Wednesday, February 29, 2012

Wishful Wednesday (1)

Rabu ini aku ganti haluan, gabung di bloghop-nya Astrid untuk posting buku yang masuk wishlist minggu ini. Ini dia aturan mainnya:

  1. Silakan follow blog Books To Share – atau tambahkan di blogroll/link blogmu =)
  2. Buat posting mengenai buku-buku (boleh lebih dari 1) yang jadi inceran kalian minggu ini, mulai dari yang bakal segera dibeli, sampai yang paling mustahil dan hanya sebatas mimpi. Oya, sertakan juga alasan kenapa buku itu masuk dalam wishlist kalian ya!
  3. Tinggalkan link postingan Wishful Wednesday kalian di Mr. Linky (klik saja tombol Mr. Linky di bagian bawah post). Kalau mau, silakan tambahkan button Wishful Wednesday di posting kalian.
  4. Mari saling berkunjung ke sesama blogger yang sudah ikut share wishlistnya di hari Rabu =)

----

Buku yang sudah masuk wishlist-ku sedari belum terbit adalah ini:


Gadis Kretek
by Ratih Kumala

Sebagai pecinta novel-novel historical fiction, sudah lama aku ingin membaca hisfic karya penulis lokal. Sudah ada beberapa incaran, tapi aku kadang khawatir apakah itu hisfic atau murni buku tentang sejarah. Dan akhirnya aku menemukan Gadis Kretek ini. Kebetulan entah kenapa, aku tertarik membaca perjalanan sejarah bisnis rokok di tanah air ini.

Inilah sinopsis novel yang akan diterbitkan Gramedia tgl. 8 Maret 2012 mendatang :

Pak Raja sekarat. Dalam menanti ajal, ia memanggil satu nama perempuan yang bukan istrinya; Jeng Yah. Tiga anaknya, pewaris Kretek Djagad Raja, dimakan gundah. Sang Ibu pun terbakar cemburu terlebih karena permintaan terakhir suaminya ingin bertemu Jeng Yah. Maka berpacu dengan malaikat maut, Lebas, Karim, dan Tegar, pergi ke pelosok Jawa untuk mencari Jeng Yah, sebelum ajal menjemput sang Ayah.

Perjalanan itu bagai napak tilas bisnis dan rahasia keluarga. Lebas, Karim dan Tegar bertemu dengan buruh bathil (pelinting) tua dan menguak asal-usul Kretek Djagad Raja hingga menjadi kretek nomor 1 di Indonesia. Lebih dari itu, ketiganya juga mengetahui kisah cinta ayah mereka dengan Jeng Yah, yang ternyata adalah pemilik Kretek Gadis, kretek lokal Kota M yang terkenal pada zamannya.

Apakah Lebas, Karim dan Tegar akhirnya berhasil menemukan Jeng Yah?


Gadis Kretek tidak sekadar bercerita tentang cinta dan pencarian jati diri para tokohnya. Dengan latar Kota M, Kudus, Jakarta, dari periode penjajahan Belanda hingga kemerdekaan, Gadis Kretek akan membawa pembaca berkenalan dengan perkembangan industri kretek di Indonesia. Kaya akan wangi tembakau. Sarat dengan aroma cinta.

Detail lengkapnya bisa dilihat di sini.

Kalian punya wishful Wednesday juga? Gabung aja ke blog hopnya Astrid di sini.

Wednesday, February 22, 2012

[Blog Hop] Wishlist Wednesday #1


Mulai tertarik mengikuti blog hop. Aku mulai dengan Wishlist Wednesday, mengingat wishlist-ku memang serasa tak habis-habisnya.

Wishlist Wednesday is a book blog hop where we will post about one book per week that has been on our wishlist for some time, or just added (it's entirely up to you), that we can't wait to get off the wishlist and onto our wonderful shelves.

