Showing posts with label Empire-Dinasty. Show all posts
Showing posts with label Empire-Dinasty. Show all posts

Tuesday, April 9, 2013

The Flames of Rome


Historical fiction yang ditulis oleh seorang sejarawan memang memberikan sensasi yang berbeda dibanding dengan karya penulis biasa. Karya-karya Paul L. Maier contohnya; aku telah mengagumi karya beliau lewat Pontius Pilatus yang nyaris sempurna dalam keakuratannya (karena menggunakan dua sumber, yakni kitab suci dan sejarah). Dan dari sanalah aku langsung tertarik membaca historical fiction bertema Romawi dan Kristiani ini: The Flames of Rome.

The Flames of Rome mengambil kisah sejarah mulai pemerintahan Claudius Caesar, seorang kaisar Romawi yang terkenal gagap (‘Clau-Clau-Claudius’, demikian ia sering dipanggil dalam olokan), dan selalu saja salah memilih istri yang di kemudian hari berambisi merebut tahtanya. Istrinya yang terakhir adalah Agrippina, yang berambisi menaikkan putranya Nero menjadi kaisar. Singkat kata Agrippina berhasil, dan Nero pun naik menjadi Kaisar pada tahun 54 di usia yang baru tujuhbelas.

Meski darah ibunya yang serakah dan tak bermoral mengaliri nadinya, Nero tak serta merta sesadis sang ibu, berkat didikan Seneca—seorang filsuf penganut aliran stoic yang menjadi tutor sang Kaisar—bersama Burrus—Kepala Prefek Roma. Di saat-saat awal pemerintahannya, Roma berharap banyak bahwa akhirnya mereka akan menikmati masa-masa sejahtera. Sayangnya, jerih payah Seneca untuk menjadikan Nero kaisar yang beradab dan berwawasan dimentahkan oleh pengaruh negatif kawan-kawan seumuran sang kaisar yang mengajaknya berbuat kriminal sehingga meresahkan rakyat. Ditambah dengan karakter Nero sendiri yang picik dan sangat ketakutan tahtanya akan direbut, maka akhirnya hasutan sahabat-sahabatnya makin membuat tingkah Nero brutal dan tak bermoral. Sekali lagi….Roma dibayang-bayangi keruntuhan moral yang membuat bangsa yang pernah dikatakan sebagai pusat dunia itu kini ditertawakan orang, Roma yang membangga-banggakan peradabannya, kini dipenuhi kebiadaban dan kemaksiatan.

Namun, pada saat-saat seperti itu, masih ada bangsawan Roma murni yang masih mempertahankan integritas dan hati nuraninya, seperti Aulus Plautius dan Titus Flavius Sabinus. Meski kisah ini ditulis dari sudut pandang orang ketiga, namun jelas bahwa Maier ingin meletakkan Sabinus sebagai pusat cerita. Pulang dari penaklukan Inggris bersama Claudius Caesar, Sabinus adalah anak buah Aulus Plautius. Pada hari penyambutan para pahlawan ini, mata Sabinus tertumbuk pada seorang gadis manis yang ternyata adalah Plautia, putri Plautius.

Kisah cinta Sabinus dan Plautia ini cukup memberi warna segar pada kisah sejarah yang menjijikkan dan penuh kekejaman ini. Rupanya, meski seorang sejarawan yang biasa menorehkan karya-karya serius, Maier cukup renyah membahas karakter Sabinus yang hangat, humoris, cakap menjalankan tugas sebagai negarawan, berani menentang kejahatan, teguh berpegang pada nilai-nilai kebenaran dan mau menggunakan hati nuraninya. Aku kagum pada Sabinus yang—ketika dipaksa oleh Ratu Agrippina berselingkuh—berani dengan tegas menolak ajakan sang Ratu, meski ia tahu konsekuensi berat menantinya saat sang Ratu akan membalas dendam atas penolakannya. Dan saat bencana itu datang, Sabinus dengan terus terang mengakui apa yang telah terjadi, yang menjadi sumber kemarahan sang Ratu. Benar-benar sosok yang berharga bagi Roma. Dan Sabinus pun akhirnya mendapatkan kepercayaan dari Nero, sebagai Prefek Kota, jabatan tertinggi di kota Roma sendiri.

Namun, meski Sabinus bersama Seneca selalu berusaha meredam sisi liar sang Kaisar, pengaruh buruk dari sahabat dan istrinya begitu kental pada Nero sehingga ia makin lama makin tak terkendali, terutama setelah ia membunuh semua orang yang berpotensi merebut kekuasaannya. Pada masa-masa itulah ‘sekte’ baru yang disebut Kristiani—atau pengikut nabi yang mati di salib di Yudea yang disebut Kristus—perlahan-lahan merembes memasuki kerajaan Romawi, bahkan di kota Roma sendiri, dan di istana Kaisar serta keluarga para Senator Roma. Maier mengajak kita mengenal Paulus, Petrus, Lukas dan Markus, juga warisan yang mereka tinggalkan bagi kita hingga saat ini.

Menarik juga membaca bagaimana—menurut analisa Maier yang masuk akal—Paulus menyebarkan Kekristenan terutama di Roma. Di sini dikisahkan juga pengadilan Paulus di depan Nero, di mana sang Kaisar terpukau oleh sikap dan tatapan mata Paulus—atau bisa jadi itu adalah karya Roh Kudus!—akhirnya membebaskan sang Rasul. Namun karena jemaat Kristiani pertama memang harus menanggung derita yang sangat hebat demi penyebarannya yang kelak mendunia, maka seperti yang telah tertoreh pada lembar sejarah, umat Kristen menjadi kambing hitam kepengecutan Nero.

Saat itu Roma dilanda kekeringan hebat, dan ketika salah satu rumah di kawasan kumuh nan sesak terbakar, dengan cepat angin Rococo menghembuskan bara api ke segala penjuru, dan akhirnya terjadilah kebakaran hebat yang bahkan membakar kawasan istana Nero. Ketika rakyat yang kelaparan mengharapkan kemurahan hati Kaisar, Nero malah merencanakan pendirian istananya yang super megah. Ini membuat rakyat marah, dan untuk meredam amarah mereka, orang-orang terdekat Nero menghembuskan ide untuk mencari ‘kambing hitam’. Ditambah dengan kecurigaan Roma dan kebencian kaum Yahudi selama itu, terjadilah pembantaian mengerikan terhadap jemaat Kristiani itu.

Maier dengan berani menyajikan kekejian itu tanpa ditutup-tutupi, karena betapapun buruknya, itu adalah kenyataan yang benar-benar terjadi. Dan kekejian itu nyatanya memang harus terjadi, karena sejak saat itulah justru kekristenan tumbuh makin pesat ke seluruh dunia, dan Roma-pun menjadi pusatnya. Sayangnya Maier tidak memberikan semacam catatan tentang keterkaitan antara Titus Fabinus Clemens (putra Sabinus) dengan Paus Clement. Ada yang mengatakan Paus Clement I adalah budak-yang-sudah-dibebaskan dari Clemens, namun tak ada catatan yang pasti. Kemungkinan, Clemens—putra Sabinus—akhirnya menjadi Kristen, hal yang tak mengherankan, sebab neneknya (ibu Plautia) sudah menjadi pengikut Kristus berkat ajaran Paulus. Dari buku ini aku pun menyadari bahwa Sabinus sebenarnya sangat “Kristen” meski ia tak memeluk agama itu, mengingat prinsip hidupnya yang tak segan berkorban bagi rakyat. 

Empat bintang untuk kisah ini, karena meski aku sangat menikmatinya, namun begitu banyaknya typo menyebabkan kenikmatan membaca sungguh ternoda…

Friday, November 16, 2012

Genghis Khan 2: Badai Di Tengah Padang


Bila di buku pertama kita diajak melihat rekam jejak Temujin kecil hingga bagaimana ia mulai merealisasikan cita-cita mempersatukan Dataran Mongolia, maka di bagian kedua ini kita akan menelusuri berdirinya Imperium Mongol—imperium terbesar yang pernah ada dalam sejarah manusia—dan bagaimana sepak terjang Genghis Khan—sang Ka-Khan yang dulunya bernama Temujin—melakukan ekspansi hingga ke Eropa dan Afrika.

