Wednesday, February 23, 2011

Misteri Kematian Poe


Edgar Allan Poe, bagi yang (mungkin) belum mengenalnya, adalah seorang sastrawan besar Amerika. Beliau meninggal di Baltimore pada tahun 1849, dan sebab kematiannya hingga saat ini masihlah merupakan misteri. Dari sekian banyak sumber, dapat diambil kesimpulan bahwa Poe meninggal di Rumah Sakit Baltimore, empat hari setelah ditemukan dalam keadaan mabuk dan mengenaskan di hotel/kedai minum Ryan tepat pada hari diadakan sebuah pemungutan suara. Setelah itu segera diadakan sebuah pemakaman sangat sederhana, bahkan tanpa sebuah nisanpun, dan hanya dihadiri 4 orang kerabat dan teman lama Poe. Pemakaman itu begitu dingin, hambar, dan berkesan seadanya saja. Dan justru kesan itulah yang melekat di sanubari Quentin Clark, seorang pengacara tampan dan cerdas yang tepat saat pemakaman itu sedang melintas di depan makam.

Quentin adalah salah seorang dari sedikit saja pengagum karya-karya Poe pada saat itu. Pemikiran Poe yang tajam dan kritis, yang mengungkapkan kejeniusannya, tampaknya tak disukai oleh kebanyakan orang, termasuk media cetak yang pada masa itu sangat besar pengaruhnya dalam mempengaruhi opini massa. Media-media itu berlomba-lomba mencela Poe, menyebutnya memiliki moral dan mental yang buruk serta suka bermabuk-mabukan. Quentin sendiri telah beberapa saat berkorespondensi dengan sastrawan pujaannya ini, dan mengetahui bahwa Poe sedang berencana menerbitkan semacam jurnal sastra bertajuk The Stylus, yang akan menampilkan karya-karya sastra 'tingkat tinggi'. Hal itu memancing kebencian para pengarang ‘biasa’ karena membuat karya mereka jadi tampak picisan. Dari surat-menyurat itu, Quentin juga menyadari kegalauan hati Poe karena penolakan dunia terhadapnya, ditambah kondisi keuangannya yang buruk sehingga ia harus mencari dana kesana kemari demi terbitnya The Stylus.

Dari hubungannya dengan Poe, Quentin yakin bahwa Poe tidaklah sejelek yang dibicarakan orang saat itu, dan ini membuatnya termotivasi untuk membersihkan nama baik Poe sebagai sastrawan besar dunia. Hasrat Quentin untuk bertindak sebagai pengacara Poe yang sudah mati ini begitu besar hingga terpaksa mengorbankan kedudukannya di biro hukum yang diwarisi dari ayahnya dan dijalankan bersama Peter, saudara tirinya, juga hubungannya dengan seorang gadis yang dicintainya, Hattie Blum.

Lalu datanglah sebuah artikel yang menyebutkan bahwa karakter detektif dalam tiga kisah detektif yang ditulis Poe diambil dari sosok nyata seseorang yang tinggal di Paris. Nama detektif itu adalah C. Auguste Dupin, seorang jenius dengan kemampuan rasiosinasi (penalaran dengan menggunakan logika dan imajinasi tinggi). Maka Quentin pun pergi ke Paris untuk mencari dan menyeleksi sosok model itu, dan akhirnya menjatuhkan pilihan pada seorang Auguste Duponte.

Auguste Duponte, dengan kemampuan penalarannya yang hebat, telah sering membantu kepolisian Prancis menemukan kebenaran dalam kasus-kasus yang tak terpecahkan. Hal ini membuatnya mendapat banyak musuh yang membencinya, orang-orang yang tak ingin perbuatannya diketahui. Quentin menemukan Duponte dalam keadaan depresi karena hal itu. Dan setelah beberapa bulan merayu Duponte, akhirnya Quentin berhasil membawanya ke Baltimore untuk tinggal bersamanya di rumahnya, Glen Eliza, dan bersama mencari kebenaran dalam misteri kematian Poe.