So what do you need to do to join in?
  • Follow Pen to Paper as host of the meme.
  • Please consider adding the blog hop button to your blog somewhere, so others can find it easily and join in too! Help spread the word! The code will be at the bottom of the post under the linky.
  • Pick a book from your wishlist that you are dying to get to put on your shelves.
  • Do a post telling your readers about the book and why it's on your wishlist.
  • Add your blog to the linky at the bottom of this post.
  • Put a link back to pen to paper (http://vogue-pentopaper.blogspot.com) somewhere in your post.
  • Visit the other blogs and enjoy!


-----

Jadi... inilah buku yang masuk wishlist-ku minggu ini..


THE COURT OF THE LION # 1
by Eleanor Cooney dan Daniel Altieri


Sinopsis:

Tang Minghuang, sang Putra Langit, kaisar legendaris China abad kedelapan bertakhta di tengah intrik politik dan hantaman bertubi-tubi terhadap kehidupan pribadinya. Berawal dari kematian misterius sang putra mahkota, berlanjut dengan kasus bunuh diri sang permaisuri yang sangat dicintainya, dan kegilaan salah satu istrinya yang ditengarai kesurupan roh sang putra mahkota.

Jalannya kekaisaran pun akhirnya dikendalikan oleh Li Lin-fu, perdana menteri yang licik sekaligus cerdik, buta aksara tapi genius, serta sosok perencana ulung yang berdarah dingin dan ambisius. Sementara itu, An Lu-shan, lelaki barbar tapi berbakat dari perbatasan utara China mulai masuk ke dalam jalinan intrik sang perdana menteri.

Dan takdir kekaisaran berada di tangan Kao Li-shih, kasim tepercaya sekaligus sahabat sang Kaisar. Di tengah intrik dan keterpurukan sang Kaisar serta semakin berkuasanya Li Lin-fu, Kao Li-shih mempersembahkan kepada sang Putra Langit seorang gadis jelita yang hasratnya terhadap kepuasan erotis menjadi penentu nasib seluruh dinasti, Yang Kuei-fei.

Tiap-tiap karakter dalam novel ini berkelindan menjadi sebuah kisah yang kompleks sekaligus menghanyutkan. Peristiwa sejarah dan rekaan berpadu apik, mengungkap salah satu masa kejayaan kekaisaran China kuno dengan mendetail dan menghibur.

-----

Aku langsung suka pada buku ini begitu di-tag oleh Penerbit Serambi. Pertama, karena aku memang suka membaca historical fiction, kedua karena kisah sejarah kekaisaran China selalu menarik dengan intrik-intriknya. Ketiga...aku suka covernya! Buku ini baru terbit, bersama dengan buku keduanya. Tak sabar untuk memiliki buku ini!

Friday, February 17, 2012

The Female (Wanita)

"..Sepanjang sejarah tak ada seorang wanita... pasti juga tak seorang lelaki pun... pernah melaksanakan seperti apa yang telah dilaksanakan Theodora: satu langkah naik yang begitu perkasa." ~hlm 521.

Pepatah mengatakan, kehidupan manusia itu seperti roda, sekarang kita berada di atas, lalu suatu hari kita pun akan berada di bawah. Namun kehidupan Theodora adalah contoh sebuah paradoks yang sempurna. Ia pernah mengalami kehidupan yang terbawah dari yang paling bawah, namun pernah juga ia berada di puncak dari segala kekuasaan. Ya, Theodora adalah wanita paling berpengaruh di kerajaan Romawi. Ia lah Maharani yang memerintah Kekaisaran Romawi (Byzantium) di abad 600, sekaligus istri Kaisar Justinianus I.

Kisah ini bersetting di Konstantinopel, pusat pemerintahan Kerajaan Romawi pada saat pemerintahan Raja Justinus. Theodora adalah putri seorang pelacur jalanan kelas terendah. Saat itu ada dua kelompok rakyat di Konstantinopel yang selalu berseberangan: kelompok Hijau dan Biru, yang masing-masing biasanya membela pihak yang berlawanan saat pertandingan gladiator di Hippodrome. Theodora kecil sudah akrab dengan kehidupan strata masyarakat terendah. Ia berkawan akrab dengan seorang pengemis lumpuh buruk rupa yang selalu duduk di atas keledai, bernama Hagg (keburukan penampilan Hagg mengingatkanku pada sosok Quasimodo di The Hunchback of Notredame). Hagg adalah Raja dari Persaudaraan Pengemis, kelompok yang memiliki sistem organisasi dan jalur komunikasi yang kuat.

