Showing posts with label Robert Harris. Show all posts
Showing posts with label Robert Harris. Show all posts

Monday, August 20, 2018

An Officer and A Spy by Robert Harris


I have been interested in the Dreyfus Affair ever since I read Zola's J'Accuse! about two years ago. Then lately Michael Rosen's The Disappearance of Émile Zola let my interest sparked again. Yet, these two books only cover the affair from Zola's point of view; or rather, Zola's fight and struggle during Dreyfus Affair; they do not touch its core. It is in this field has Robert Harris done a terrific job to spotlight one of the biggest political scandals in 19th century which has torn and humiliated France as a nation, by weaving every aspect of it into this riveting historical novel.

In September 1894 a suspicious note has been found by a French espionage agent who worked at the German Embassy in Paris (a cleaning woman who was recruited by the French). The note (or borderau) was addressed to German military attaché: Max von Schwartzkoppen, containing some secret information on French artillery. It's not the first leakage of military secret, and the press and public have been putting big pressure to the Ministry of War to solve it. To save his face, the Minister (General Mercier) put a thorough investigation inside the General Staff. A young major named Alfred Dreyfus seems to be a perfect culprit, since he is a Jewish officer with Alsatian origin (Alsace has been annexed by Germany after France's defeat at Franco-Prussian war). Dreyfus was soon imprisoned and tortured to confess, yet he kept insisting of his innocence. To fill in the 'gap' at preliminary enquiry in court, the Statistical Section staffs then manipulated the borderau to frame Dreyfus up.

Alfred Dreyfus
Now, Dreyfus is a 'loner' Jewish; he is wealthy, proud, cold, and arrogant towards others. He is not a favorite among his friends, and often annoys his chiefs. Bingo! They have found the perfect victim. He's 'only a regular Jew' anyway... ; and this was when the anti-semitic sentiment played its role. The verdict was inevitable: Dreyfus was guilty and must be exiled to Devil's Island. To this point everyone (excepted Dreyfus' relatives and the Jewish) believed that Dreyfus was guilty. But then, a young officer, Georges Picquart, was appointed the new Chief of Statistical Section, and became the youngest Colonel ever in French Military history. It was Picquart who first suspected that a Major Esterhazy was actually the real writer of the infamous borderau. Through Picquart's conscience and heroic action (against military law), the conspiracy was began to be revealed, and finally made public by Zola's J'Accuse!

Georges Picquart
I was really furious by this Dreyfus business. Two aspects in particular have really disgusted me: first, that the real (original) borderau actually consisted of ridiculously trivial information. The fact that Schwartzkoppen (the German attaché) has even torn it to six pieces and thrown it to his garbage bin, should have made one questioning its value. It's true that an internal spy has divulged the information, but punishing the culprit to that extent (Dreyfus was humiliated in front of the army, and was solitary confined and tortured in Devil's Island) is ridiculous! Was there nobody ever wondered why the government put so much effort (not mentioning costs) to guard a prisoner from such minor crime? But again, it's the anti-semitic sentiment: he's only a regular Jew...

The second is how almost all rank of the army—excepted Picquart—kept defending the ugly lies and injustice piles by the chiefs. It's more than anti-semitism here, it's the military 'code of honor', which instantly reminded me of the movie A Few Good Men. They have the wrong illusion that defending the honor of the army and nation is higher than humanity—the 'for the greater good' stuff. I am still amazed at how these military men could have such a blind notion! France was lucky to have Georges Picquart and Émile Zola who have risked their career and personal life, and unselfishly followed their conscience to pursue truth and justice.

Degradation of Alfred Dreyfus

At the end, what was the source of all this abominable business? It’s Ambition and greediness of General Mercier and the racism of the staff. Defending the nation, eh? In reality they have almost triggered a civil war! And how much sorrows have they inflicted to the Dreyfusards and their families?

Once again, Robert Harris didn't disappoint his readers. Almost all of the events and characters in this book are real. Harris only filled in the gaps with his imagination to weave it into an enjoyable novel, which is narrated by Georges Picquart. If you want to learn more about Dreyfus Affair, and/or more about Georges Picquart, this book will satisfy you.