Di sisi lain, datanglah seorang pengacara bernama Claude Dupin, atau biasa dipanggil Baron Dupin, yang muncul di Baltimore dan mengklaim dirinya sebagai sosok Dupin yang asli. Maka terjadilah sebuah kompetisi antara Duponte bersama Quentin, melawan si Baron bersama Bonjour, seorang wanita pencuri yang jadi asistennya. Banyak hal mencengangkan terjadi selama penyelidikan itu, dan bahaya pun beberapa kali mengancam jiwa Quentin. Sementara itu, pertunangan Quentin dengan Hattie terancam batal karena bibi Hattie dan nenek Quentin marah besar karena menganggap Quentin menodai nama besar keluarga dengan mangkir dari biro hukumnya dan malah mengurusi penyair dengan reputasi jelek yang sudah meninggal. Namun Quentin, dengan semangat berkobar untuk memulihkan nama baik Poe dan keberaniannya tetap melanjutkan penyelidikan bersama Duponte.

Di tengah penyelidikan yang berjalan bak siput, karena banyak orang dekat Poe sendiri tidak mau bersikap terbuka, Quentin mulai terombang-ambing kepercayaannya terhadap August Duponte. Ia bahkan sempat yakin bahwa mungkin Baron Dupin adalah sosok asli darimana karakter Dupin diambil. Baron Dupin sendiri adalah sosok yang menarik. Ia adalah pengacara yang kharismatik, mampu menyihir audience dengan caranya memaparkan kebenaran saat sidang. Namun ia juga tengah dililit utang sehingga akhirnya ikut menyelidiki kasus kematian Poe dengan harapan untuk mendapatkan uang. Ia malah ‘menjual’ acara di mana ia akan membuka kebenaran seputar rahasia kematian Poe.

Dan ceritapun makin bergulir dengan makin cepat dan makin menegangkan. Siapakah sosok detektif yang menjadi role-model Dupin dalam novel Poe? Auguste Duponte yang introvert dan tak banyak omong? Atau Baron Dupin yang flamboyan dan senang dihormati? Berhasilkah Quentin mengembalikan nama baik Poe? Oh….agaknya anda harus mengikuti langkah demi langkah, aksi demi aksi hingga ke halaman terakhir untuk dapatkan semua jawabannya. Di akhir novel ini, salah satu “Dupin” akan membeberkan analisisnya tentang apa yang dilakukan Poe saat ia bepergian dan akhirnya tiba di Baltimore, hingga saat kematiannya. Namun yang jelas, misteri sesungguhnya kematian Edgar Allan Poe masih tetap akan terselimut kabut tebal. Semua orang bisa menduga-duga, berspekulasi, menyusun kronologis, namun kebenaran yang sejati hanya Tuhan dan almarhum Edgar Allan Poe sendiri yang tahu….

Novel ini layak dibaca karena beberapa alasan…

Pertama, dengan membaca novel ini kita akan mendapat wawasan seputar kehidupan pribadi Poe di luar karya sastranya. Kisah cintanya, keluarganya, cita-cita dan idealismenya, juga kelainan kesehatan yang diidapnya. Kita juga akan melihat sikap terpuji Poe yang menolak perbudakan dengan rela menyisihkan sejumlah besar uang demi memberikan kemerdekaan pada seorang budak berkulit hitamnya: Edwin, padahal saat itu kondisi keuangannya sedang sulit. Hal-hal yang manusiawi inilah yang mungkin tak kita dapatkan dengan hanya mencari di Google…

Kedua, kita akan disuguhi banyak petikan dari ranah sastra karya Poe, puisi maupun kisah detektifnya. Bahkan karakter kisah detektifnya juga dipakai untuk menganalisis cara berpikir dan bertindak Poe sehubungan dengan penyelidikan kematiannya. Membaca The Poe Shadow--judul asli buku ini-- seolah mengapresiasi Edgar Allan Poe secara keseluruhan, ya tulisannya, ya pribadinya.

