann, yang terkenal dengan julukan ‘Jagal dari Riga’ berkat kekejamannya.* Sungguh menguras emosi membaca pengalaman dan pengamatan Tauber selama ia berada di Riga, khususnya sepak terjang Roschmann. Saat itu Tauber hampir putus asa karena penderitaan. Namun suatu hari ada seorang wanita yang, ketika sekarat, meminta agar Tauber tetap bertahan hidup demi menceritakan kepada dunia kekejian Nazi terhadap kaum Yahudi, bila kelak ia bebas. Itulah yang membuat tekad Tauber membara. Ia tak boleh mati! Ia harus dapat menggiring Roschmann hingga ke pengadilan untuk membayar nyawa orang-orang tak bersalah yang telah ia bantai.

wajah Eduard Roschmann, si Jagal dari Riga

Satu-satunya cara untuk tetap hidup adalah dengan menjadi Kapo (polisi Yahudi) yang bertugas membantu Nazi membawa tawanan ke tempat kerja atau bahkan ke tempat hukuman mati. Tauber mengambil resiko dikucilkan oleh teman-teman sesama Yahudinya demi bisa tetap hidup dan menceritakan kisahnya. Hingga suatu hari Tauber dipaksa Roschmann untuk menyerahkan Esther, istri tercintanya sendiri ke gerbong yang akan membawanya kepada hukuman mati!

Setelah menutup buku harian itu, Miller sekarang bukanlah Miller yang dulu. Ada sesuatu yang terjadi berkenaan dengan buku harian itu, yang akhirnya membulatkan tekadnya untuk menelusuri jejak Roschmann. Upaya yang tidak gampang, bahkan hampir mustahil. Karena, seperti telah kuulas di atas, para mantan SS ini telah berganti nama dan dilindungi Odessa. Berkali-kali upaya Miller mengalami jalan buntu, hingga ia bertemu dengan [Fakta] *seorang penyelidik kejahatan perang bernama Simon Wiesenthal* yang untuk pertama kalinya memperkenalkan organisasi Odessa kepada Miller. Tampaknya tak ada cara lain untuk menemukan keberadaan Roschmann, selain dengan menyusup ke dalam tubuh Odessa sendiri!

Lalu tiba-tiba saja sebuah organisasi bawah tanah Yahudi menawarkan untuk membantu Miller masuk ke Odessa. Kelompok ini ingin menyusupkan orang ke Odessa demi mendapatkan identitas para pelarian SS, untuk melenyapkan mereka. Mulailah penyamaran dipersiapkan, data dimanipulasi, paspor palsu disiapkan, informasi tentang identitas dan kebiasaan anggota Odessa dijejalkan ke otak Miller. Dan dalam waktu beberapa minggu, siaplah Herr Kolb (identitas baru Miller) memasuki jaringan Odessa, meski resikonya bila ketahuan adalah kematian.

Berhasilkah Miller dalam penyamarannya? Berhasilkah ia menemukan Roschmann? Dan apa sebenarnya lotif Miller mengambil resiko sedemikian besar untuk menemukan Roschmann? Semuanya akan terungkap setelah anda diajak Frederick Forsyth melalui serangkaian ketegangan khas thriller bertema politik dan konspirasi.

Tragedi kemanusiaan

Kali ini aku merasa diajak Frederick Forsyth memandang Holocaust dari sisi yang agak berbeda. Bukan melulu aspek manusiawi dan moral dari sisi kaum Yahudi saja, tapi justru dari sisi orang Jerman. Menurutku dengan melakukan Holocaust, Hitler sama-sama membawa kerugian bagi orang Yahudi maupun bagi bangsanya sendiri. Orang Yahudi kehilangan warganya, namun bangsa Jerman harus memikul dosa Nazi hingga ke generasi berikut(berikut)nya, meski mereka tidak ikut melakukan genosida, bahkan masih kecil atau belum lahir saat hal itu terjadi.

Lihat saja potongan pengalaman pahit Miller sendiri:

..di gereja Sacré Coeur…baru saja selesai upacara memperingati (kematian) seseorang. Beberapa orang keluar dan mereka mendengarkan aku berbicara bahasa Jerman dengan anak-anak lain. Seseorang di antara orang-orang itu berpaling dan meludahiku…. Apakah Ibu tahu apa yang telah diperbuat atas diri orang itu sebelum dia mati? Bukan oleh Ibu, Ayah atau aku, tapi oleh kita orang-orang Jerman, atau tepatnya Gestapo yang menurut jutaan orang sama saja. Aku diludahi bukan karena aku Gestapo, tapi karena aku seorang Jerman.” ~hlm. 136-137.