5/5 is my final verdict.

Wednesday, October 3, 2012

Pompeii


Pompeii adalah nama sebuah kota yang terletak di kekaisaran Romawi, yang hancur lebur akibat meletusnya Gunung Vesuvius pada tahun 79. Romawi, sebuah peradaban yang begitu maju di dunia saat itu—ditandai dengan sistem saluran air (aqueduct) terbesar dan tercanggih di dunia—ternyata tak siap menghadapi erupsi vulkanik Gunung Vesuvius, karena mereka tak pernah mengenal vulkanologi sebelumnya, sehingga tak menyadari tanda-tanda alam yang biasanya mengawali rangkaian pembentukan magma di perut sebuah gunung berapi. Lewat kisah historal fiction karya Robert Harris ini kita diajak untuk sedikit memperluas wawasan tentang vulkanologi, dan terutama tanda-tanda akan terjadinya letusan gunung berapi.

Salah satu tanda awal aktifnya gunung berapi adalah menurunnya debit air. Dan hal inilah yang terjadi di saat itu, sehingga seorang aquarius (insinyur yang bertanggung jawab di bidang perairan) muda bernama Attilius dikirim dari Roma untuk mencari sumber air baru di daerah Misenum. Attilius baru saja menjabat karena aquarius terdahulu telah menghilang selama dua minggu. Berkat intuisinya, Attilius segera menemukan sumber air, namun keanehan terjadi, air itu sepertinya bersembunyi dan terus menghilang ke dalam tanah. Belum lagi ia sempat memikirkannya, datang seorang gadis cantik bernama Corelia dan budaknya, meminta bantuan Attilius menyelamatkan pengurus ikan yang hendak dihukum mati majikannya karena dianggap menyebabkan ikan-ikan kesayangannya mati, padahal si pengurus ikan bersikeras kualitas air lah yang menjadi penyebabnya.

Dari kolam ikan di Vila Hortensia milik jutawan Ampliatus itulah, Attilius menemukan keanehan kedua: ada kandungan belerang di saluran air vila itu, yang menyebabkan ikan-ikan mati. Lalu keanehan itu disusul keanehan lainnya, debit air di kota Misenum terus menurun, dan di kota-kota tetangga air mulai berhenti mengalir. Maka Attilus harus bertindak cepat mencari titik kerusakan saluran air yang memanjang berkilo-kilometer itu. Untuk mempercepat perjalanan, ia meminjam kapal dan peralatan dari Laksamana Plinius (Pliny) yang—selain laksamana juga seorang pengamat ilmu pengetahuan yang menulis banyak buku tentang gejala-gejala alam.

Dalam misi penting itu—penting karena, bila saluran air yang melewati beberapa kota itu tak kunjung diperbaiki, akan terjadi huru hara—perjalanan Attilius diwarnai dengan berbagai halangan. Mulai dari mandor yang sangat membenci dirinya, sikap mencurigakan si jutawan Ampliatus, juga kenyataan bahwa keselamatan dirinya terancam oleh musuh yang ingin membunuhnya. Namun selama itu, ternyata Gunung Vesuvius semakin aktif bekerja. Dan puncaknya, pada tanggal 24 Agustus 79, Vesuvius memuntahkan isi perutnya.

Robert Harris mampu menggambarkan kedahsyatan erupsi itu dan porak-porandanya peradaban manusia yang hidup di sekitarnya dengan baik. Dari kisah ini kita belajar bahwa bahaya terbesar letusan gunung berapi bukan terletak pada hujan batu yang menyertai letusan pertama, namun justru hantaman awan panas yang dibawa angin, yang suhunya mencapai 200 derajat Celcius, yang hanya dalam sedetik mampu membinasakan apa saja—manusia maupun hewan—yang dilewatinya tanpa ampun. Di sinilah kita akan menyaksikan perjuangan manusia untuk melawan kemarahan alam, khususnya bagi Attilius yang demi cintanya bagi seorang gadis, harus jatuh bangun mengiringi kemarahan Vesuvius.