Theodora kecil sering mengemis bersama Hagg di pintu gerbang Hippodrome, dan ia sering membantu Hagg melarikan diri ketika ada rombongan prajurit datang hendak mengusir para pengemis. Dari sinilah terjalin hubungan persahabatan abadi antara Theodora dan Hagg hingga maut memisahkan mereka. Saat usia dua belas tahun Theodora telah menjadi "budak" kakak perempuannya yang mulai menjalani profesi tertua di dunia: pelacur. Dan ketika keperawanannya direnggut oleh seorang budak pria, Theodora pun secara resmi memasuki karier sebagai seorang pelacur jalanan, mengikuti ibu dan kakaknya.

Di Konstantinopel ada sebuah jalan yang bernama Jalan Hawa, yang--dapat diduga dari namanya--selalu penuh dengan pelacur jalanan (pedanae) hingga para famosae (wanita penghibur yang pelanggannya adalah bangsawan dan orang-orang penting). Suatu hari saat Theodora terpaksa mencuri demi membiayai abortus untuk kehamilannya, seorang famosae paling terkenal saat itu—Macedonia menolongnya dari hajaran massa. Macedonia akhirnya mengangkat kehidupan Theodora dengan menjadikannya pembantu hingga mengajari Theodora segala keahlian untuk menjadi pelacur profesional. Maka di usia enam belas Theodora pun meretas jalan untuk menjadi delicatae (pelacur kelas menengah) di Jalan Hawa.

Ternyata, Theodora bukan saja cantik, namun ia memiliki kecerdasan, keanggunan dan bakat untuk mempengaruhi pria. Sedikit demi sedikit ia berusaha menapak jalan makin ke atas. Theodora memulainya dengan menjadi semacam pengelola resepsi bagi famosae paling berkuasa saat itu, yaitu Chione, yang menjadi gundik gubernur kota John Capadocia. Resepsi besar itu disiapkan Chione setelah ia berhasil menyingkirkan rival terberatnya: Macedonia—sahabat yang telah mengangkat Theodora dari kubang lumpur hina. Kali ini Theodora, yang memiliki kalung mewah hadiah seorang saudagar, berhasil menolong Macedonia yang ditelantarkan dan dibuang dari Konstantinopel. Di sisi lain, Theodora mulai menyusun strategi untuk balas dendam pada Chione di resepsi besarnya itu...

Nyatanya, resepsi-balas-dendam Theodora berakhir dengan sukses. Chione ia singkirkan dengan amat keji, dan sekaligus Theodora mulai mendapatkan reputasi di kalangan pria tingkat atas. Namun di sisi lain, ia jadi memiliki musuh baru, yakni John Capadocia—yang ditertawakan rekan-rekannya gara-gara kejatuhan Chione-nya. Demi menghindari bahaya yang mengancam, Theodora serta-merta menerima tawaran Hecebolus—guberbur baru untuk Cyrenaica (Syria)—untuk menjadi wanita simpanannya di daratan Afrika. Malang bagi Theodora, selama dua tahun Hecebolus memperlakukannya dengan buruk, bahkan kemudian membuangnya di gurun Sahara, lagi-lagi berkat hasutan John Capadocia.

Pantang menyerah, meski nyaris mati di padang pasir, Theodora berhasil dengan selamat keluar dari maut--lagi-lagi berkat persahabatannya dengan para pengemis yang memiliki kata sandi Mendici. Setelah terpuruk dan tak memiliki apa-apa, kini giliran Macedonia menolong (lagi) Theodora. Dengan beberapa baju, uang dan sebuah surat 'sakti' yang ditulis Macedonia, Theodora menantikan mukjijat sambil bekerja sebagai pengantih (pemintal). Jaman itu, menjadi pengantih adalah jalan yang diambil pelacur untuk keluar dari pelacuran dan menjalani hidup normal.

