Friday, March 30, 2012

Pope Joan

Tahun 500-1000 tercatat dalam sejarah peradaban umat manusia sebagai Jaman Kegelapan, yaitu masa ketika kemerosotan besar-besaran terjadi dalam peradaban manusia. Baik kemerosotan pengetahuan, budaya, maupun moral. Jaman ini terjadi segera setelah--dan sebagai akibat dari--runtuhnya kekaisaran Romawi. Pada masa itu populasi penduduk di Eropa merosot, dan angka harapan hidup rendah (tidak sampai seperempat populasi dapat mencapai usia limapuluhan tahun), dan banyak penyakit berjangkit karena tingkat kebersihan rendah. Pendeknya, masa itu benar-benar masa kegelapan.

Khususnya di abad ke 9, lahir sebagai perempuan adalah hal paling tak diinginkan oleh manusia mana pun. Perempuan pada jaman itu dibenci dan dianggap tak berharga. Penyiksaan suami terhadap istri disahkan oleh hukum, dan hukuman bagi pemerkosaan sama ringannya dengan pencurian kecil. Di masa seperti itulah si kecil Joan dilahirkan oleh istri seorang kanon (semacam imam) di sebuah desa kecil. Sejak kecil sudah nampak keistimewaan Joan yang haus akan pengetahuan, selalu ingin tahu, dan lebih suka mencuri dengar waktu kakak lelakinya Matthew mendapat pengajaran di rumah daripada harus membantu ibunya mengerjakan tugas-tugas rumah tangga. Ayah Joan berambisi mengirim Mathew dan/atau John—putra kedua keluarga itu—ke pertapaan Fulda, tempat para imam mengenyam pendidikan. Sedang bagi Joan…yah…apakah pilihan yang tersisa selain apa yang diharapkan dari seorang perempuan pada masa itu: menjadi istri penurut dan pengurus anak serta rumah tangga.

Namun ternyata Joan berani menjalani hidup di luar kebiasaan. Semuanya dimulai ketika Matthew--yang digadang-gadang ayahnya untuk sekolah menjadi imam--meninggal dunia, sehingga John-lah yang kini menjadi tumpuan harapan sang kanon. Ketika Aesculapius--seorang imam yang menjadi kepala sekolah di schola (sekolah) milik Gereja--mengunjungi keluarga mereka, sang kanon mengharapkan John pergi bersama Aesculapius untuk masuk schola. Sang imam mengetes calon muridnya, dan mendapati John tak dapat diharapkan, justru Joan lah yang kecerdasannya bersinar karena Matthew sering mengajarnya membaca ketika masih hidup. Aesculapius adalah guru pertama Joan.

Segera terlihat bahwa kecerdasan dan kemampuan Joan berdebat sangat mengagumkan. Meski dihalang-halangi dengan berbagai cara (termasuk siksaan ayahnya), Joan tetap keras kepala untuk dapat sekolah. Ia akhirnya melarikan diri dari rumah untuk menemani John masuk ke schola di Dorstadt yang dikepalai seorang Uskup. Di sanalah ia berjumpa dengan seorang ksatria bernama Gerold, yang langsung mengambil Joan sebagai anak angkatnya untuk menemani putri-putrinya sendiri.

Bisa bersekolah bukan berarti kemerdekaan bagi Joan. Seperti hampir semua orang pada jaman itu yang membenci wanita yang ingin menuntut ilmu, Joan pun diperlakukan sangat tidak adil selama sekolah di schola. Semua penderitaan itu ia telan saja, karena toh dari kecil pun Joan telah kenyang dengan siksaan dari ayahnya. Ketekunan dan impiannya membuat Joan berani dan makin kuat. Hanya Gerold lah satu-satunya laki-laki yang memperlakukan Joan sederajat. Namun justru karena itulah, percik-percik romansa mulai menghiasi hati keduanya. Perasaan cinta itu makin lama makin kuat seiring semakin matangnya usia Joan, dan semakin dekat hubungan mereka karena saling pengertian yang tumbuh di antara mereka. Hingga pada suatu hari istri Gerold mendengar kesaksian dari seseorang yang telah melihat mereka berciuman.