Seperti novel-novel Harris yang sudah pernah kubaca sebelumnya, terutama Imperium dan Conspirata, novel ini juga membawaku melanglang buana ke tanah Romawi, meski emosinya tak sedahsyat yang kurasakan dengan Imperium dan Conspirata. Bonus yang paling mengasyikkan adalah porsi ilmu pengetahuan tentang alam (terutama tentang vulkanologi) yang banyak tersisip di sini. Apalagi Harris banyak mengguakan metafora-metafora cantik di sana-sini. Dan terutama aku paling suka dengan sosok Attilius, seorang aquarius yang sangat menjiwai pekerjaannya. Tak melulu insinyur, Attilus benar-benar memiliki keterikatan pada alam, dan terutama pada air, sehingga saat mendengar aliran air, ia bisa merasa mendengar sebuah simfoni yang indah. Aku selalu kagum pada orang yang begitu mencintai pekerjaannya, yang mampu melihat hal-hal yang tak mampu dilihat orang lain, keindahan—sesuatu yang tak biasa—pada hal-hal yang biasa bagi orang lain.

Empat bintang untuk Pompeii!

Judul: Pompeii
Penulis: Robert Harris
Penerjemah: Fahmy Yamani
Editor: Siska Yuanita
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Maret 2010
Tebal: 389

Thursday, November 17, 2011

Conspirata

Orang tolol sembrono mana pun bisa menjadi pahlawan jika tidak menghargai nyawanya sendiri, atau tidak cukup pintar untuk menyadari adanya bahaya. Tetapi, dengan memahami resiko, bahkan berjengit pada mulanya, tetapi kemudian menghimpun keberanian untuk menghadapinya—menurutku, itulah bentuk keberanian yang paling terpuji.

Kurasa ungkapan di atas memang tepat untuk menggambarkan sosok seorang Marcus Tullius Cicero, senator, orator, konsul dan Bapak Negara Republik Romawi pada abad pertama sebelum Masehi. Perjuangan Cicero merangkak dari bawah hingga menduduki tempat tertinggi di pemerintahan negara, telah dengan apik dituturkan oleh Robert Harris di buku pertama dari sebuah trilogi, yaitu: Imperium. Dan kini, lewat bagian keduanya—Conspirata, anda akan dibawa melihat sendiri, mengapa aku merasa Cicero layak disebut pemberani, kalau bukan pahlawan, pada jamannya. Conspirata ini masih dituturkan dari sudut pandang Tiro, budak dan sekretaris Cicero.

Bagi anda yang telah membaca Imperium pasti telah mengerti, bahwa cita-cita Cicero adalah menjadi konsul, meraih kedudukan tertinggi di pemerintahan Republik Romawi (bagi yang belum membaca Imperium, wajib membaca dulu, sebelum membaca buku ini!). Namun ternyata, belum lagi upacara penobatannya sebagai konsul dilangsungkan, Cicero telah dihadapkan pada sebuah kejutan. Teka-teki mayat seorang anak lelaki, korban sebuah upacara ritual, muncul hanya dua hari sebelum ia resmi menjadi konsul. Dan jangan lupa, sebagaimana dikisahkan di Imperium, bahwa Julius Caesar, Crassus dan kroni-kroni mereka sedang memperjuangkan undang-undang untuk membagi-bagi tanah negara kepada rakyat miskin. Satu lagi PR besar bagi Cicero untuk menyelamatkan Republik.

Begitu memasuki periode sebagai konsul, Cicero langsung dihadapkan pada masalah-masalah serius. Tampaknya Caesar, musuh utamanya yang licik dan ambisius, langsung tancap gas. Di satu sisi ada fraksi patricius: Catulus, Hortensius dkk yang dihadapkan pada penuntutan seorang senator tua, di sisi lain ada kaum populis yang (dalihnya) membela kepentingan rakyat: Caesar, Crassus dan Pompeius, dengan undang-undang tanahnya. Ke mana Cicero harus memberikan dukungannya? Belum lagi kenyataan pahit yang harus dihadapinya, bahwa dirinya menjadi target pembunuhan oleh lawan-lawannya, yang disutradarai oleh…siapa lagi kalau bukan lawannya yang paling haus balas dendam: Catilina?