Di akhir buku pertama Temujin telah melakukan aliansi dengan Wang Khan dan memenangkan beberapa pertempuran, yang membuat semua klan-klan di dataran Mongolia waspada. Salah satunya Jamuka, anda Temujin yang memiliki satu visi namun beda pandangan pada cara pencapaiannya. Jamuka mulai mencari dukungan klan-klan lain untuk mengenyahkan Temujin sebelum ia semakin hebat. Salah satu caranya dengan memutuskan hubungan baik Wang Khan dan Temujin lewat putra Wang Khan—Nilka Senggum—yang iri karena Temujin dijadikan urutan pertama calon penerus sang ayah.

Namun bagi Temujin, untuk memenangkan pertempuran, kau tidak harus memiliki jumlah prajurit sama dengan atau lebih besar daripada lawan. Bahkan dengan jumlah prajurit seperempat dari lawan, kau bisa menang jika menerapkan strategi yang tepat. Ketika henda menyerang China dan berhadapan dengan Tembok Besar nan perkasa, Genghis Khan berkata dalam hati: “Tidakkah mereka tahu bahwa tembok pelindung sejati semestinya dibangun di dalam benak mereka?” Dan memang dalam ratusan perang yang dijalani bangsa Mongol di bawah pimpinan Genghis Khan, mereka bukan saja mempraktekkan aneka strategi yang cerdik, namun juga menciptakan banyak alat dan teknologi baru untuk perang pada jaman itu, salah satunya adalah meriam.

Kembali pada perseteruan Temujin vs Jamuka, kita tentu tahu siapa yang akhirnya menang. Setelah banyak peperangan dan pengkhianatan yang ia hadapi, Temujin akhirnya dapat mendeklarasikan Imperium Mongol yang mempersatukan banyak klan yang tadinya tersebar dan saling bermusuhan, kini menjadi sebuah kekuatan yang menakutkan. Ketika Jamuka akhirnya tertangkap dan dihadapkan ke Temujin—yang tetap menganggapnya sahabat masa kecil yang disayanginya—Jamuka mengakui apa yang menyebabkan kegagalannya. Menariknya, Jamuka ternyata menyadari bahwa kurangnya kasih sayang di masa kecilnya lah yang menyebabkan ia tak mampu menjadi pemimpin yang baik, yang lalu mengandaskan impiannya. Aku turut terharu saat Temujin harus berpisah dengan Jamuka, karena meski ia selalu menyayangi anda-nya, Temujin pun tahu bahwa selama salah satu dari mereka tidak binasa, maka cita-cita besar mempersatukan Dataran Mongolia takkan pernah terwujud.

Selanjutnya kita diajak menyaksikan peperangan demi peperangan yang dilancarkan Genghis Khan tanpa henti selama bertahun-tahun lamanya, dan menambahkan daerah taklukannya hingga terus melebar dan meluas. Pertanyaan kita mungkin, bagaimana seorang Genghis Khan dapat mempersatukan klan-klan Mongol yang barbar dan memimpin negara-negara jajahannya yang notabene jauh lebih maju? Ini yang sangat menarik! Di satu sisi Genghis menerapkan aturan yang sangat ketat bagi masyarakat maupun bagi prajurit Mongol, yang disebut yassa. Aturan-aturan ini dibuat agar moral rakyat menjadi semakin baik, karena bagi pelanggar, hukumannya adalah pemenggalan kepala! Banyak korban berjatuhan pada saat pertama yassa diberlakukan, namun seiring berjalannya waktu, mereka menjadi semakin terbiasa untuk taat pada aturan, dan akhirnya bangsa Mongol dapat meninggalkan kebejatan moralnya di masa lalu. Sebuah pelajaran yang harusnya diterapkan di negeri kita!

Di sisi lain Genghis sangat adil memperlakukan bawahannya. Mereka yang kompeten, setia, dan memiliki jasa terhadap negara, akan menikmati jabatan, kekayaan dan privilese bagi anggota keluarganya. Dan hal ini diberlakukan sama-rata untuk semua, tanpa pandang suku, agama, kaya-miskin, status sosial dsb. Tak ada bedanya apakah kau berasal dari keluarga penggembala ternak atau putra kepala suku, asal kau punya kemampuan, kau akan mendapatkan kesempatan. Genghis selalu menepati janji yang pernah ia buat, dan konon ia makan dan berpakaian yang sama dengan semua bawahannya. Pendek kata, Genghis pemimpin yang peduli rakyat, pandai menilai karakter orang, melindungi mereka yang ia pimpin, membawa mereka pada kesejahteraan, dan tak pernah melupakan janjinya. Tipe pemimpin idaman, bukan?

Dengan kemampuannya memimpin serta strategi perang yang mumpuni—dan ia mempelajari strategi perang itu dari pengalaman hidup sehari-hari yang tak pernah luput dari pengamatan tajam Genghis—akhirnya Genghis Khan mampu mewujudkan cita-citanya, mempersatukan bangsa Mongol dan menjadikannya salah satu imperium yang paling disegani pada masanya.

Satu hal yang (kembali) aku sadari setelah membaca buku ini, bahwa letak geografis dan sumber daya yang dimiliki suatu negara atau masyarakat sangat menentukan pembentukan watak masyarakatnya. Dataran Mongol adalah dataran yang sangat sulit dihuni dengan sumber daya alam yang minim,  membuat masyarakatnya hidup secara nomaden. Mereka hanya dapat bertahan hidup jika memiliki fisik yang tangguh dan determinasi yang kuat, bahkan kuda-kuda asal Mongol yang tubuhnya pendek kekar sangatlah kuat. Mereka konon bisa mendapatkan makanan di hamparan salju dengan cara mengeruk lapisan salju dengan kaki mereka.

Kunci sebagian besar kemenangan pasukan Mongol melawan lawan yang jauh lebih besar dalam jumlah prajurit maupun kekayaan, adalah kecepatan, persatuan, dan pantang menyerah. Meski sedang terpisah, pasukan-pasukan Mongol telah mengembangkan system komunikasi yang amat cepat sehingga mereka dapat berkumpul kembali dalam waktu singkat, bila diperlukan. Dan tentang pantang menyerah, tak perlu dikisahkan lagi. Untuk mengejar salah satu musuh bebuyutan mereka yang tak kunjung menyerah, salah satu anak pasukan Genghis melakukan perang dan pengejaran selama delapan tahun, sejauh ribuan kilometer, dan akhirnya berhasil. Pasukan Mongol tak punya rasa takut terhadap kematian, karena meninggal di medan perang adalah tujuan hidup mereka. Salut pada Imperium Mongol, dan tentu saja… Genghis Khan! Empat bintang untuk buku ini, kurang 1 bintang dari sempurna karena banyak bagian yang benar-benar keji, meski untuk situasi masa itu amat wajar.

Judul: Genghis Khan 2: Badai Di Tengah Padang
Penulis: Sam Djang
Penerjemah: Reni Indardini
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: Juni 2011
Tebal: 478 hlm.

Tuesday, October 30, 2012

I, Claudius


Tiberius Claudius Drusus Nero Germanicus memerintah Kerajaan Romawi pada tahun 41, menggantikan kemenakannya Caligula yang dibunuh oleh anak buahnya sendiri. Robert Graves menulis novel historical fiction tentangnya ini dalam bentuk memoir, seolah-olah Claudius sendiri—demikian ia dipanggil—mengisahkan segala yang ia lihat dan alami sepanjang hidupnya; setidaknya bagaimana ia, yang sejak lahir disepelekan orang, mampu mencapai tahta tertinggi Romawi, yang kala itu merupakan monarki terbesar di dunia.

Claudius adalah sosok yang berkarakter menarik, itu aku sadari hanya dengan membaca beberapa halaman pertama buku ini—kalau Robert Graves benar-benar dapat menangkap karakternya dengan tepat. Claudius dilahirkan sebagai anak yang sakit-sakitan. Ada yang tak beres dengan lututnya, meski kedua tangannya terbilang kuat. Ia juga sering gagap saat berbicara, terutama ketika gugup atau emosi. Pamannya, Kaisar Tiberius menjulukinya sebagai ‘Clau Clau Claudius’. Karena kekurangannya ini—kelak ditengarai Claudius menderita semacam polio—ia dijauhi oleh semua orang, termasuk ibunya yang menganggap Claudius idiot, dan neneknya Livia yang bahkan tak pernah mau makan semeja dengan Claudius yang dianggap menjijikkan.