Pertanyaan yang mau tak mau juga mengemuka, apakah Holocaust itu dosa Nazi saja, atau dosa kolektif bangsa Jerman? Pertanyaan itu terjawab di buku ini:

..sebelum Hitler memulai, tidak seorang pun di Jerman yang membenci Yahudi. …Kemudian Hitler memulainya. Dia meyakinkan rakyat bahwa Yahudi lah yang bersalah menyebabkan Perang Dunia I. …Rakyat tidak tahu apa yang mesti dipercaya. Rakyat mempunyai kawan-kawan Yahudi, majikan-majikan Yahudi yang baik. ...ketika gerbong-gerbong itu datang dan membawa mereka pergi, rakyat tidak berbuat apa-apa. Mereka menyingkir, mereka diam. …Karena begitulah sifat manusia, terutama orang Jerman. Kita bangsa yang patuh. Inilah kekuatan kita, tapi juga kelemahan kita yang paling besar...ini yang membuat kita tunduk mengikuti orang seperti Hitler menuju jurang yang paling dalam.” ~hlm. 144-145.

Aku memberikan empat setengah bintang untuk buku ini. Boleh-boleh saja orang menyebut The Day of The Jackal sebagai karya terbaik Forsyth, menurutku memang begitu. Jackal nyaris sempurna sebagai karya tulis. Namun aku pribadi lebih menyukai pribadi Peter Miller yang lebih manusiawi ketimbang Jackal yang sempurna. Yang lebih aku sukai lagi adalah muatan emosional di kisah ini. The Odessa File bukan hanya menstimulasi logika (dan jantung) anda, namun ia juga akan membawa anda untuk sedikit merenung selama membaca buku ini.

Akhirnya, peristiwa holocaust memang telah menorehkan luka yang dalam bagi kemanusiaan di dunia, namun dari situ kita semua tentu juga belajar dari semua kekuatan maupun kelemahan pihak-pihak yang terlibat.

Judul: The Odessa File
Penulis: Frederick Forsyth
Penerjemah: Ranina B. Kunto
Penerbit: Serambi
Penyunting: Adi Toha
Terbit: November 2011
Tebal: 505 hlm

Tuesday, November 22, 2011

The Pilate's Wife

"Ketika Pilatus sedang duduk di kursi pengadilan, isterinya mengirim pesan kepadanya: "Jangan engkau mencampuri perkara orang benar itu, sebab karena Dia aku sangat menderita dalam mimpi tadi malam." (Mat 27:19)

Istri Pontius Pilatus mungkin saja takkan pernah dikenal dunia, kalau bukan karena campur tangannya dalam peristiwa penyaliban Yesus, meski perannya sangat kecil. Sejarah Claudia, nama sang istri Pilatus, juga tak banyak memberi kejelasan. Namanya pun hingga kini masih belum dipastikan, ada yang menyebutnya Claudia Procula, ada pula yang mencantumkan Claudia Procles. Dengan begitu minimnya data sejarah yang ada, memaksa Antoinette May--seorang jurnalis, untuk membuat tulisan mengenai Claudia sebagai karya fiksi bergenre historical fiction. Meski aku juga ragu apakah kadar sejarah dalam buku ini memang ada. Baiklah, kita mulai mengupasnya saja...

Kisah Istri Pilatus dimulai dari masa kecil Claudia di propinsi Galia. Ibu Claudia adalah sepupu Agrippina yang adalah cucu Kaisar Agustus. Agrippina menikah dengan Germanicus, seorang Panglima Tertinggi tentara Rhine, anak hasil adopsi kaisar yang saat itu memerintah, yaitu Tiberius (pada th. 16 Masehi). Ayah Claudia merupakan orang kedua di bawah Germanicus, sehingga keluarga Claudia pun harus hidup berpindah-pindah sesuai penugasan Germanicus. Sejak usia 10 tahun, Claudia telah menyadari bakatnya sebagai seorang peramal lewat media mimpi. Salah satu yang pernah hadir dalam mimpinya, adalah bahaya yang dihadapi Germanicus, paman yang amat disayanginya.