Satu persatu masalah dihadapi Cicero dengan berani. Seperti biasanya, menggunakan kepiawaian retorika, strategi yang jitu, serta kemampuan diplomasinya. Namun sebenarnya yang paling menarik dari karakter Cicero adalah keteguhannya untuk selalu taat pada idealisme yang diyakininya. Banyak negarawan atau politikus yang hanya di awal saja berkoar-koar tentang berjuang bersama rakyat dan demi bangsa. Namun setelah menjabat, mereka malah sibuk dengan dirinya sendiri. Mereka tetap berjuang, namun berjuang untuk tetap menjabat, berjuang untuk tetap mendapat kehormatan, berjuang untuk menumpuk harta. Pendeknya, berjuang demi keuntungan diri sendiri.

Tidak begitu halnya dengan Cicero. Boleh dibilang, perjuangan yang ia lakukan adalah demi Republiknya yang ia cintai dengan sepenuh hati. Dua provinsi, yang semestinya menjadi ladang untuk menimbun kekayaan setelah selesai menjabat konsul, ia hibahkan pada konsul lain demi kompromi politik. Itu artinya, Cicero tak akan mendapat apa-apa setelah turun jabatan. Dan bukan itu saja, karena ia tidak “ikut arus”, ia menjadi lawan empuk musuh-musuhnya karena berjuang sendirian.

Paling tidak dua kali Caesar menawarkan koalisi pada Cicero, salah satunya adalah saat berusaha mengesahkan undang-undang tanah yang digagasnya. Untungnya, Cicero mampu melihat skema besar yang ada di benak Caesar dengan undang-undang itu, yaitu kejatuhan republik. Seperti yang kita ketahui dalam sejarah, Julius Caesar memang memiliki ambisi sangat besar untuk menguasai Romawi, dan memimpinnya dengan kediktatoran. Untunglah bagi Romawi saat itu, karena mereka memiliki negarawan yang berhati nurani ‘bersih’ seperti Cicero. Tak mau terlena dengan tawaran perlindungan penuh dari Caesar, Cicero maju menghadapi bahaya nyawanya sendiri, demi keselamatan republik, yang hendak dicabik-cabik lawan.

Sangat menegangkan ketika cerita bergulir pada usaha pembunuhan terhadap Cicero di rumahnya. Bagaimana seisi rumah menyewa para pengawal, bagaimana mereka memalang pintu rumah, dan mengganjalnya dengan perabot, bagaimana mereka menyiapkan karung juga air untuk mengantisipasi serangan pembakaran. Dan setelah akhirnya lolos dari lubang jarum, bukannya ketakutan dan memilih berkompromi dengan lawan, Cicero justru bangkit dan membuka borok konspirasi jahat untuk meruntuhkan Republik, ke hadapan senat dan rakyat. Dengan cara apalagi kalau bukan dengan orasi. Konspirasi digagalkan, dan tak ada jalan lain untuk menghancurkannya, selain dengan menghukum mati para pencetusnya. Cicero pun dielu-elukan rakyat, dan diangkat sebagai Bapak Bangsa karena dengan berani telah menyelamatkan Romawi. Setidaknya pada saat itu.

Karena ternyata, musuh-musuhnya [baca: Cicero dan republik] belumlah jera. Rasanya baru saja Cicero menghembuskan napas lega untuk menikmati kejayaannya, pada tarikan napas berikutnya, ia harus kembali berhadapan lagi dengan maneuver berbahaya Caesar. Khusus kepada Caesar, Cicero memiliki kesan antara jijik dan kagum. Komentarnya tentang Caesar: “Orang itu penjudi paling luar biasa yang pernah kutemui. Setiap kali kalah, dia hanya menggandakan taruhannya dan melempar dadu lagi.