Dari segi keturunan, Claudius adalah cucu dari Augustus dan Livia dari garis ayahnya Drusus (Drusus adalah putra Kaisar Tiberius—putra Livia dari suami pertama namun diadopsi oleh Augustus); juga cucu dari Marc Antony dan Octavia dari garis ibunya Antonia. Karena sejak awal telah dijauhkan dari politik oleh Augustus, Claudius menekuni sejarah dari para sejarawan yang tersohor saat itu. Kelak saat Claudius remaja, Augustus pernah tercengang ketika mendengarkan sang cucu berorasi dengan sangat baik (ia mendengarkan diam-diam dari balik tirai, karena jika Claudius mengetahui kehadiran Augustus, gagapnya akan langsung timbul).

Sepanjang hidupnya sebelum menjadi Kaisar, Claudius telah mengamati—dan merekamnya dalam tulisan-tulisannya—kiprah keluarga besarnya dalam politik yang kotor dan kejam. Kita dapat melihat bagaimana Kaisar Augustus sebenarnya didominasi oleh Livia yang ambisius dan banyak membunuh cabang-cabang keluarga mereka kalau dilihatnya orang tertentu akan menghalangi rencananya, yaitu agar garis keturunannya dapat menjadi Kaisar menggantikan Augustus. Setelah Augustus wafat, Tiberius menggantikannya, dan tetap dibayang-bayangi Livia, menjadikan Roma sebagai tempat jagal manusia, dengan tak terhitung banyaknya senator atau anggota keluarga diseret ke pengadilan dengan tuduhan palsu untuk dihukum mati.

Ketika Tiberius akhirnya meninggal, semua orang bersorak-sorak gembira menyambut penggantinya, Caligula (kemenakan Claudius). Tak banyak yang mengetahui perangai asli Caligula yang sadis dan angin-anginan. Claudius yang selama pemerintahan Tiberius berhasil ‘tetap hidup’ di tengah ramainya pengadilan palsu, justru makin menderita saat pemerintahan Caligula. Namun hebatnya, dengan berpura-pura bodoh, dan se-lemah yang dikira orang, Claudius berkali-kali berhasil menghindar dari maut. Hingga akhirnya para bawahan Caligula muak, lalu mereka berkonspirasi membunuh Caligula. Dan karena Claudius satu-satunya marga Julio-Claudian laki-laki yang masih hidup dan dalam usia untuk memerintah Roma, maka mereka memaksanya menjadi Kaisar.

Hingga di sinilah kisah ini berakhir; namun meski Graves tak mengisahkan bagaimana Claudius memerintah Roma, dari buku dan artikel yang kubaca, rupanya Claudius berhasil ‘membawa kembali Romawi ke jalan yang benar’, ia mengelola administratif pemerintahan dengan  tertib, dan rakyat pun kembali merasa aman. Claudius juga berhasil melebarkan ‘sayap’ penaklukan Romawi ke daerah lain, dan ekonomi negara pun berangsur-angsur pulih setelah dihambur-hamburkan dengan semena-mena oleh Caligula.

Satu hal yang menarik tiap kali membaca novel-novel sejarah bertema Romawi, kita akan menemukan lebih banyak lagi kisah tentang tokoh-tokoh lainnya, sehingga setelah membaca banyak buku, lama-lama kita akan dapat membentuk ide tentang masing-masing tokoh, lebih lengkap daripada membaca novel tentangnya! :)

Sebagai kisah sejarah, buku ini termasuk ‘berat’, alih-alih berkonsentrasi pada kisah Claudius saja, Graves—menurutku—terlalu lebar mengisahkan tokoh-tokoh lain, misalnya mengikuti dengan detil kronologi perang Germanicus melawan Jerman. Akhirnya aku merasa bahwa Claudius terlalu banyak berada di balik layar, padahal ada banyak hal yang lebih ingin kuketahui tentang diri Claudius, misalnya bagaimana ia memperlakukan para pembunuh Caligula, atau apakah ia menepati sumpahnya pada Livia untuk menjadikannya Goddess, dan yang terutama bagaimana ia memerintah Romawi, apa saja sumbangsihnya bagi Roma, kecuali buku-buku sejarahnya. Sayang….semuanya terhenti di halaman terakhir.

Namun bagaimana pun juga, Graves telah berhasil membuka kisah salah satu Kaisar Romawi yang tak diperhitungkan orang, yang tak gagah perkasa, namun toh dapat membawa kerajaan terbesar di dunia itu ke sebuah era yang lebih makmur dan sejahtera.

Empat bintang untuk I, (Clau-Clau-) Claudius!

Judul: I, Claudius
Penulis: Robert Graves
Penerbit: Vintage Books
Tebal: 433 hlm

Monday, August 13, 2012

Cleopatra’s Daughter – Selene


Nama Cleopatra sang Ratu Mesir pasti sudah pernah mampir ke telinga kita, namun jarang yang mengenal anak-anaknya. Dalam historical fiction yang kuulas ini, Michelle Moran mengisahkan sejarah Romawi dalam kurun waktu abad 31 SM hingga sekitar 26 SM. Abad 31 SM tercatat dalam sejarah sebagai kekalahan armada laut milik Markus Antonius dan Cleopatra yang saat itu memerintah Mesir terhadap pasukan Oktavianus. Oktavianus ini kelak kita kenal dengan nama Kaisar Augustus, yang sebelumnya bersama Markus Antonius dan Lepidus merupakan para pendukung Julius Caesar. Markus Antonius dan Ratu Cleopatra akhirnya harus menemui ajal dengan bunuh diri setelah kekalahan mereka, sementara tiga orang keturunan mereka: si kembar Cleopatra Selene dan Alexander Helios serta Ptolemeus dibawa Oktavianus ke Roma bersama harta benda Ratu Cleopatra.

Kisah ini dituturkan lewat sudut pandang Selene, seorang anak perempuan yang pada usia sebelas tahun telah memperlihatkan kecerdasannya berkat didikan ibunya di Mesir. Ketika tiba di Roma, Selene dan Alexander hanya tinggal berdua, karena Ptolemeus meninggal karena penyakit selama perjalanan di kapal. Meski keduanya tinggal bersama Oktavia—kakak perempuan Oktavianus yang saat itu menjadi Caesar Roma, yang juga istri pertama Markus Antonius sebelum memperistri Cleopatra—diperlakukan dengan sangat baik sebagai tamu keluarga. Selain Oktavia sendiri, ada putranya Marcellus yang menjadi kandidat kuat pewaris jabatan Caesar bersama dengan Tiberius, putra tiri Oktavianus (anak istrinya Livia dengan suami pertama). Marcellus yang gagah dan tampan segera menarik hati Selene, sayangnya Marcellus telah dijodohkan dengan Julia—putri Livia dengan Julius Caesar. Hingga saat ini anda tentu bingung membaca pertalian keluarga yang rumit ini, namun begitulah yang terjadi dalam sejarah, anda hanya harus terus membaca buku ini, dan lama kelamaan akan terbiasa juga.

Sebagai anak yang dibesarkan di Alexandria, ibu kota Mesir yang sangat tinggi peradabannya, penuh keanggunan dan kemewahan, Selene dan Alexander terkejut ketika melihat kerajaan Romawi yang kotanya carut marut dan moral penduduknya rendah. Di sepanjang kisah ini, Moran mengajak kita menyaksikan sejarah Romawi bergulir lewat sudut pandang Selene, terutama sejarah di seputar pemerintahan Oktavianus atau Kaisar Augustus.

Beberapa hal mencolok yang dapat kita catat dari Oktavianus adalah kepercayaannya pada peramal dan hal-hal gaib yang mempengaruhi pengambilan keputusan. Memang saat itu sebelum diadakan sesuatu yang penting, peramal harus menyembelih hewan dan melihat isi perutnya untuk menentukan apakah dewa-dewa merestui rencana itu untuk dilaksanakan atau tidak. Namun yang sering aku baca di buku-buku tentang Romawi saat itu, ritual itu hanyalah sekedar formalitas belaka. Tapi hal itu tidak berlaku untuk Oktavianus, beliau benar-benar mempercayainya.

Hal lain yang menarik adalah timbulnya pergerakan menentang perbudakan. Ada seorang pemberontak yang menamakan dirinya Elang Merah (tambahan fiktif di novel ini) yang menjadi duri dalam daging kekuasaan Oktavianus. Meski Elang Merah hanya rekaan, namun dari tulisan-tulisan sejarah, terlihat bahwa gerakan menentang budaya perbudakan memang telah ada pada jaman itu. Selene, Alexander, Oktavia, Marcellus dan seorang budak bernama Gallia adalah beberapa yang memiliki keprihatinan terhadap kesemena-menaan terhadap kaum budak.