Sosok Germanicus dengan cepat menjadi pahlawan yang dicintai rakyat, dan semua orang pun yakin cepat atau lambat ia akan naik takhta menjadi kaisar berikutnya. Semua kecuali Tiberius, tentu saja. Sementara itu, Germanicus dan keluarga Claudia akhirnya masuk ke Roma. Suatu saat mereka semua pergi menonton pertunjukan gladiator di Circus Maximus bersama Tiberius. Saat itu Claudia berhasil menebak (atau dalam hal Claudia, meramal) pemenang pertandingan, yaitu seorang gladiator muda bekas budak bernama Holtan.

Lalu kisah pun bergulir mengenai sanak keluarga Claudia. Marcella--kakaknya tertangkap basah bercinta dengan Caligula, putra Germanicus, dan akhirnya dihukum oleh Ibu Suri Livia dengan menjadikannya Perawan Vesta. Caligula ini adalah salah seorang kaisar Romawi yang bengis dan setengah gila yang kita ketahui lewat sejarah. Kaisar Nero--yang melakukan pembakaran dan penyiksaan banyak umat Kristen di jaman Rasul Paulus, juga berasal dari keturunan Germanicus.

Bagaimana dengan Claudia? Di usianya yang beranjak dewasa, ia menemukan ketenangan dalam penyembahan dan pemujaan kepada Dewi Isis. Ia bahkan menjalani semacam 'tahbisan' sebagai pengikut Dewi Isis tanpa seijin orang tuanya. Pemujaannya ini agak menyimpang dari kebiasaan, karena dewi yang ia sembah adalah dewi Mesir. Selanjutnya, hingga ia dewasa, Claudia selalu menggantungkan dirinya pada pertolongan Isis, lewat benda bernama sistrum yang ia kenakan di lehernya sebagai semacam kalung jimat. Ada yang menarik saat Claudia pertama kali menginjakkan kaki ke kuil Isis. Di sana ia bertemu seorang pemuda misterius berusia 20 tahun yang matanya seolah mampu menembus jiwa. Pemuda itu memperkenalkan dirinya sebagai Yeshua, atau di Romawi disebut Yesus....

Saat tiba waktunya mencari jodoh, ia terpikat pada seorang pria muda yang karirnya sedang menanjak, bernama Pontius Pilatus. Saat itu Pilatus adalah centurion (perwira) yang baru mendapat kemenangan. Demi mendapatkan cinta Pilatus, Claudia pergi ke kuil Isis dan meminta semacam mantra dari pendetanya. Pilatus muda memang terpikat pada Claudia, namun jelas terlihat dari awal, bahwa itu bukan karena mantra. Ia mencintai Claudia karena keunikannya, karena pandangan-pandangannya yang ia hormati. Singkat kata, menikahlah Claudia dengan Pilatus.

Awalnya, hidup perkawinan mereka tampak indah dan sempurna. Namun tiba-tiba terjadi hal yang tak disangka-sangka. Germanicus tiba-tiba sakit keras, dan tak ada dokter yang bisa mengobati hingga ajalnya tiba. Desas-desus pun beredar bahwa Germanicus dikutuk. Pamor keluarga Claudia pun merosot karena berseberangan dengan sang kaisar. Saat itu Claudia mendapati dirinya hamil, namun sayangnya ia keguguran sehingga tak mampu memberikan putra yang didambakan Pilatus.

Entah karena itu, atau karena ambisinya, Pilatus segera saja memiliki beberapa kekasih, wanita-wanita berpengaruh di Roma. Meski pendeta Isis menenangkan Claudia, bahwa hanya dirinyalah yang dicintai Pilatus, Claudia menjadi tak bahagia. Di saat itulah, sang gladiator tampan dari masa remajanya, kembali memasuki hidupnya. Holtan segera menjadi kekasih gelapnya. Cinta Claudia kepada Pilatus pun segera pupus, bahkan putri yang akhirnya dilahirkan Claudia bagi suaminya, tak sanggup mengubah perasaan Claudia.

Kisah tentang kehidupan Claudia ini memenuhi hampir tiga perempat buku ini, sebelum peristiwa besar itu datang. Semuanya bermula ketika Pilatus ditugaskan Tiberius menjadi gubernur Romawi di Yudea. Di Yudea, Claudia bertemu dengan teman lamanya, seorang pelacur tingkat tinggi bernama Miriam dari Magdala. Kelak ia dikenal sebagai Maria Magdalena, pengikut Yesus yang setia.