Namun, seperti yang sering terjadi pada kemurnian dan kebenaran, pesona kekuasaan begitu menggoda dan menarik banyak orang, sehingga akhirnya harus menghancurkan kemurnian. Hal yang sama terjadi pada Cicero. Teman-temannya, satu persatu menjauhinya, termasuk Pompeius Agung. Mereka yang dulu menjanjikan dukungan, kini bersatu dengan musuh dan seolah memalingkan muka dari si keras kepala yang bersikukuh mempertahankan republiknya.

Saat-saat itu adalah momen yang paling mengharukan di buku ini (tak pernah kusangka, aku akan menangis saat membaca kisah politik!). Sekaligus momen yang mencerminkan seperti apa Cicero yang sesungguhnya. Konon, kemurnian karakter manusia baru teruji saat dihadapkan pada tekanan berat. Tak ada ancaman yang dapat melemahkan Cicero, tak ada godaan yang dapat meluluhkannya. Tak ada kekecewaan yang sanggup menghancurkannya. Cicero hanya ingin memberikan yang terbaik bagi negaranya. Seperti yang dikatakannya dalam salah satu orasinya:

“Jangankan memimpin republik, menyelamatkannya pun sungguh pekerjaan tanpa penghargaan.”

Mungkin aku terkesan terlalu tinggi memuji Cicero. Toh sebagai negarawan, ia banyak melakukan kesalahan. Banyak pro dan kontra pada keputusan-keputusannya. Aku sendiri buta politik ataupun kenegaraan, namun dari penuturan Robert Harris yang cantik ini, aku bisa merasakan kegigihan seorang pahlawan dalam diri Cicero. Mungkin cara yang ia pakai salah, mungkin cita-citanya tak semurni yang seharusnya (hei..siapa sih yang mau bekerja keras kalau tak ada keuntungan sedikit pun baginya? Siapa sih yang tak ingin mendapat sesuatu dari jerih payahnya?), namun kalau saja ada sepuluh orang dengan hati bersih dan keberanian seperti Cicero di antara seratus yang ada di senat, pasti suatu negara akan lebih kuat. Mungkinkah itu? Ahh…sepertinya sosok seperti Cicero hanya ada satu setiap generasi (atau bahkan tak ada lagi?).

Dan jangan lupa, bahwa di luar pribadi Cicero atau prestasinya, kata-katanya terus menggema ke seluruh dunia, hingga dua ribu tahun setelahnya. Tak kurang dari dua orang mantan Presiden Amerika Serikat yang pernah terinspirasi atau tergugah oleh sumbangan pemikiran Cicero, yakni John Adams dan Thomas Jefferson. Inilah kata-kata John Adams tentang Cicero: “All ages of the world have not produced a greater statesman and philosopher combined.” Tak heran, bila ada pepatah yang mengatakan bahwa sebatang pena lebih dahsyat daripada sebilah pedang (the pen is mightier than sword). Sementara lawan-lawannya punya pasukan militer dan uang berlimpah, senjata Cicero satu-satunya adalah kata-katanya!

Di review ini aku sengaja tak membeberkan banyak tentang ceritanya, karena begitu serunya alur cerita, sampai aku bingung harus menuliskan bagian yang mana. Yang jelas, hanya satu kata yang tepat untuk menggambarkan Conspirata ini: Mengagumkan! Jadi, tak berlebihan kan kalau aku memberikan 5 bintang untuk buku ini? Sekali lagi… Bravo Cicero!

Judul: Conspirata
Penulis: Robert Harris
Penerjemah: Femmy Syahrani
Editor: Siska Yuanita
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Oktober 2011
Tebal: 504 hlm

Friday, October 28, 2011

Imperium

Ini adalah kisah anak manusia dengan segala kekurangannya, menapaki jenjang karier dari bawah, tanpa kelimpahan harta, tanpa kecurangan, tanpa dukungan kelas sosial. Hanya dengan suara dan tekadnya. Inilah kisah Marcus Tullius Cicero, sang orator terbesar pada jaman Romawi kuno, 2000 tahun yang lalu….