Untuk mendinginkan perasaan cinta terlarangnya, Gerold sengaja menunaikan tugas dari Kaisar untuk berperang di tempat lain. Dan saat itulah istri Gerold bersiasat untuk menikahkan Joan dengan seorang pria. Tepat pada hari pernikahannya, datanglah kaum Viking yang masih barbar menyerang katedral di Dorstadt itu, membunuh semua orang, termasuk keluarga Gerold serta John kakaknya! Joan yang beruntung dapat bersembunyi selama pembantaian itu, tiba-tiba menemukan jalan menuju kebebasan. Ia dapat "meminjam" identitas John. Joan merasa Gerold tak menginginkan dirinya lagi maka ia pergi jauh, sehingga Joan pun mengeraskan hati untuk melupakan cintanya, demi menggapai harapan yang membentang di depannya. Maka pada hari itu, dari pintu katedral yang hancur, keluarlah seorang pemuda--satu-satunya korban yang selamat--yang dengan langkah pasti menuju ke biara Fulda untuk menjadi imam di sana...

John Anglicus, nama baru Joan sebagai laki-laki, akhirnya menjadi seorang imam yang dikenal cerdas. Imam tua yang menjadi tabib mengajarinya untuk menyembuhkan penyakit. Dari sana pamor John Anglicus ini semakin cemerlang--yang membuat hidupnya semakin menderita karena banyak orang iri dan dendam padanya, hingga akhirnya takdir menyeretnya hingga ke Roma, ke istana Kepausan. Ia tiba di Roma ketika Paus Sergius sedang berkuasa. Dari kegiatannya merawat Paus inilah, Joan jadi mengenal intrik politik kotor di sekeliling Paus. Dan alangkah terkejutnya Gerold yang tengah mendampingi Kaisar Lothar mengunjungi Paus Sergius, ketika ia mendapati imam yang bernama John Anglicus itu tak lain tak bukan adalah Joan--permatanya--yang ia kira telah mati dibantai kaum Viking!

"Sungguh aneh apa yang terjadi pada hati manusia. Orang dapat saja terus hidup selama bertahun-tahun, terbiasa kehilangan, serta berdamai dengannya, tetapi kemudian, dalam sekejap saja, rasa sakit itu muncul kembali bersama rasa pedih dan perih seperti luka yang masih baru." ~hlm. 495. Seperti itulah perasaan Joan yang meski berusaha melupakan Gerold, namun pria itu tetap terpatri di hatinya.

Dan Joan pun kini terbelah antara keinginan untuk melarikan diri dari Roma, untuk bersatu sekali dan selamanya dengan pria yang dicintainya, atau mengabdi pada umat dan Gereja dengan segenap kemampuannya. Sebelum mampu mengambil keputusan, tiba-tiba saja datang kabar itu: umat telah memilihnya sebagai Paus berikutnya, ketika Paus yang berkuasa saat itu mangkat. Tiba-tiba saja Joan memegang tampuk kekuasaan tertinggi di Roma. Padahal di sisi lain ada sebuah keluarga yang amat berambisi menjadikan salah satu putranya untuk menjadi Paus. Begitu ambisiusnya, sehingga mereka rela melakukan apa saja. Berhasilkah mereka mencongkel posisi Joan? Dan setelah menjadi Paus, bagaimana kah hubungan Joan dengan Gerold? Bagaimana akhirnya identitas asli Joan bisa terungkap?

Donna Woolfolk Cross telah berhasil merangkai kisah ini dengan cantiknya! Dari fakta sejarah yang cuma sedikit itu (karena keberadaan Pope Joan telah dihapus dari dokumen Gereja Katolik), digabungkan dengan kisah fiktif, menghasilkan kisah yang seru, mendebarkan sekaligus mengaduk-aduk emosi. Mulai miris melihat penderitaan perempuan jaman itu, ngeri akan pembantaian manusia yang kejam, jijik akan politik vulgar para petinggi Gereja, hingga terbuai oleh cinta yang kuat di antara Joan dan Gerold. Membaca kisah ini membuatku dapat melihat bahwa saat-saat itu benar-benar Jaman Kegelapan. Bagi umat manusia, terutama bagi kaum wanita. Tak heran bila pada jaman itu ada beberapa wanita pemberani yang terpaksa menyamar menjadi laki-laki demi melepaskan diri dari kehidupan tanpa harapan itu.