Nah, bagian inilah yang membuatku kurang suka dengan karya Antoinette May ini. Miriam dikisahkan jatuh cinta, lalu menikah dengan Yesus di Cana. Aku sadar, bahwa karya ini adalah karya fiksi. Sama seperti karya-karya Dan Brown. Namun menurutku, May telah mengambil resiko terlalu besar. Dengan mengambil tema Istri Pilatus, tentu pembaca mengharapkan karya fiksi ini berhubungan dengan kisah Alkitab. Menurutku, jauh lebih baik bila May tetap mempertahankan kisah asli dari Alkitab, sambil menambahkan detail fiktif ke dalam karakter Claudia. Apalagi fakta yang ia ubah di sini sangatlah sensitif, yaitu mengenai Yesus. Entahlah, tapi bagiku pribadi, bagian ini sangat mengganggu keseluruhan kisah. Seorang penulis harusnya peka dalam menciptakan fiksi sejarah. Ada hal-h`l vital yang sebaiknya dibiarkan saja, dan menambahkan detail-detail yang kurang saja. Dengan cara yang ia ambil ini, May menjadi tak ubahnya (maaf) Dan Brown, yang mengumbar sensasi belaka ketimbang menyuguhkan historical fiction yang bermutu.

Kembali pada kisah Claudia, hasratnya pada Holtan makin menggebu hingga akhirnya ia pun selingkuh. Satu hal lagi yang rasanya aneh. Sejak awal Claudia lah yang 'ngebet' mendapatkan cinta Pilatus, sampai rela 'mengemis' mantra pada Isis. Pilatus akhirnya memhlih Claudia dan mencintainya sepenuh hati, namun tiba-tiba saja hati Claudia tertutup bagi Pilatus gara-gara godaan seorang gladiator. Terus terang saja, aku tak suka pada karakter Claudia yang plin plan sekaligus egois ini. Sepanjang kisah, terlihat bahwa Claudia sangat impulsif. Ia sering menempuh bahaya, hanya untuk memenuhi keinginannya. Bayangkan, seorang istri gubernur menerima Miriam yang pelacur di rumahnya, hanya karena Miriam sahabatnya. Atau ia nekad bertemu dengan selingkuhannya, Holtan, saat ia seharusnya mendampingi Pilatus dalam situasi kritis. Sungguh, Claudia itu wanita egois dan bodoh!

Memasuki seperempat terakhir buku ini, kisah memang meruncing, dan banyak bagian dari Alkitab dikisahkan di sini. Di antaranya pesta Herodes, di mana Salome--dipengaruhi Herodias ibunya, menari dan akhirnya meminta kepala Yohanes Pembaptis kepada Herodes yang tergiur pada kecantikan Salome. Masuknya Yesus menunggang keledai ke Yerusalem, dielu-elukan banyak orang yang membawa daun palem, juga diabadikan di sini. Dan akhirnya, penangkapan Yesus hingga dihadapkan pada pengadilan Pilatus. Claudia, yang sebelumnya sering mengalami mimpi mengerikan tentang pria bermahkota duri, segera menyadari nasib Yesus. Termasuk, bagaimana nasib Yesus itu juga akan mempengaruhi takdir Pilatus. Dalam mimpinya, ia melihat bahwa nama Pilatus akan terus bergema menjadi salah satu penyebab Yesus disalibkan. Karena itulah, ketika situasi makin genting, ketika rakyat berteriak-teriak minta Yesus disalibkan, Claudia pun mengirim pesan bersejarah itu kepada Pilatus.

Lukisan yang menggambarkan Yesus diadili oleh Pilatus

Tentu saja, akhirnya telah kita ketahui bersama. Tak mungkin seorang Antoinette May sanggup mengubah bagian 'yang ini'. Ada lagi bagian kecil yang membuatku muak juga, masih berkaitan dengan tokoh Miriam, setelah Yesus disalibkan. Mungkin sebaiknya tak kuungkap di sini, agar akhir kisah ini tetap terjaga, termasuk bagaimana keputusan Claudia untuk memberikan cintanya. Akankah ia berpaling pada Holtan, atau tetap bersama Pilatus?

Untuk semua alasan yang kuungkapkan di atas, tiga bintang kuberikan pada Istri Pilatus ini. Di luar kisahnya sendiri, penerbit Gramedia telah menyuguhkan sebuah kisah sejarah ber-setting Romawi dengan terjemahan yang bersih, dan desain cover yang menawan.

Judul: Istri Pilatus (Pilate's Wife)
Penulis: Antoinette May
Penerjemah: Ingrid Dwijani Nimpoeno
Desain cover: Marcel A.W.
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Juli 2011
Tebal: 544 hlm