Lagi-lagi dengan bantuan sahabatnya Hagg, surat sakti Macedonia yang ternyata dialamatkan kepada Pangeran Justinianus—saat itu Pangeran pewaris tahta, kemenakan Kaisar Justinus--mulai menunjukkan "kesaktiannya". Sang Pangeran menjadi tertarik pada seorang pelacur bernama Theodora.... Sebuah langkah pertama Theodora menuju ke kekuasaan.

Mudah ditebak, Theodora berhasil memikat Justinianus sehingga—alih-alih hanya menjadi penghibur sehari semalam--Justinianus malah mengambil Theodora sebagai selir. Dan makin lama makin nampaklah kemampuan strategi Theodora yang beberapa kali berhasil menyelamatkan Romawi, ketika diaplikasikan oleh Justinianus. Sementara itu musuh bebuyutan Theodora—John Capadocia—yang juga mengincar tahta Kaisar, tak tinggal diam. Sebuah pemberontakan diam-diam dibangunnya demi menjungkalkan kesempatan Justinianus naik takhta, sekaligus membalas dendam pada Theodora.

mozaik yang menggambarkan Maharani Theodora

Apakah yang kemudian terjadi? Bagaimana bisa Theodora akhirnya menjadi Maharani, mengingat ia hanyalah seorang wanita, apalagi berasal dari pelacur rendahan? Akankah rakyat menerimanya? Mampukah ia, seorang wanita biasa yang fisiknya rapuh dan mungil memikirkan masalah-masalah besar negara? Dan apakah John Capadocia berhasil melancarkan balas dendam abadinya kepada Theodora?

Sangat mengasyikkan membaca buku ini. Pertama, karena lengkap dan telitinya riset yang dilakukan Paul I. Wellman atas fakta sejarah, digabungkan dengan penuturan cerita yang menawan, membuatku hampir lupa bahwa kisah Theodora ini adalah kisah sejarah. Kedua, terjemahan yang tak kalah menawannya, berhasil menghadirkan nuansa sejarah dengan baik. The Female menyadarkan kita akan hakikat wanita sebagai seorang perempuan—kekuatan dan kelemahannya, dan bagaimana mereka seharusnya menggunakannya sebagai seorang penghuni dunia. Kini memang kita tahu bahwa wanita pun mampu memimpin negara, namun pada jaman Theodora hidup, wanita hanya berkutat pada soal kewanitaan saja. Maka kecerdasan, ketajaman pengamatan dan keberaniannya mengambil keputusan besar, merupakan prestasi gemilang yang patut dikenang.

Lima bintang untuk Wanita (judul terjemahan untuk The Female) ini!

Judul: Wanita
Judul asli: The Female
Penulis: Paul I. Wellman
Penerjemah: Alfons Taryadi
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Mei 2005
Tebal: 522 hlm

Tuesday, January 31, 2012

Fall of Giants

Manusia adalah satu-satunya binatang yang saling membantai jenisnya sendiri hingga berjuta-juta korban. Mungkin umat manusia pada akhirnya akan membinasakan peradaban mereka sendiri dari muka bumi dan meninggalkannya pada burung-burung dan pepohonan.” (Walter von Ulrich) ~hlm. 431.

Kutipan itu sangat tepat menggambarkan Perang Dunia yang terjadi karena kesombongan dan kebodohan manusia yang merasa paling hebat di dunia. Meski kematian Archduke Franz Ferdinand—pewaris tahta kerajaan Austria yang dibunuh oleh nasionalis Serbia—menjadi pemicu terjadinya perang Dunia I, namun sebenarnya penyebab perang itu adalah karena para petinggi dan diplomat negara-negara yang berkepentingan tidak menginginkan perdamaian. Inilah yang menjadi setting utama dari buku pertama trilogi teranyar dari Ken Follett: Fall of Giants (Runtuhnya Dinasti Raksasa).