Ketiga, adanya unsur historis bercampur dengan fiksi menambah kenikmatan membaca buku ini. Matthew Pearl telah membingkainya dengan apik sehingga fakta dan fiksi itu mengabur tanpa batas, dan memberi kita sebuah nuansa kisah yang baru. Pearl sendiri mengklaim bukunya ini sebagai analisa misteri kematian Poe yang paling mendekati otentik, karena selain dari data-data yang telah ada hingga kini, ia juga memasukkan data-data baru yang belum pernah terungkap sebelumnya (lihat/dengar di videonya di: sini). Dan jangan khawatir, di catatan pengarang, Pearl akan memilah-milah mana fakta dan mana fiksi dari kisah ini, juga data-data baru yang ia dapatkan. Pendeknya, membaca kisah ini puas deh!

Catatan untuk penerbit Q-Press >> Sayang sekali buku seindah ini tidak diterjemahkan dengan lebih serius. Masih banyak salah ejaan yang tertebar di sana-sini. Cukup mengganggu meski akhirnya menjadi biasa karena ceritanya sendiri mampu mencengkeram gairah bacaku. Semoga Q-Press dapat lebih baik lagi di masa mendatang, karena saat ini terus terang aku jadi ragu untuk membeli buku terjemahan lainnya kalau tidak amat terpaksa. Dalam hal Misteri Kematian Poe, belum ada penerbit lain yang mau melirik buku ini untuk diterjemahkan….

Judul: Misteri Kematian Poe
Judul asli: The Poe Shadow
Penulis: Matthew Pearl
Penerbit: Q-Press
Cetakan: Juli 2007
Tebal: 796 hlm

Friday, January 2, 2009

Maharani [Imperial Woman]

Salah satu karya Pearl S. Buck tentang lika-liku hidup seorang wanita di balik dinding-dinding megah kekaisaran Manchu di Cina. Kisah ini adalah sebuah fiksi yang didasari oleh sejarah. Maharani adalah kisah seorang wanita yang amat ambisius, yang rela mengorbankan hidup pribadi bahkan cintanya sendiri demi ambisi menjadi yang terbesar. Inilah kisahnya...

-----


Pada tahun 1852, Orchid adalah seorang gadis yang tengah tumbuh remaja di sebuah rumah sederhana milik pamannya. Ia tinggal bersama ibu, adik, dan adik sepupunya, Sakota. Pada saat berusia 17 tahun, ia dipilih menjadi salah satu calon selir Kaisar Hsieng Fen yang berkuasa saat itu. Padahal, Orchid dan sanaknya Jung Lu, pengawal gerbang Kota Terlarang, yakni kompleks dimana Kaisar tinggal, saling mencintai dan sudah dijodohkan. Namun, daripada menikah dengan Jung Lu dan menjadi ibu rumah tangga, ia memilih menjadi selir kaisar. Tapi, ini tidak mudah karena ada 59 gadis lain yang menjadi saingannya. Namun sebelum berangkat pun, semua orang yakin bahwa Orchid akan menjadi nomor satu. Ini karena ia gadis yang rupawan, dengan perawakan tegak dan langsing, mata yang tajam dan jernih, serta memiliki kekuatan dan kecerdasan yang menjadi ciri khasnya.


Tiba di istana, Orchid sangat bersemangat melihat kebesaran dan kemegahan istana. Sebelum berangkat ibunya telah memberikan 2 tips agar dirinya terpilih, yaitu: memisahkan diri dari yang lain agar ia menjadi istimewa, dan berbaik-baiklah pada Ibu Suri, karena Ibu Suri ikut menentukan permaisuri dan selir bagi putranya, sang Kaisar. Maka dari hari pertama Orchid mulai banyak mengundang perhatian dengan datang terlambat pada waktu pemilihan, hingga berani menatap wajah Kaisar pada saat diperlihatkan pada saat pemilihan, padahal menurut adat mereka tidak boleh menatap langsung wajah Kaisar. Akibatnya, Kaisar segera terpikat pada kecantikannya, meski Ibu Suri telah memperingatkan putranya bahwa gadis ini keras hatinya.