Oktavianus juga dikenal sebagai kolektor barang-barang antik dan suka membangun gedung-gedung indah seperti halnya kebiasaan di Romawi saat itu. Selene kebetulan memiliki minat pada arsitektur—berkat pendidikannya di Mesir—dan sangat suka menggambar sketsa. Oktavianus menyetujui Selene untuk belajar arsitektur pada seorang guru saat itu, meskipun wanita yang berkecimpung dalam pembangunan gedung saat itu sangat langka.

Salah satu yang membuatku kagum adalah langkah yang diambil Oktavianus untuk mengukuhkan kekuasaannya secara mutlak. Tanpa tanda-tanda apapun, tiba-tiba suatu hari Oktavianus mengumumkan bahwa dirinya akan meletakkan jabatan sebagai Caesar. Kontan Senat dibuat panik, mereka membujuk Oktavianus untuk mengurungkan niatnya, karena Roma pasti akan hancur tanpa pemimpin yang memiliki wibawa. Sebenarnya Oktavianus sudah memperhitungkan langkahnya ini, ia tahu bahwa tak ada yang mampu memimpin Roma saat itu selain dirinya. Dan benar saja, dalam rangka membujuk Oktavianus, Senat menganugerahkan gelar Augustus kepadanya dan memberikan kuasa sepenuhnya selama sepuluh tahun ke depan yang tak dapat diambil darinya. Betapa penuh perhitungan sang Augustus ini, seorang pria kurus yang sakit-sakitan namun memiliki tekad dan hati sekuat baja.

Selene mengalami semuanya itu sementara dirinya sendiri tumbuh makin dewasa bersama Alexander, Julia dan Marcellus. Dari seorang anak kecil yang cerdas dan berkemauan kuat, kita akan diajak melihat Selene yang memiliki khasrisma yang memancar kuat dari dirinya. Suatu hal yang dikagumi oleh Marcellus—meski ia tetap mencintai Julia, dan menumbuhkan perasaan cinta di hati seorang pria yang selama ini seolah ada di balik layar, meski dari semula aku sudah menduga bahwa ada sesuatu dalam diri si pria yang membuatnya selalu melindungi Selene.

Kisah ini cukup menarik, hanya saja aku kurang merasakan kedekatan emosional saat aku membacanya. Aku hanya merasa seperti mengikuti kisah hidup Selene dan semua yang terlibat di sekitarnya dari jauh. Aku tak merasakan greget seperti saat aku membaca Imperium dan Conspirata, di mana aku merasa seolah aku sendiri terseret masuk ke jaman Cicero masih hidup di Roma. Sebenarnya aku mengharapkan lebih dari seorang Michelle Moran yang telah banyak menuliskan fiksi sejarah, namun itulah yang kudapati di kisah ini. Lumayan menarik namun hambar.

Tiga bintang untuk Selene!

Judul: Selene Putri Sang Cleopatra (judul asli: Cleopatra’s Daughter)
Penulis: Michelle Moran
Penerjemah: Sujatrini Liza
Penerbit: Esensi
Terbit: November 2009
Tebal: 499 hlm.

Friday, April 27, 2012

The Court of the Lion (1)


Pada tahun 738, Dinasti Tang sedang berkuasa di tanah China, lewat tangan Kaisar Minghuang. Jaman itu merupakan salah satu jaman keemasan yang dinikmati rakyat. Sang Kaisar memimpin dengan adil serta cakap, baik dalam mengelola kesejahteraan rakyat maupun memelihara keamanan di dalam negeri. Namun, keamanan itu nampaknya semu, karena justru di balik dinding-dinding tinggi istana kekaisaran itu sendiri sedang muncul riak-riak pertama awal sebuah badai politik. Inilah inti dari kisah The Court of the Lion yang dikisahkan oleh Eleanor Cooney bersama Daniel Altieri.

Cerita bermula dari kamar tidur Putri Wu, salah satu istri Kaisar yang—meski paling banyak menyumbangkan keturunan bagi penerus tahta—namun bukan merupakan kesayangan Kaisar yang menganggapnya terlalu subur. Justru Permaisurinya yang cantik, ramping karena tak pernah bersalinlah yang memiliki tempat teristimewa di hati Kaisar sebagai Istri Kesayangan. Dasar manusia yang serakah dan tak pernah puas, segera tumbuh iri hati di antara keduanya karena tak memiliki kelebihan yang tak dimiliki lainnya. Di titik ini, mulailah terjadi intrik politik di istana para istri. Ya, para wanita ternyata memiliki cara tersendiri dlam berpolitik di dalam istana!

Diawali dengan munculnya bunga-bunga artifisial yang ternyata berisi puisi bernada menghasut, dan disusul oleh munculnya penyihir yang konon berusia 100 tahun dan tinggal di salah satu sudut istana. Lalu mulailah petaka datang. Awalnya kematian putra mahkota, lalu disusul terbongkarnya rahasia Istri Kesayangan yang menyebabkannya diasingkan dan akhirnya bunuh diri. Dua bencana susul menyusul itu membuat Kaisar amat sedih lalu menjauhkan diri dari pemerintahan untuk mengurung diri di kamarnya untuk bersedih. Sementara itu roda pemerintahan sementara dikendalikan Perdana Menteri Li Lin-fu yang cerdik dan ambisius.

Melihat Kaisar murung, Kepala Kasim Kao Li-shih tak tinggal diam. Meski ia “hanya” seorang kasim, jangan dikira ia tak paham tentang politik. Justru karena ia banyak beredar di istana, ia amat paham akan intrik dan politik yang diam-diam terangkai di sekitarnya. Apalagi ketika seorang penyair istana hendak memberitahukan sesuatu yang maha penting kepada Kao Li-shih, namun si penyair justru lenyap tanpa bekas pada hari mereka seharusnya bertemu. Melihat Li Lin-fu yang makin agresif, Kao Li-shih tiba pada kesimpulan, bahwa Kaisar Minghuang harus ‘dihidupkan’ kembali, sebelum dinasti ini jatuh ke tangan pemberontak. Namun apa yang mampu membangkitkan sang Kaisar dari keterpurukan?

Kupikir, hanya seorang Kepala Kasim lah yang akan mampu memikirkan (sekaligus mengeksekusi dengan sempurna) sebuah rencana halus yang akan mengubah suasana di istana…

Buku yang kubaca ini adalah bagian pertama dari tiga buku, jadi mungkin wajar kalau di awal cerita (terlalu) banyak penjelasan yang panjang lebar tentang masing-masing tokoh yang akan mengambil peranan penting di keseluruhan cerita. Tapi kadang-kadang aku tak merasa perlu untuk mendalami—misalnya—masa muda Kao Li-shih hingga ia menjadi kasim. Kalau penjelasan itu singkat, hanya untuk memberikan gambaran tentang karakter si Kasim, aku maklum. Namun menurutku menjadikannya beberapa halaman sungguh tak perlu (aku melompati bagian ini dan toh tak merasa terganggu membaca bagian berikutnya).

Sejauh ini, The Court of the Lion menggambarkan intrik di dalam istana dengan cerita yang berbelit dalam paragraf-paragraf panjang, tepat seperti bagaimana intrik itu dijalankan—licin dan berbelit—sehingga mungkin saja orang luar tak pernah menyadarinya. Cerita hanya berderap agak cepat ketika beralih ke tokoh An Lu-shan, mantan budak yang moncer karir politiknya, sehingga direkrut oleh Perdana Menteri Li Lin-fu untuk memperkuat militernya. Kelak di buku berikutnya, aku percaya An Lu-shan akan mengambil peranan lebih banyak dan penting daripada di buku pertama ini.

Kesan keseluruhanku terhadap buku ini…lumayan melelahkan untuk dinikmati, tapi tetap membuat penasaran juga… Tiga bintang untuk The Court of the Lion ini!

Judul: The Court of the Lion (1)
Penulis: Eleanor Cooney & Daniel Altieri
Penerjemah: Fahmi Yamani
Penerbit: Serambi

Terbit: Februari 2012

Tebal: 585 hlm

Friday, February 17, 2012

The Female (Wanita)

"..Sepanjang sejarah tak ada seorang wanita... pasti juga tak seorang lelaki pun... pernah melaksanakan seperti apa yang telah dilaksanakan Theodora: satu langkah naik yang begitu perkasa." ~hlm 521.