Imperium merupakan fiksi sejarah karya Robert Harris yang ditulis seolah sebagai sebuah memoar dari seorang negarawan jaman Romawi, dengan Tiro sebagai naratornya. Tiro sendiri awalnya adalah seorang budak rumahan milik ayah Cicero, yang lalu menjadi pengurus perpustakaan. Cicero meminjamnya untuk dijadikan sekretaris pribadinya. Pekerjaannya menjadi juru tulis seorang orator memaksa Tiro menulis secepat curahan kata-kata Cicero. Akhirnya Tiro menciptakan sistem penulisan cepat dengan simbol-simbol untuk mewakili kata atau frase tertentu. Sistem ini kelak disempurnakan dan dikenal sebagai sistem stenografi. Ada yang bilang, Tiro lah penemu sistem ini.

Aku dulu kuliah di fakultas kesekretariatan, dan pernah belajar steno, meski sekarang sama sekali kulupakan. Takjub juga ketika aku "berkenalan" dengan sang pencipta steno sendiri lewat buku ini. Inilah sistem steno yang dulu kupelajari di bangku kuliah.

Steno system Groote yang aku pelajari di bangku kuliah

Kembali ke kisah Cicero. Lahir di Arpinum dari keluarga menengah yang cukup berada (equestrian), Cicero menjadi pengacara muda bersuara serak dan kadang gagap pada usia 27 tahun. Bahkan pada saat itupun Cicero memiliki ambisi besar, dengan meminjam motto Achilles di epic Yunani karya Homer: "Far to excel, out-topping all the rest" ( Jauh mengungguli semua yang lain). Karena itu, Cicero berangkat ke Yunani untuk belajar filsafat (di Akademi Plato di Athena) dan seni retorika bersama Tiro. Meski Tiro adalah budak, Cicero mengajaknya belajar bersama, dan selama karirnya Cicero sangat menghargai Tiro sebagai asisten pribadi yang banyak berjasa bagi kesuksesan Cicero.

Guru yang paling berjasa dalam mengolah kemampuan Cicero berorasi adalah Apollonius Molon. Menarik untuk menyimak metode pengajaran Molon bagi para orator, yakni lewat olah tubuh dalam rangka memperkuat suara dan pernapasan. Karena menurut Molon yang terpenting dalam orasi bukanlah semata-mata isi atau tema orasinya, melainkan: penyampaian, penyampaian, dan penyampaian. Dan memang, kelak Cicero membuktikannya dalam banyak kesempatan.

ilustrasi gaya Cicero ketika berorasi

Untuk menjadi senator di Roma (sama seperti di republik kita tercinta ini), seseorang membutuhkan uang, paling tidak sejuta sestertius. Karena Cicero tak memiliki uang, ia lalu menikahi "uang" bernama Terentia, putri keluarga aristokrat. Maka Cicero pun segera menjadi senator, dan langsung menjadi senator terbaik kedua di Roma setelah Hortensius. Saat itu karir seorang negarawan menanjak lewat banyak jalan. Ada yang lewat jalan aristokrasi seperti Mettelus dan Hortensius, ada yang lewat kekayaan berlimpah seperti Crassus, ada juga yang lewat kekuatan militer seperti Pompeius dan Julius Caesar. Tak memiliki ketiganya, Cicero pun meretas jalan kesuksesan lewat jalur karir hukum.

Gara-gara dinas wajib di Sisilia sebelum resmi menjadi senat di Roma, Cicero memiliki hubungan baik dengan warga Sisilia. Hal ini kelak membantunya dalam sebuah kasus yang menjadi titik penting yang membuat Cicero mulai diperhitungkan dalam percaturan politik di Roma. Kasus itu adalah penjarahan dan suap besar-besaran yang dilakukan oleh Gubernur Sisilia bernama Gaius Verres, diawali oleh pengaduan Sthenius. Dalam kasus ini Cicero membuktikan bahwa ia mampu melawan kekuasaan dan kekayaan hanya dengan kata-kata yang dipadu dengan kecerdikan, tekad dan keberanian.

"Tidak ada satu hal pun yang tak dapat diciptakan atau dihancurkan atau diperbaiki dengan kata-kata." (Cicero) ~hlm 286.