Karena Sakota adalah sanak dari permaisuri terdahulu, maka Sakota-lah yang terpilih menjadi permaisuri. Sedang Orchid menjadi salah seorang selir, yang mulai saat itu dipanggil Yehonala sesuai nama marganya. Kaisar memiliki banyak selir, saking banyaknya kadang-kadang seorang selir tak pernah dipanggil untuk melayani Kaisar di tempat tidurnya hingga akhir hayatnya. Pada saat itu, ada seorang kasim rendahan bernama Li Lien Ying yang berusaha menjadi pelayan dan bersekutu dengan Yehonala, karena sang kasim yakin bahwa Yehonala akan naik sampai kedudukan yang tinggi di istana itu, dan pada saat itu si kasim berharap dapat ikut naik juga jabatannya. Inilah salah satu contoh intrik-intrik yang ada di dalam tembok istana, dan intrik ini terjadi mulai dari jabatan yang tinggi, pangeran dan menteri, sampai pada pelayan dan kasim rendahan.


Demikianlah, pada suatu malam Li Lien Ying membisiki Yehonala bahwa Sakota sang permaisuri sedang mengandung. Bila anaknya laki-laki, anak itu kelak akan menjadi pewaris takhta, dan ibunya menjadi ratu atau ibu suri. Namun bila perempuan, maka Kaisar akan mulai memilih dari antara selirnya untuk bisa mendapatkan anak laki-laki. Dan Li Lien Ying memperkirakan Kaisar akan segera memanggil Yehonala dalam waktu dekat, maka bersiap-siaplah Yehonala. Ia mulai rajin membaca buku-buku dan belajar banyak hal dari perpustakaan istana. Ia juga khusus membawakan buah semangka yang sudah ranum pada Ibu Suri yang memang doyan semangka. Betapa senang hati Ibu Suri, dan ia-pun menceritakan tentang si selir Yehonala pada putranya. Maka, besok malamnya Yehonala pun mendapat panggilan yang ia sudah tunggu-tunggu dari Kaisar. Dan malam itu, berkat daya pikatnya yang kuat Yehonala berhasil merebut cinta si Kaisar. Ia akhirnya berhasil menjadi selir paling favorit si Kaisar.


Dalam pada itu, karena Jung Lu adalah sanaknya, Yehonala kadang-kadang memanggilnya untuk curhat. Jung Lu yang begitu besar cintanya pada Yehonala selalu menyemangati Yehonala untuk selalu kuat agar dapat mencapai cita-citanya menjadi ratu. Namun, karena kerinduan dan gairah mudanya, ia pun pada suatu hari sempat berhubungan badan dengan Yehonala di dalam istana tanpa diketahui siapapun. Itu hanya terjadi sekali, dan setelah itu Jung Lu selalu bertindak sebagai bawahan yang hormat dan setia pada sang calon Ratu.


Pada saat seluruh negeri menunggu sang permaisuri melahirkan, Yehonala memperhatikan ada suatu perubahan pada tubuhnya. Ia-pun kini sedang mengandung, dan ia amat yakin bahwa yang dikandungnya adalah bayi lelaki. Maka pada saat Sakota ternyata melahirkan bayi perempuan, Yehonala langsung menghadap Ibu Suri yang amat kecewa karena belum mendapatkan pewaris, dan melaporkan bahwa ia, Yehonala akan memberikan Kaisar seorang putra.


Maka Yehonala menjadi sangat dimanja oleh Kaisar. Karena Kaisar Hsien Feng ini lemah, baik fisik maupun mentalnya, sedikit demi sedikit Yehonala berhasil membujuknya agar ia, Yehonala diperbolehkan membantu masalah kenegaraan. Maka, setelah mendapat laporan dari bawahannya, Kaisar biasanya berkonsultasi dengan Yehonala, baru memberikan keputusan. Semua orang tahu akan hal ini. Yehonalapun semakin rajin mempelajari politik, sampai akhirnya ia melahirkan bayi lelaki yang sehat dan tampan, pewaris Kaisar. Sejak saat itu, Sakota iri padanya dan mulai menjauhinya. Apalagi, Yehonala dianugerahi pangkat setara dengan permaisuri, yaitu sebagai Ratu Istana Barat, dengan nama baru: Tzu Hsi. Sedang Sakota adalah Ratu Istana Timur.