Pepatah mengatakan, kehidupan manusia itu seperti roda, sekarang kita berada di atas, lalu suatu hari kita pun akan berada di bawah. Namun kehidupan Theodora adalah contoh sebuah paradoks yang sempurna. Ia pernah mengalami kehidupan yang terbawah dari yang paling bawah, namun pernah juga ia berada di puncak dari segala kekuasaan. Ya, Theodora adalah wanita paling berpengaruh di kerajaan Romawi. Ia lah Maharani yang memerintah Kekaisaran Romawi (Byzantium) di abad 600, sekaligus istri Kaisar Justinianus I.

Kisah ini bersetting di Konstantinopel, pusat pemerintahan Kerajaan Romawi pada saat pemerintahan Raja Justinus. Theodora adalah putri seorang pelacur jalanan kelas terendah. Saat itu ada dua kelompok rakyat di Konstantinopel yang selalu berseberangan: kelompok Hijau dan Biru, yang masing-masing biasanya membela pihak yang berlawanan saat pertandingan gladiator di Hippodrome. Theodora kecil sudah akrab dengan kehidupan strata masyarakat terendah. Ia berkawan akrab dengan seorang pengemis lumpuh buruk rupa yang selalu duduk di atas keledai, bernama Hagg (keburukan penampilan Hagg mengingatkanku pada sosok Quasimodo di The Hunchback of Notredame). Hagg adalah Raja dari Persaudaraan Pengemis, kelompok yang memiliki sistem organisasi dan jalur komunikasi yang kuat.

Theodora kecil sering mengemis bersama Hagg di pintu gerbang Hippodrome, dan ia sering membantu Hagg melarikan diri ketika ada rombongan prajurit datang hendak mengusir para pengemis. Dari sinilah terjalin hubungan persahabatan abadi antara Theodora dan Hagg hingga maut memisahkan mereka. Saat usia dua belas tahun Theodora telah menjadi "budak" kakak perempuannya yang mulai menjalani profesi tertua di dunia: pelacur. Dan ketika keperawanannya direnggut oleh seorang budak pria, Theodora pun secara resmi memasuki karier sebagai seorang pelacur jalanan, mengikuti ibu dan kakaknya.

Di Konstantinopel ada sebuah jalan yang bernama Jalan Hawa, yang--dapat diduga dari namanya--selalu penuh dengan pelacur jalanan (pedanae) hingga para famosae (wanita penghibur yang pelanggannya adalah bangsawan dan orang-orang penting). Suatu hari saat Theodora terpaksa mencuri demi membiayai abortus untuk kehamilannya, seorang famosae paling terkenal saat itu—Macedonia menolongnya dari hajaran massa. Macedonia akhirnya mengangkat kehidupan Theodora dengan menjadikannya pembantu hingga mengajari Theodora segala keahlian untuk menjadi pelacur profesional. Maka di usia enam belas Theodora pun meretas jalan untuk menjadi delicatae (pelacur kelas menengah) di Jalan Hawa.

Ternyata, Theodora bukan saja cantik, namun ia memiliki kecerdasan, keanggunan dan bakat untuk mempengaruhi pria. Sedikit demi sedikit ia berusaha menapak jalan makin ke atas. Theodora memulainya dengan menjadi semacam pengelola resepsi bagi famosae paling berkuasa saat itu, yaitu Chione, yang menjadi gundik gubernur kota John Capadocia. Resepsi besar itu disiapkan Chione setelah ia berhasil menyingkirkan rival terberatnya: Macedonia—sahabat yang telah mengangkat Theodora dari kubang lumpur hina. Kali ini Theodora, yang memiliki kalung mewah hadiah seorang saudagar, berhasil menolong Macedonia yang ditelantarkan dan dibuang dari Konstantinopel. Di sisi lain, Theodora mulai menyusun strategi untuk balas dendam pada Chione di resepsi besarnya itu...

Nyatanya, resepsi-balas-dendam Theodora berakhir dengan sukses. Chione ia singkirkan dengan amat keji, dan sekaligus Theodora mulai mendapatkan reputasi di kalangan pria tingkat atas. Namun di sisi lain, ia jadi memiliki musuh baru, yakni John Capadocia—yang ditertawakan rekan-rekannya gara-gara kejatuhan Chione-nya. Demi menghindari bahaya yang mengancam, Theodora serta-merta menerima tawaran Hecebolus—guberbur baru untuk Cyrenaica (Syria)—untuk menjadi wanita simpanannya di daratan Afrika. Malang bagi Theodora, selama dua tahun Hecebolus memperlakukannya dengan buruk, bahkan kemudian membuangnya di gurun Sahara, lagi-lagi berkat hasutan John Capadocia.

Pantang menyerah, meski nyaris mati di padang pasir, Theodora berhasil dengan selamat keluar dari maut--lagi-lagi berkat persahabatannya dengan para pengemis yang memiliki kata sandi Mendici. Setelah terpuruk dan tak memiliki apa-apa, kini giliran Macedonia menolong (lagi) Theodora. Dengan beberapa baju, uang dan sebuah surat 'sakti' yang ditulis Macedonia, Theodora menantikan mukjijat sambil bekerja sebagai pengantih (pemintal). Jaman itu, menjadi pengantih adalah jalan yang diambil pelacur untuk keluar dari pelacuran dan menjalani hidup normal.

Lagi-lagi dengan bantuan sahabatnya Hagg, surat sakti Macedonia yang ternyata dialamatkan kepada Pangeran Justinianus—saat itu Pangeran pewaris tahta, kemenakan Kaisar Justinus--mulai menunjukkan "kesaktiannya". Sang Pangeran menjadi tertarik pada seorang pelacur bernama Theodora.... Sebuah langkah pertama Theodora menuju ke kekuasaan.

Mudah ditebak, Theodora berhasil memikat Justinianus sehingga—alih-alih hanya menjadi penghibur sehari semalam--Justinianus malah mengambil Theodora sebagai selir. Dan makin lama makin nampaklah kemampuan strategi Theodora yang beberapa kali berhasil menyelamatkan Romawi, ketika diaplikasikan oleh Justinianus. Sementara itu musuh bebuyutan Theodora—John Capadocia—yang juga mengincar tahta Kaisar, tak tinggal diam. Sebuah pemberontakan diam-diam dibangunnya demi menjungkalkan kesempatan Justinianus naik takhta, sekaligus membalas dendam pada Theodora.

mozaik yang menggambarkan Maharani Theodora

Apakah yang kemudian terjadi? Bagaimana bisa Theodora akhirnya menjadi Maharani, mengingat ia hanyalah seorang wanita, apalagi berasal dari pelacur rendahan? Akankah rakyat menerimanya? Mampukah ia, seorang wanita biasa yang fisiknya rapuh dan mungil memikirkan masalah-masalah besar negara? Dan apakah John Capadocia berhasil melancarkan balas dendam abadinya kepada Theodora?

Sangat mengasyikkan membaca buku ini. Pertama, karena lengkap dan telitinya riset yang dilakukan Paul I. Wellman atas fakta sejarah, digabungkan dengan penuturan cerita yang menawan, membuatku hampir lupa bahwa kisah Theodora ini adalah kisah sejarah. Kedua, terjemahan yang tak kalah menawannya, berhasil menghadirkan nuansa sejarah dengan baik. The Female menyadarkan kita akan hakikat wanita sebagai seorang perempuan—kekuatan dan kelemahannya, dan bagaimana mereka seharusnya menggunakannya sebagai seorang penghuni dunia. Kini memang kita tahu bahwa wanita pun mampu memimpin negara, namun pada jaman Theodora hidup, wanita hanya berkutat pada soal kewanitaan saja. Maka kecerdasan, ketajaman pengamatan dan keberaniannya mengambil keputusan besar, merupakan prestasi gemilang yang patut dikenang.

Lima bintang untuk Wanita (judul terjemahan untuk The Female) ini!