Lewat buku ini, Ken Follett seolah-olah hendak menunjukkan, bahwa sebenarnya perang dapat dihindari. Perang bukanlah satu-satunya cara untuk menyelesaikan masalah politik internasional, apalagi mengingat banyaknya manusia yang harus dikorbankan dalam perang—Perang Dunia I sendiri memakan sekitar 10 juta korban, konflik paling mematikan dengan jumlah korban ke 6 terbesar sepanjang masa. Di sisi lain, Fall of Giants juga menyoroti Revolusi Rusia akibat tumbangnya pemerintahan Tsar, bangkitnya Partai Buruh di Inggris, dan perjuangan wanita untuk mendapatkan kesetaraan dalam ekonomi dan politik. Semua gelombang revolusi dunia yang ada dalam sejarah itu dengan briliannya dijalin oleh Ken Follett lewat konflik pribadi tokoh-tokoh fiktif yang turut mengalami akibat—langsung maupun tak langsung—dari Perang Dunia I. Lewat mereka, kita yang tak pernah merasakan perang, diajak melihat dan turut merasakan akibat dari perang itu.

Kisah ini berfokus pada tokoh-tokoh di 4 negara besar: Inggris, Rusia, Jerman, dan Amerika. Dibuka dengan inisiasi Billy, putra penambang batu bara di Aberowen, Wales. Dari keseluruhan buku ini, prolog inilah yang menjadi favoritku, sekaligus menjadikan Billy yang pemberani, tokoh favoritku. Aberowen melambangkan kesewenang-wenangan dan kesombongan kaum borjuis terhadap kaum buruh. Earl (Fitz) Fitzherbert adalah pemilik tanah pertambangan yang berpandangan konservatif dan meyakini bahwa kaum bangsawanlah yang harus memimpin Inggris, dan Inggris adalah negara yang paling hebat. Meski beristrikan bangsawan Rusia, Putri Bea, Fitz masih menjalin cinta dengan pengurus rumah tangganya: Ethel Williams, yang tak lain adalah kakak Billy Williams. Ketika Ethel akhirnya hamil, Fitz mencampakkannya begitu saja.

Suatu hari Fitz mengadakan jamuan untuk Raja Inggris: George ke V, dan mengundang diplomat-diplomat muda dunia. Hadir di jamuan itu: Maud Fitzherbert (adik Fitz)—perempuan liberal yang berjuang agar wanita memiliki hak pilih dalam pemilu, Walter von Ulrich—diplomat muda Jerman yang cinta damai, putra Otto von Ulrich yang dekat dengan Kaiser Jerman. Di pesta itu Walter dan Maud mulai berpacaran. Hadir juga Gus Dewar—diplomat cerdas yang akan menjadi penasihat yunior Presiden Amerika: Woodrow Wilson. Terakhir, Robert von Ulrich, kakak Walter yang homoseksual dan bekerja untuk Austria. Di pesta ini mereka terlibat dalam debat cerdas mengenai akankah negara masing-masing berperang beserta alasannya.

Sayangnya, tak lama kemudian terjadi pembunuhan atas Archduke Austria oleh orang Serbia. Austria marah besar. Di sini pendapat para diplomat terbelah. Di satu sisi mereka berpendapat bahwa Austria harus membalas perlakuan Serbia, meski hal itu akan memicu konflik dengan Rusia yang akan harus melindungi jalur perdagangannya di Balkan, dan yang notabene memiliki kekuatan militer menakutkan. Ayah Walter—Otto, Fitz dan Robert berada di kubu ini. Meski di luar mereka tak ingin terjadi perang, namun di dalam mereka yakin perang lah solusinya. Terutama bagi Fitz yang punya ambisi pribadi untuk sukses di militer untuk menjadi lebih terhormat. Di sisi satunya ada orang-orang muda yang cinta perdamaian: Maud dan Walter—yang jika perang berlangsung pasti tak dapat melanjutkan hubungan mereka, mengingat Inggris dan Jerman akan berada di 2 pihak yang berseberangan. Sementara itu, di luar lingkaran elite politik Eropa, ada juga Gus Dewar, Ethel dan Billy Williams, Grigori dan Lev Peshkov.