Maka, dari jabatan quaestor (magistratus paling yunior), pelan-pelan ia menanjak menjadi aedilis, lalu praetor dan akhirnya maju dalam pemilihan umum untuk menjadi konsul. Tentu saja jalan yang harus dilaluinya begitu terjal dan penuh tantangan. Boleh dibilang Cicero adalah senator yang paling dibenci anggota senat lainnya. Banyak negarawan yang pernah menjadi "korban"nya, dan tentu saja menghalalkan segala cara untuk menghalangi jalannya untuk meniti karir tertinggi yang menjadi ambisinya.

ilustrasi Cicero dalam orasi maki-makiannya yang terkenal: In toga candida, saat ia mencaci-maki Catilina dan Antonius, lawannya (saat pemilihan konsul)

Menggabungkan filosofi dengan politik, kurasa Cicero adalah senator paling cerdas di Roma saat itu. Ditambah lagi, Cicero adalah negarawan yang "cinta rakyat". Dalam banyak kesempatan, ia menekankan bahwa suara rakyat adalah penentu jalannya pemerintahan. Ia pun piawai dalam berkampanye dan dalam pencitraan diri. Kedua hal itu menjadikan Cicero makin dicintai rakyat, karena dianggap berani melawan para aristokrat sombong yang tak memperhatikan kepentingan rakyat.

Seperti banyak pria "besar" yang berpengaruh, hampir selalu ada peran wanita di baliknya. Dalam hal Cicero, Terentia adalah sosok yang menyemangati dan seringkali memberikan solusi saat Cicero kehabisan akal. Paling tidak, dalam kasus korupsi Verres dan ketika Cicero menemukan konspirasi Crassus-Caesar untuk menjadi penguasa Romawi lewat suap besar-besaran, Cicero pun memakai ide dari Terentia yang terbukti mumpuni.

Di buku ini, anda juga akan menikmati kemunculan awal Julius Caesar muda. Di sini Caesar digambarkan sebagai politikus licik dan playboy. Ia berselingkuh dengan istri kawannya, dan bahkan Tiro pernah memergoki Caesar sedang bercinta dengan istri seorang imperator saat itu.

Membaca Imperium, aku jadi merasakan campuran antara ketegangan, kekecewaan, kegeraman, juga sukacita kemenangan, berganti-ganti sepanjang buku ini. Lewat Imperium, kita bisa lebih memahami tentang republik Romawi dengan keunikannya. Misalnya sistem dua konsul yang berbagi kekuasaan, menghindari kediktatoran. Lalu pengaruh status aristokrat yang sangat kuat dalam pemerintahan. Juga adanya tribunus (semacam DPR) yang mewakili rakyat dan bertugas mengesahkan undang-undang. Kita juga diajak melihat betapa licik dan busuknya konspirasi politik. Lawan bisa menjadi kawan, dan kawan bisa menjadi lawan. Robert Harris membuat novel bernuansa politik yang harusnya membosankan menjadi hidup. Saat orasi Cicero misalnya, aku bahkan bisa membayangkan suasananya, sekaligus orasinya yang kadang menghentak namun kadang menyentuh. Luar biasa!

Dan akhirnya, tentu saja kita jadi dapat mengenal sosok Cicero secara lebih pribadi dan manusiawi berkat penuturan Robert Harris lewat narasi Tiro. Ada perasaan haru menyeruak di dada ketika aku boleh mengenal sang orator terbesar, salah seorang berpengaruh di kerajaan terbesar yang pernah ada di bumi: Romawi. Tentu saja, mengenalnya lewat buku ini. Bravo Robert Harris! Dan aku pun tak sabar menunggu bagian kedua buku ini yang berjudul Conspirata. Siapa lagi yang akan menerbitkannya, kalau bukan Gramedia, yang telah menyajikan buku ini bagi kita lewat penerjemahan yang apik dan boleh dibilang "bersih". Empat bintang untuk Imperium!

Judul: Imperium
Penulis: Robert Harris
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Mei 2008
Tebal: 413 hlm