Judul: Wanita
Judul asli: The Female
Penulis: Paul I. Wellman
Penerjemah: Alfons Taryadi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Mei 2005
Tebal: 522 hlm

Tuesday, June 28, 2011

Genghis Khan 1: Sang Penakluk


Aku sedikit mengenal tokoh pemersatu rakyat Mongol bernama Genghis Khan ini sejak kecil. Hanya saja, selama ini aku merasa ada dualisme dalam penilaian akan karakter Genghis Khan ini. Di satu sisi ia dianggap pahlawan, sementara di sisi lain ia adalah orang barbar. Mana yang benar? Mengapa satu orang yang sama bisa memiliki dua sisi sejarah? Mungkin ini alasannya…


It is hard to pass fair judgment on historical facts of which we have no eye witness (sulit juga membuat penilaian yang adil terhadap fakta sejarah yang tidak kita saksikan dengan mata kepala sendiri) ~Prakata


Beruntunglah kita, karena bulan April 2011 lalu Penerbit Bentang Pustaka telah menerbitkan versi terjemahan Buku Genghis Khan: Sang Penakluk ini untuk kita. Buku ini mengungkapkan sejarah seorang pria Mongolia bernama Temujin, yang kelak akan menjadi seorang penakluk terbesar yang pernah hidup di dunia: Genghis Khan. Luas wilayah yang pernah ia taklukkan sekitar 35.000.000 kilometer persegi -- 2,2 kali lebih besar daripada wilayah taklukan Alexander Agung, dan 6,7 kali lebih luas daripada wilayah yang berhasil dikuasai Napoleon Bonaparte. Kekaisaran Romawi bahkan hanya seperempatnya saja. Namun yang menurutku membuat Genghis Khan layak disebut hebat, bukan hanya luasnya wilayah taklukan, melainkan lebih pada kecerdikannya, kebijaksanaannya dalam memerintah, serta semangat, kesabaran, ketekunan dan keberanian dalam karakternya. Hanya lewat buku inilah kita akan melihat karakter Genghis Khan sebagai manusia. Dan hanya setelah membaca buku ini, anda akan memahami mengapa Genghis Khan disebut sebagai pahlawan.

Kisah diawali dengan memperlihatkan ordu (perkampungan/desa) Yesugei yang merupakan markas suku Mongol Kyat, sebagai salah satu yang terkuat pada sekitar abad ke duabelas. Saat itu adalah masa-masa para nomad yang mendiami Dataran Mongolia terpecah belah menjadi ratusan klan dan suku yang berbeda-beda sehingga sering terlibat dalam konflik berkepanjangan. Saat itu, yang kuat akan menghancurkan yang lemah. Sehingga yang lemah hanya punya dua pilihan: hancur atau bergabung pada kelompok yang lebih kuat. Semua orang, semua klan, semua suku tidak memiliki teman atau musuh yang tetap. Kawan hari ini bisa menjadi musuh esok hari bilamana berbeda pandangan, karena kalau kau tak menghancurkan pihak lain duluan, pihak lainlah yang akan menghancurkanmu. Karena situasi seperti inilah orang Mongolia terpecah belah, dan kalau hal itu berangsur-angsur terjadi, suku Mongolia akan punah selamanya.

Yesugei adalah salah seorang yang memiliki impian untuk menyatukan seluruh Mongolia. Yesugei memiliki beberapa putra dan putri. Salah satu putra yang dibanggakannya adalah Temujin, yang lahir dari istri kedua, seorang wanita bernama Ouluun. Dari semenjak kecil, Temujin telah menunjukkan kualitasnya sebagai calon pemimpin besar. Ia tak hanya terampil menunggang kuda dan memanah, namun kecerdasan dan karakter kuatnya sudah mulai memancar. Sepertiga dari awal buku ini dengan sangat detail menggambarkan kehidupan Temujin kecil. Bagaimana ia belajar segala sesuatu (saat itu tak ada sekolah) dari berbagai sumber. Ajaran ayahnya, dongeng dari ibunya, pengalaman di alam bebas bersama Mamay (paman dari pihak ibunya). Singkatnya, setiap hal yang dilihat, didengar dan dialaminya selalu dicerna dengan kritis, mengapa A terjadi? Mengapa B melakukan C? Temujin bukan hanya merenungkan misteri-misteri itu, namun ia selalu menemukan jawabannya untuk dimasukkan ke dalam memorinya. Pendek kata, tak ada hal yang luput dari perhatiannya.

Ketika usianya baru 9 tahun, Temujin sudah akan ditunangkan dengan seorang anak perempuan berusia 10 tahun dari suku Olqunuud, bernama Borte. Saat Yesugei pulang dari mengantarkan Temujin ke ordu calon mertuanya, ia diracun oleh orang Tartar yang menjadi musuh kaum Mongol Kyat. Seharusnya, Temujin adalah pewaris Yesugei, dan berhak menjadi pemimpin suku mereka. Namun, karena rakyat merasa mereka menjadi lemah setelah kematian Yesugei, banyak pendukung Yesugei yang meninggalkan ordu. Bahkan kerabat Temujin. Salah satu yang masih setia pada Temujin adalah Yamuka. Yamuka telah menjadi sahabat Temujin sejak kecil, mereka tumbuh bersama-sama. Mereka berdua bahkan telah menjadi anda. Anda adalah dua orang yang bersumpah setia menjadi saudara.
Dari antara kaum nomad yang bergabung dengan Yesugei saat masih hidup, adalah kaum Taichut. Kaum Taichut merupakan nokhod (orang bebas yang bisa pergi kapan saja mereka mau). Begitu Yesugei meninggal, kaum Taichut mengambil alih ordu Yesugei yang seharusnya menjadi milik Temujin. Temujin terpaksa melarikan diri bersama ibu dan sedikit orang yang masih setia kepadanya. Dari sebuah ordu yang memiliki lima belas ribu kepala keluarga dan merupakan salah satu yang terkuat, tiba-tiba keluarga Temujin jatuh ke jurang kemiskinan yang amat dalam. Ini karena di stepa berlaku hukum, bila suatu klan memenangkan peperangan, ia berhak atas pampasan perang dari pihak yang dikalahkan, berupa ternak, harta benda, termasuk orang (kecuali tentu saja bagi yang melarikan diri). Saking miskinnya, keluarga Temujin bahkan tak bisa makan daging domba dan sapi yang menjadi makanan pokok orang Mongolia. Kekalahan dari kaum Taichut itu bukanlah akhir dari peperangan mereka. Karena beberapa tahun kemudian, tatkala Temujin sudah berusia empat belas tahun, kaum Taichut kembali memburu ordu Temujin. Perjalanan terjal pun kembali harus dilalui Temujin. Dalam keadaan terdesak, ia mampu menyelamatkan keluarganya meski ia sendiri akhirnya tertangkap kaum Taichut. Namun berkat kebaikan salah seorang mantan pengikut Yesugei, ia pun dapat melarikan diri.

Setelah kembali kepada calon mertuanya dahulu, dan kali ini benar-benar mempersunting Borte, Temujin pun mulai berupaya mempersatukan kaum Mongolia, sebuah cita-cita yang diamanatkan oleh mendiang ayahnya. Sebuah usaha yang nampak sia-sia! Berjuang membangun ordu besar dari titik nol merupakan usaha luar biasa. Tapi untuk mempersatukan dataran Mongolia? Mustahil. Mungkin bagi sebagian besar orang, namun tidak bagi Temujin. Saat itu mungkin ia tak punya dukungan dan harta berlimpah, namun ia memiliki modal kuat yang tak dimiliki orang lain: Visi. Kalau pun anda-nya, Yamuka memiliki visi yang sama, namun ia hanya berhenti pada cita-cita itu saja. Sebaliknya, Temujin telah memikirkan langkah demi langkah yang harus dilakukannya untuk meraih cita-cita itu. Visi semata tidaklah cukup, orang harus memiliki visi yang jelas, dan tahu apa yang perlu dilakukannya, bagaimana cara terbaik untuk melakukannya, dan tentu saja yang terpenting: keberanian dan kesabaran untuk mewujudkannya. Itu semua dimiliki Temujin, dan dalam usia muda itu, ia segera melakukannya. Sedikit demi sedikit kehormatan dapat ia raih. Banyak orang yang dulu melarikan diri, kini kembali bergabung dengannya. Bahkan Toghrul Khan, pemimpin klan terbesar saat itu pun mengangkat Temujin menjadi anak angkatnya. Apakah dengan semua itu berarti ia telah sukses? Belum, perjalanan masih jauh. Temujin harus berkali-kali mengalami jatuh bangun, diserang, dan dikhianati. Kadang memenangi pertempuran, kadang juga dikalahkan. Bahkan Borte, istrinya, harus mengalami penculikan dan pemerkosaan ketika ordu mereka kalah. Semuanya itu hanya makin membuat semangat Temujin menggelora. Sayangnya kita belum dapat mengikuti kisah Temjujin dalam kiprahnya sehingga menjadi sang penakluk paling besar dan mashyur di dunia: Genghis Khan. Kisah ini harus berlanjut di buku kedua, sedang buku pertama ini memperlihatkan perjuangan dan jatuh bangun yang dialami Temujin dari sejak kecil.