Masing-masing tokoh ini memiliki masalahnya sendiri-sendiri, dan secara langsung maupun tak langsung, perang akan mempengaruhi masa depan mereka. Contohnya kisah Grigori dan Lev Peshkov, dua bersaudara asal Rusia yang menjadi yatim piatu karena ayah dan ibu mereka dibunuh oleh rezim monarki. Sejak saat itu Grigori bertekad untuk bekerja dan mengumpulkan uang untuk pindah ke Amerika. Ada nuansa tersendiri di bagian Grigori dan Lev ini. Meski saudara kandung, mereka berbeda jauh dalam karakter. Grigori bermoral baik dan pekerja keras; sedang Lev bermoral buruk, selalu terbelit masalah dan sama sekali tak bertanggung jawab. Yang menarik adalah ketika mereka berdua jatuh cinta pada seorang wanita yang sama. Menarik melihat bagaimana kebanyakan wanita muda yang sering ‘terperosok’ pada ketampanan fisik dan rayuan gombal. Salah satu ending yang kutunggu-tunggu adalah apakah Katerina akhirnya sadar siapa yang mencintainya dengan tulus hingga mengorbankan banyak hal, dan mampukah Katerina berbalik mencintainya?

Seperti yang kita tahu, Perang Dunia I akhirnya meletus. Tokoh-tokoh muda kita pun berangkat ke medan perang. Kadang satu sama lain berjumpa, meski berada di pihak yang bermusuhan. Ken Follett tak hanya pandai menuturkan sejarah, namun ketegangan dan tragisnya perang dengan baik terekam lewat halaman demi halaman buku ini. Sementara itu, para wanita tak tinggal diam. Ethel mulai berjuang bersama Maud untuk mengangkat derajat kaum wanita. Meski awalnya hanyalah pengurus rumah tangga, Ethel dapat meniti karir sebagai editor koran, hingga memasuki ranah politik sebagai wakil Partai Buruh di parlemen. Satu lagi ending yang aku harapkan: akankah Fitz bertemu kembali dengan Ethel yang selalu mempesonanya? Dan bagaimana reaksi Fitz yang cenderung tak suka dengan kemandirian wanita, melihat Ethel yang kini nyaris sederajat dengannya? Dan akankah Ethel mampu melepaskan cintanya terhadap Fitz?

kiri: pasukan Rusia di parit untuk berlindung, menunggu serangan dari Jerman; Kanan: pertempuran di Somme

Lalu bagaimana nasib Walter dan Maud? Akankah 5 tahun perang mampu memisahkan cinta mereka? Dan bagaimana dengan Gus Dewar yang berkali-kali mengalami kegagalan cinta? Dan yang terakhir, bagaimana dengan Billy kita, si anak penambang? Akankah ia menjadi pahlawan dalam perang ini, atau hanya pecundang? Yang jelas, salah satu yang kusuka di bagian perang adalah peperangan di Somme yang sangat penting bagi Inggris. Mengapa? Hanya yang membaca bukunya yang akan tahu…

Meski mengasyikkan di bagian awal pemicu perang hingga perang berlangsung, kisah ini menjadi lumayan “berat” dan serius justru ketika perang usai dan monarki hancur, lalu negara-negara yang terlibat harus membangun struktur negara yang baru. Begitu masuk ranah politik domestik, alurnya agak menurun. Namun tetap, endingnya menjanjikan—seperti biasa dengan Ken Follett. Keberadaan tokoh-tokoh nyata seperti Winston Churchil, Lenin, dan Woodrow Wilson semakin menambah daya tarik kisah ini. Belum lagi keahlian Ken Follett membuat para tokohnya—yang semula tampak memiliki kehidupannya sendiri-sendiri—tiba-tiba saja bersilangan jalan dan membuat konflik makin melebar dan ruwet. Ruwet yang indah, untungnya!