Aku memberikan 5 bintang untuk Pope Joan. Entah bagaimana, emosiku begitu terlibat selama membaca buku ini. Mungkin, itu karena aku melihat diriku sendiri pada sosok Joan, seorang wanita yang merasa dirinya tak sama dengan wanita pada umumnya, yang memiliki keteguhan untuk menjadi penguasa atas hidupnya sendiri, dan meski mencintai seorang pria, namun ia tak pernah bisa menyerahkan dirinya kepada seorang laki-laki seutuhnya. Meski kisah Joan terjadi lebih dari satu milenium yang lalu, namun menurutku hingga kapan pun perempuan akan tetap berada sedikit di bawah laki-laki. Itulah kodrat perempuan, dan hanya ada dua pilihan untuk menghadapinya, berkompromi atau menolak.

Akhirnya kita semua tak pernah tahu apakah kisah Pope Joan ini benar-benar nyata, ataukah hanya sebuah legenda? Namun mana pun yang benar, kisah keberanian Joan untuk mendobrak ketidakadilan terhadap kaumnya memberikan pencerahan bagi kaum perempuan masa kini.

"Terangnya harapan yang dipantikkan oleh para perempuan tersebut hanya serupa kelap-kelip cahaya kecil di samudra kegelapan, tetapi nyalanya tidak pernah sepenuhnya padam. Kesempatan selalu ada dan tersedia bagi kaum perempuan yang cukup kuat untuk bermimpi. Pope Joan adalah kisah dari salah satu pemimpi itu." ~hlm. 732.

Judul: Pope Joan
Penulis: Donna Woolfolk Cross
Penerjemah: FX Dono Sunardi
Penyunting: Vitri Mayastuti
Penerbit: Serambi
Terbit: Januari 2007
Tebal: 736 hlm

8 comments:

  1. sulit aku mereview buku ini, salut buat mbak fanda, reviewnya bagus euy

    ReplyDelete
  2. emang bener emosi nyatu banget deh sama buku ini ya mba...hahaha..gak bisa lepas sampai selesai baca..membuktikan kalo kita tuh bener-bener suka sama historical fiction hahaa

    ReplyDelete
  3. seperti biasa, reviewnya padat dan mendalam dan ada unsur emosi khas mbak Fanda, 700 halaman lho busettt salut dah

    ReplyDelete
  4. @Tezar: mungkin karena aku perempuan, jadi emosinya lebih dapet ya? Tapi reviewmu juga bagus kok... Buku bagus selalu menghasilkan review bagus *quote ini dipatenkan ah*

    @Althesia: nah.. *toss* sama sesama pecinta hisfic. Tapi emosional kok buku ini, Esi!

    @Dion: iya, aku ngereviewnya langsung setelah baca, makanya masih terbawa emosi. Eh 700 hlm itu gak terasa lho, malah nyesel waktu tamat, hehehe...

    ReplyDelete
  5. Haduuuhh selalu kagum membaca kisah manusia yang sangat berani melawan arus kayak gini.. Coba lahirnya jaman2 sekarang !! Hehe.. Btw emosinya mba fanda kerasa banget di review ini, hihihi.. Great review mba! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe...memang pas baca emosional banget :)

      Delete
  6. aku suka buku ini =) meski ada bbrp adegan yg bikin kepikiran terus, pas viking menyerbu dan membawa kabur anak gerold, ya ampuuun miris banget rasanya pengen nangis deh. keren emang buku ini. sampe sempet mikir2 apakah Joan nyata?? hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa...ngeri deh waktu adegan itu!

      Delete

Bagaimana pendapatmu?