Meski demikian, setelah membaca buku pertama inipun, aku jadi dapat melihat sosok Genghis Khan yang sebenarnya. Kalau orang menilainya kejam, sadis, bahkan barbar, menurutku itu karena kondisi pada saat itu yang mengharuskannya membunuh lawan-lawannya. Kita harus ingat, bahwa sebagian besar kaum nomad memang masih barbar saat itu. Untuk mempersatukan mereka, memang harus dengan jalan kekerasan. Kalau tidak, selamanya mereka takkan pernah bersatu, dan malah akan punah karena selalu terlibat konflik dengan sesama orang Mongolia sendiri. Toh meski harus membunuh lawan, ia melakukannya ketika perang atau bila orang tersebut akan membahayakan ordunya. Pada mantan musuh yang ia pandang akan setia, ia akan mengangkatnya menjadi anggota pasukannya.



Yang aku kagumi juga dari Temujin adalah perlakuannya terhadap para pengikutnya. Temujin menuntut kesetiaan mereka kepadanya, dan sebagai imbal baliknya ia memberikan keadilan dan perlakuan yang setara bagi semua orang. Bahkan ia sendiri mengenakan pakaian yang sama dan makan makanan yang sama seperti yang dimakan bahkan oleh penggembala lembu (yang termasuk warga paling rendah). Hal ini membuat pengikutnya memandang Temujin sebagai pemimpin yang adil dan mau berbela rasa, dan merupakan hal yang tak lazim, mengingat pemimpin lainnya pada saat itu hidup dalam kemewahan.

Akhirnya, dari buku pertama ini aku bisa memahami sudut pandang Temujin dalam keputusannya untuk menggunakan kekerasan dalam mempersatukan Mongolia. Seperti yang dikatakan oleh Sam Djang di awal tulisanku ini, memang sulit membuat penilaian yang adil terhadap fakta sejarah, jika tidak kita saksikan dengan mata kepala sendiri. Karena kita tak mungkin dapat kembali ke masa lampau, kita harus mengandalkan buku ini untuk membawa kita ke masa itu, ke salah satu masa sejarah paling keemasan di muka bumi ini. Salut pada Bentang yang telah menerjemahkannya dengan baik!

Judul: Genghis Khan 1: Sang Penakluk
Judul asli: Genghis Khan: World Conqueror, volume 1
Penulis: Sam Djang
Penerbit: Bentang Pustaka
Penerbit versi asli: New Horison Books, North Hills, 2010
Penerjemah: Reni Indardini
Terbit: April 2011
Tebal: 503 hlm

Friday, January 2, 2009

Maharani [Imperial Woman]

Salah satu karya Pearl S. Buck tentang lika-liku hidup seorang wanita di balik dinding-dinding megah kekaisaran Manchu di Cina. Kisah ini adalah sebuah fiksi yang didasari oleh sejarah. Maharani adalah kisah seorang wanita yang amat ambisius, yang rela mengorbankan hidup pribadi bahkan cintanya sendiri demi ambisi menjadi yang terbesar. Inilah kisahnya...

-----


Pada tahun 1852, Orchid adalah seorang gadis yang tengah tumbuh remaja di sebuah rumah sederhana milik pamannya. Ia tinggal bersama ibu, adik, dan adik sepupunya, Sakota. Pada saat berusia 17 tahun, ia dipilih menjadi salah satu calon selir Kaisar Hsieng Fen yang berkuasa saat itu. Padahal, Orchid dan sanaknya Jung Lu, pengawal gerbang Kota Terlarang, yakni kompleks dimana Kaisar tinggal, saling mencintai dan sudah dijodohkan. Namun, daripada menikah dengan Jung Lu dan menjadi ibu rumah tangga, ia memilih menjadi selir kaisar. Tapi, ini tidak mudah karena ada 59 gadis lain yang menjadi saingannya. Namun sebelum berangkat pun, semua orang yakin bahwa Orchid akan menjadi nomor satu. Ini karena ia gadis yang rupawan, dengan perawakan tegak dan langsing, mata yang tajam dan jernih, serta memiliki kekuatan dan kecerdasan yang menjadi ciri khasnya.


Tiba di istana, Orchid sangat bersemangat melihat kebesaran dan kemegahan istana. Sebelum berangkat ibunya telah memberikan 2 tips agar dirinya terpilih, yaitu: memisahkan diri dari yang lain agar ia menjadi istimewa, dan berbaik-baiklah pada Ibu Suri, karena Ibu Suri ikut menentukan permaisuri dan selir bagi putranya, sang Kaisar. Maka dari hari pertama Orchid mulai banyak mengundang perhatian dengan datang terlambat pada waktu pemilihan, hingga berani menatap wajah Kaisar pada saat diperlihatkan pada saat pemilihan, padahal menurut adat mereka tidak boleh menatap langsung wajah Kaisar. Akibatnya, Kaisar segera terpikat pada kecantikannya, meski Ibu Suri telah memperingatkan putranya bahwa gadis ini keras hatinya.


Karena Sakota adalah sanak dari permaisuri terdahulu, maka Sakota-lah yang terpilih menjadi permaisuri. Sedang Orchid menjadi salah seorang selir, yang mulai saat itu dipanggil Yehonala sesuai nama marganya. Kaisar memiliki banyak selir, saking banyaknya kadang-kadang seorang selir tak pernah dipanggil untuk melayani Kaisar di tempat tidurnya hingga akhir hayatnya. Pada saat itu, ada seorang kasim rendahan bernama Li Lien Ying yang berusaha menjadi pelayan dan bersekutu dengan Yehonala, karena sang kasim yakin bahwa Yehonala akan naik sampai kedudukan yang tinggi di istana itu, dan pada saat itu si kasim berharap dapat ikut naik juga jabatannya. Inilah salah satu contoh intrik-intrik yang ada di dalam tembok istana, dan intrik ini terjadi mulai dari jabatan yang tinggi, pangeran dan menteri, sampai pada pelayan dan kasim rendahan.


Demikianlah, pada suatu malam Li Lien Ying membisiki Yehonala bahwa Sakota sang permaisuri sedang mengandung. Bila anaknya laki-laki, anak itu kelak akan menjadi pewaris takhta, dan ibunya menjadi ratu atau ibu suri. Namun bila perempuan, maka Kaisar akan mulai memilih dari antara selirnya untuk bisa mendapatkan anak laki-laki. Dan Li Lien Ying memperkirakan Kaisar akan segera memanggil Yehonala dalam waktu dekat, maka bersiap-siaplah Yehonala. Ia mulai rajin membaca buku-buku dan belajar banyak hal dari perpustakaan istana. Ia juga khusus membawakan buah semangka yang sudah ranum pada Ibu Suri yang memang doyan semangka. Betapa senang hati Ibu Suri, dan ia-pun menceritakan tentang si selir Yehonala pada putranya. Maka, besok malamnya Yehonala pun mendapat panggilan yang ia sudah tunggu-tunggu dari Kaisar. Dan malam itu, berkat daya pikatnya yang kuat Yehonala berhasil merebut cinta si Kaisar. Ia akhirnya berhasil menjadi selir paling favorit si Kaisar.


Dalam pada itu, karena Jung Lu adalah sanaknya, Yehonala kadang-kadang memanggilnya untuk curhat. Jung Lu yang begitu besar cintanya pada Yehonala selalu menyemangati Yehonala untuk selalu kuat agar dapat mencapai cita-citanya menjadi ratu. Namun, karena kerinduan dan gairah mudanya, ia pun pada suatu hari sempat berhubungan badan dengan Yehonala di dalam istana tanpa diketahui siapapun. Itu hanya terjadi sekali, dan setelah itu Jung Lu selalu bertindak sebagai bawahan yang hormat dan setia pada sang calon Ratu.


Pada saat seluruh negeri menunggu sang permaisuri melahirkan, Yehonala memperhatikan ada suatu perubahan pada tubuhnya. Ia-pun kini sedang mengandung, dan ia amat yakin bahwa yang dikandungnya adalah bayi lelaki. Maka pada saat Sakota ternyata melahirkan bayi perempuan, Yehonala langsung menghadap Ibu Suri yang amat kecewa karena belum mendapatkan pewaris, dan melaporkan bahwa ia, Yehonala akan memberikan Kaisar seorang putra.