Empat bintang kuanugerahkan bagi Fall of Giants. Satu bagi Ken Follett—yang telah bekerja keras meramu fakta sejarah yang akurat dengan fiksi yang menawan, satu bagi Billy, satu bagi Grigori, dan satu lagi untuk penerbit Esensi yang telah menerjemahkan buku ini, dan mengajak kita memperluas wawasan tentang Perang Dunia I, sekaligus diingatkan akan ngerinya perang dan indahnya perdamaian. Perang adalah permainan berbahaya segelintir pemimpin politik yang membuat jutaan rakyatnya menderita—bak bidak-bidak catur yang tak berdaya dikendalikan oleh para pemain catur. Herannya, bukannya belajar dari Perang Dunia I, negara-negara di dunia kembali berperang dengan cakupan yang lebih luas dan korban lebih banyak di Perang Dunia II. Tak sabar rasanya menunggu sekuel kedua trilogi Century ini yang bertutur tentang perang itu. Seperti kutipan di awal resensi ini, manusia yang (katanya) beradab, ternyata bisa jauh lebih biadab daripada binatang….

Judul: Fall of Giants
Penulis: Ken Follett
Penerjemah: Alphonsus C. Putro
Penerbit: Esensi (Erlangga grup)
Terbit: 2011
Tebal: 928 hlm

Tuesday, January 17, 2012

Historical Fictions I Wish To Be Translated

Berharap sangat para penerbit di Indonesia mau menerjemahkan dan menerbitkan novel-novel historical fiction ini. Ada 5 novel yang bagiku menarik, karena bukan saja bacaan yang menghibur, dari kelimanya aku yakin akan bisa belajar banyak hal baru. Inilah mereka, lengkap dengan rating di Goodreads, tahun terbit, informasi tentang apa novel itu, dan yang membuatku tertarik pada novel-novel itu. *berdoa semoga ada penerbit yang mau mengabulkan keinginanku*


Rating: 3,92, terbit Februari 2006

Tentang Joan of Arc, dari sudut pandang sepupunya.

“Joan of Arc... glorified mascot or truly a holy messenger? One thing I loved about this book is it allows you to decide.”











V
di’s Virgins by Barbara Quick
Rating 3,53, terbit Juli 2007

Tentang seorang gadis, murid komposer ternama Antonio Vivaldi.

“This novel is based on the real life composer Antonio Vivaldi who taught in an orphanage where there were tremendously gifted girls who sang and played musical instruments such as the violin. The story is told poetically through the voice of an orphan who plays violin and who is searching for her mother.”








Rating: 4,01, terbit 1987

Tentang Michelangelo yang melukis langit-langit Sistine Chapel.

“The book also gets inside his head as an artist as he designs and executes all of his work, especially his most beloved marble sculptures. I had no idea there are so many grades of marble and never thought about how arduous it was to extract the right marble out of the Roman hills. Or to move the finished sculptures to their designated locations.

The dense writing and length (760 pages) made it a slog for me to get through - but an exciting slog and I find myself thinking a lot about it. That's why I gave it five stars.”





T
he
Paris
Wife by Paula Mclain
Rating 3,74, terbit Februari 2011

Tentang kisah cinta Ernest Hemingway dan istri pertamanya, Hadley Richardson.

“A heartbreaking portrayal of love and torn loyalty, The Paris Wife is all the more poignant because we know that, in the end, Hemingway wrote that he would rather have died than fallen in love with anyone but Hadley.”











Madame Tussaud by Michelle Moran
Rating 3,99, terbit Februari, 2011

Tentang Marie Tussaud yang ahli membuat patung lilin.

“Spanning five years, from the budding revolution to the Reign of Terror,Madame Tussaud brings us into the world of an incredible heroine whose talent for wax modeling saved her life and preserved the faces of a vanished kingdom.”