Sementara itu, Yehonala juga mendapatkan dukungan dan kesetiaan dari An Teh Hai, si Kasim Kepala dan Li Lien Ying sebagai sekutu-sekutunya. Dari mereka ia banyak mendapat informasi tentang gosip dan intrik yang sedang terjadi di sekeliling Takhta Naga, diantaranya tiga pangeran yang ingin memberontak jika Kaisar mangkat.


Pada waktu itu, negara-negara Barat (Amerika dan Eropa) mulai masuk ke daratan Cina dan banyak menuntut untuk diberi kemudahan dalam berdagang dan menyebarkan agama. Mereka tidak mau bersujud kepada Kaisar bila menghadap, karena menurut ajaran agama, mereka tidak boleh bersujud kepada manusia. Hal ini dianggap kekaisaran sebagai penghinaan, dan Kaisar ingin mengusir orang-orang Barat itu keluar dari negerinya, namun dengan resiko pihak Barat akan melancarkan perang. Yehonala sebagai penasihat terpercaya Kaisar menasihati agar pemerintah mengambil sikap menunggu dan menunda-nunda kedatangan mereka.


Pada saat itu, Tzu Hsi sudah mulai dewasa cara berpikirnya, dan ia paham bahwa tak ada jalan lain, ia harus melupakan masa lalu, menjadi kuat, mengasuh Putra Mahkota hingga dewasa dan mewujudkan impiannya. Para bawahan Kaisar-pun sudah lebih banyak membicarakan soal kenegaraan dengan Tzu Hsi. Tzu Shi adalah wanita yang unik. Ia adalah gabungan antara kelembutan dan kekejaman, antara kecerdasan dan keangkuhan. Ia keras kepala, namun bila diperlukan, ia bisa menjadi diplomat yang ulung. Semuanya ini membuatnya tidak lagi dipandang sebagai wanita, ia bagaikan gabungan kecantikan wanita dengan otak laki-laki. Di atas semuanya itu, ia sangat ambisius. Ia dapat mempengaruhi Kaisar, sehingga Kaisar tidak mempertimbangkan pendapat menterinya lagi. Akibatnya, bangsa Barat marah besar dan akan menyerang ibukota. Maka Kaisar terpaksa membuat perjanjian gencatan senjata, sementara semua keluarga kerajaan harus mengungsi ke kota Jehol.


Benar saja, Istana Musim Panas yang sangat dikagumi dan dicintai*oleh Tzu Shi luluh lantak akibat serangan tentara Barat, dan membuat Tzu Hsi sangat sedih. Ditambah lagi kenyataan bahwa dirinya sudah lama tidak dipanggil untuk menemani Kaisar. Dari bisik-bisik sekutu setianya, sang Kasim Kepala, tahulah ia bahwa 3 serangkai pangeran sanak Kaisar telah merencanakan merebut hak perwalian Putra Mahkota dan akhirnya merebut takhta. Tzu Hsi sangat gundah mendengar ini. Ia langsung memutuskan akan mengamankan pewarisan takhta kekaisaran lewat sebuah surat yang ia tulis sendiri. Di saat yang sama, 3 serangkai juga menyiapkan surat untuk menunjuk mereka sebagai wali. Mereka harus beradu cepat mendapatkan tanda tangan Kaisar! Karena fisiknya sudah terlalu lemah akibat terlalu banyak main wanita dan pengaruh candu, malam itu Kaisar sekarat. Tzu Hsi berhasil mendapatkan tanda tangan Kaisar beberapa detik sebelum Kaisar wafat.