Maka Yehonala menjadi sangat dimanja oleh Kaisar. Karena Kaisar Hsien Feng ini lemah, baik fisik maupun mentalnya, sedikit demi sedikit Yehonala berhasil membujuknya agar ia, Yehonala diperbolehkan membantu masalah kenegaraan. Maka, setelah mendapat laporan dari bawahannya, Kaisar biasanya berkonsultasi dengan Yehonala, baru memberikan keputusan. Semua orang tahu akan hal ini. Yehonalapun semakin rajin mempelajari politik, sampai akhirnya ia melahirkan bayi lelaki yang sehat dan tampan, pewaris Kaisar. Sejak saat itu, Sakota iri padanya dan mulai menjauhinya. Apalagi, Yehonala dianugerahi pangkat setara dengan permaisuri, yaitu sebagai Ratu Istana Barat, dengan nama baru: Tzu Hsi. Sedang Sakota adalah Ratu Istana Timur.

Sementara itu, Yehonala juga mendapatkan dukungan dan kesetiaan dari An Teh Hai, si Kasim Kepala dan Li Lien Ying sebagai sekutu-sekutunya. Dari mereka ia banyak mendapat informasi tentang gosip dan intrik yang sedang terjadi di sekeliling Takhta Naga, diantaranya tiga pangeran yang ingin memberontak jika Kaisar mangkat.


Pada waktu itu, negara-negara Barat (Amerika dan Eropa) mulai masuk ke daratan Cina dan banyak menuntut untuk diberi kemudahan dalam berdagang dan menyebarkan agama. Mereka tidak mau bersujud kepada Kaisar bila menghadap, karena menurut ajaran agama, mereka tidak boleh bersujud kepada manusia. Hal ini dianggap kekaisaran sebagai penghinaan, dan Kaisar ingin mengusir orang-orang Barat itu keluar dari negerinya, namun dengan resiko pihak Barat akan melancarkan perang. Yehonala sebagai penasihat terpercaya Kaisar menasihati agar pemerintah mengambil sikap menunggu dan menunda-nunda kedatangan mereka.


Pada saat itu, Tzu Hsi sudah mulai dewasa cara berpikirnya, dan ia paham bahwa tak ada jalan lain, ia harus melupakan masa lalu, menjadi kuat, mengasuh Putra Mahkota hingga dewasa dan mewujudkan impiannya. Para bawahan Kaisar-pun sudah lebih banyak membicarakan soal kenegaraan dengan Tzu Hsi. Tzu Shi adalah wanita yang unik. Ia adalah gabungan antara kelembutan dan kekejaman, antara kecerdasan dan keangkuhan. Ia keras kepala, namun bila diperlukan, ia bisa menjadi diplomat yang ulung. Semuanya ini membuatnya tidak lagi dipandang sebagai wanita, ia bagaikan gabungan kecantikan wanita dengan otak laki-laki. Di atas semuanya itu, ia sangat ambisius. Ia dapat mempengaruhi Kaisar, sehingga Kaisar tidak mempertimbangkan pendapat menterinya lagi. Akibatnya, bangsa Barat marah besar dan akan menyerang ibukota. Maka Kaisar terpaksa membuat perjanjian gencatan senjata, sementara semua keluarga kerajaan harus mengungsi ke kota Jehol.


Benar saja, Istana Musim Panas yang sangat dikagumi dan dicintai*oleh Tzu Shi luluh lantak akibat serangan tentara Barat, dan membuat Tzu Hsi sangat sedih. Ditambah lagi kenyataan bahwa dirinya sudah lama tidak dipanggil untuk menemani Kaisar. Dari bisik-bisik sekutu setianya, sang Kasim Kepala, tahulah ia bahwa 3 serangkai pangeran sanak Kaisar telah merencanakan merebut hak perwalian Putra Mahkota dan akhirnya merebut takhta. Tzu Hsi sangat gundah mendengar ini. Ia langsung memutuskan akan mengamankan pewarisan takhta kekaisaran lewat sebuah surat yang ia tulis sendiri. Di saat yang sama, 3 serangkai juga menyiapkan surat untuk menunjuk mereka sebagai wali. Mereka harus beradu cepat mendapatkan tanda tangan Kaisar! Karena fisiknya sudah terlalu lemah akibat terlalu banyak main wanita dan pengaruh candu, malam itu Kaisar sekarat. Tzu Hsi berhasil mendapatkan tanda tangan Kaisar beberapa detik sebelum Kaisar wafat.


Dengan demikian, jadilah Tzu Hsi seorang Ibu Suri. Ia berhasil mengamankan cap kekaisaran berkat bantuan sanaknya Jung Lu dan kasim Li Lien Ying, dan demikian mengamankan kedudukan sang Putra Mahkota sebagai calon Kaisar. Ia memaksa pula Ratu Istana Timur, Sakota untuk menjadi wali bersama dirinya, agar Sakota tidak dapat berbalik memusuhinya. Sementara itu, Tzu Hsi-lah yang mengurus kenegaraan. Dalam perjalanan pulang dari Jehol ke ibukota, ada rencana kudeta yang membahayakan jiwa Putra Mahkota. Beruntunglah, Jung Lu selalu setia melindungi Tzu Hsi dan Putra Mahkota (yang diduga keras sebenarnya anak Jung Lu!) sehingga malapetaka tak terjadi.


Pada saat-saat tertentu sang Ibu Suri merasakan kesepian yang amat sangat. Ia tidak dapat mempercayai siapapun, dan tak ada yang mencintainya dengan tulus, kecuali Jung Lu. Meski Jung Lu sudah dinikahkan dengan wanita yang tidak ia cintai, cintanya yang tulus dan setia tetap hanya untuk Tzu Hsi seorang. Bahkan Kaisar, yang adalah putranya sendiri tidak mencintai Tzu Hsi. Dan ketika Kaisar mangkat, keponakan Tzu Hsi yang ia jadikan Kaisar-pun tidak mencintainya. Mereka semua Kaisar-Kaisar yang lemah. Sehingga selama itu sang Ibu Suri menjadi penguasa tertinggi takhta naga. Ia bertambah tamak dan haus akan kemewahan, dan tidak mau menerima perubahan peradaban. Saat negara harusnya membuka pintu bagi hubungan diplomatik dengan negara-negara lain di muka bumi ini, ia justru menutup pintu dan malah memusuhi negara-negara lain, termasuk Jepang dan Rusia yang notabene sama-sama dari Asia.

Hal inilah yang hampir saja meruntuhkan kekaisarannya. Untungnya, pada saat-saat kritis ia sadar dan akhirnya mau berkompromi dengan peradaban modern. Namun, untuk itu, amatlah mahal harga yang harus ia tanggung, baik secara personal maupun kekaisarannya sendiri.


Catatan Fanda
:
Maharani adalah sosok wanita mandiri, tidak bergantung pada orang lain. Percaya diri akan kemampuannya, semangatnya tak pernah luntur bila ia sudah berketetapan hati untuk mencapai cita-citanya. Aku seperti melihat diriku sendiri dalam karakter-karakter itu. Namun, ia bisa menjadi kejam pada orang lain yang menghalanginya, dan ia juga amat sangat serakah. Selain itu, ia tak pernah mau mengakui kesalahannya. Inilah sifat-sifat yang tidak aku senangi. Mungkin, untuk menjadi seorang penguasa kerajaan besar pada jaman itu, memang ia harus bersikap demikian. Selain itu, aku belajar bahwa, seperti kata pepatah: semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpa. Semakin tinggi kekuasaan atau jabatan seseorang, semakin kesepian ia, dan semakin banyak kendala dan problema yang ia hadapi, apalagi bila ia seorang wanita. Bagi para wanita, ambillah teladan kemandirian dan percaya diri sang Maharani. Meski kita wanita, kita berhak untuk memiliki impian dan bekerja keras untuk mewujudkannya. Namun kita semua harus ingat, untuk tidak serakah
. Ingatlah bahwa kita tidak dapat mendapatkan semuanya dalam hidup ini. Pada suatu titik, kita harus berkompromi dan mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan lainnya yang lebih baik.

Jika anda suka kisah-kisah klasik, budaya atau sejarah, buku dengan total 629 halaman ini asyik dibaca dan layak masuk dalam daftar bacaan anda. Pearl S. Buck berhasil memukau pembacanya dengan intrik-intrik dan suasana serta budaya Cina yang memang indah. Moga-moga review-ku kali ini tidak membosankan, tetapi masih tetap menyisakan penasaran untuk anda segera mencari bukunya dan membacanya juga...