Dengan demikian, jadilah Tzu Hsi seorang Ibu Suri. Ia berhasil mengamankan cap kekaisaran berkat bantuan sanaknya Jung Lu dan kasim Li Lien Ying, dan demikian mengamankan kedudukan sang Putra Mahkota sebagai calon Kaisar. Ia memaksa pula Ratu Istana Timur, Sakota untuk menjadi wali bersama dirinya, agar Sakota tidak dapat berbalik memusuhinya. Sementara itu, Tzu Hsi-lah yang mengurus kenegaraan. Dalam perjalanan pulang dari Jehol ke ibukota, ada rencana kudeta yang membahayakan jiwa Putra Mahkota. Beruntunglah, Jung Lu selalu setia melindungi Tzu Hsi dan Putra Mahkota (yang diduga keras sebenarnya anak Jung Lu!) sehingga malapetaka tak terjadi.


Pada saat-saat tertentu sang Ibu Suri merasakan kesepian yang amat sangat. Ia tidak dapat mempercayai siapapun, dan tak ada yang mencintainya dengan tulus, kecuali Jung Lu. Meski Jung Lu sudah dinikahkan dengan wanita yang tidak ia cintai, cintanya yang tulus dan setia tetap hanya untuk Tzu Hsi seorang. Bahkan Kaisar, yang adalah putranya sendiri tidak mencintai Tzu Hsi. Dan ketika Kaisar mangkat, keponakan Tzu Hsi yang ia jadikan Kaisar-pun tidak mencintainya. Mereka semua Kaisar-Kaisar yang lemah. Sehingga selama itu sang Ibu Suri menjadi penguasa tertinggi takhta naga. Ia bertambah tamak dan haus akan kemewahan, dan tidak mau menerima perubahan peradaban. Saat negara harusnya membuka pintu bagi hubungan diplomatik dengan negara-negara lain di muka bumi ini, ia justru menutup pintu dan malah memusuhi negara-negara lain, termasuk Jepang dan Rusia yang notabene sama-sama dari Asia.

Hal inilah yang hampir saja meruntuhkan kekaisarannya. Untungnya, pada saat-saat kritis ia sadar dan akhirnya mau berkompromi dengan peradaban modern. Namun, untuk itu, amatlah mahal harga yang harus ia tanggung, baik secara personal maupun kekaisarannya sendiri.


Catatan Fanda
:
Maharani adalah sosok wanita mandiri, tidak bergantung pada orang lain. Percaya diri akan kemampuannya, semangatnya tak pernah luntur bila ia sudah berketetapan hati untuk mencapai cita-citanya. Aku seperti melihat diriku sendiri dalam karakter-karakter itu. Namun, ia bisa menjadi kejam pada orang lain yang menghalanginya, dan ia juga amat sangat serakah. Selain itu, ia tak pernah mau mengakui kesalahannya. Inilah sifat-sifat yang tidak aku senangi. Mungkin, untuk menjadi seorang penguasa kerajaan besar pada jaman itu, memang ia harus bersikap demikian. Selain itu, aku belajar bahwa, seperti kata pepatah: semakin tinggi pohon, semakin kencang angin menerpa. Semakin tinggi kekuasaan atau jabatan seseorang, semakin kesepian ia, dan semakin banyak kendala dan problema yang ia hadapi, apalagi bila ia seorang wanita. Bagi para wanita, ambillah teladan kemandirian dan percaya diri sang Maharani. Meski kita wanita, kita berhak untuk memiliki impian dan bekerja keras untuk mewujudkannya. Namun kita semua harus ingat, untuk tidak serakah
. Ingatlah bahwa kita tidak dapat mendapatkan semuanya dalam hidup ini. Pada suatu titik, kita harus berkompromi dan mengorbankan sesuatu untuk mendapatkan lainnya yang lebih baik.

Jika anda suka kisah-kisah klasik, budaya atau sejarah, buku dengan total 629 halaman ini asyik dibaca dan layak masuk dalam daftar bacaan anda. Pearl S. Buck berhasil memukau pembacanya dengan intrik-intrik dan suasana serta budaya Cina yang memang indah. Moga-moga review-ku kali ini tidak membosankan, tetapi masih tetap menyisakan penasaran untuk anda segera mencari bukunya dan membacanya juga...