Wednesday, December 26, 2012

All The President’s Men: Chapter 1-9


All The President’s Men is a history book about Watergate scandal that forced US President Richard Nixon to resign his office in 1974. I read this book for my The Well Educated Mind Self-Project. There would be two chapter posts, this one is for chapter 1-9, and there will be the second one for chapter 10-17. These chapter posts are part of the first level of inquiry for the project, the grammar-stage.

Two reporters of Washington Post doing reports of Watergate

Chapter 1

Five men were arrested for breaking-in the Democratic headquarter in Watergate. One of the main suspects (Howard Hunt) is a White House consultant.

Chapter 2

There was large sum of money in one of the Watergate suspects’ account which could be tracked to President Nixon’s Committee for Re-election of The President (CRP) campaign fund.

Chapter 3

A scheme of money laundering in Mexico was found, and interviews of CRP staffs revealed that the huge amount of money was used for Watergate’s tapping, and was distributed by highest level persons in CRP. Investigation was being held by the federal, but the final charges did not go as expected, the biggest evidence hadn’t mentioned at all.

Chapter 4

There had been some efforts to hide facts of Watergate tapping: documents were destroyed, staffs were under pressure to stay away from press, staffs were persuaded to give certain answers to FBI, and staffs possessed critical information were promoted after Watergate. Washington Post had a valuable source with nickname "Deep Throat".

Chapter 5

John Mitchell—Attorney General—was one of the controllers of the secret slush fund which was used for financing illegal intelligence activities against Democratic. There were four others related to it, one of them was from inside the White House. A security personnel named Baldwin confessed about the tapping.

Chapter 6

Nixon’s presidential campaign also used young attorneys—“Mafia USC”—to do political sabotage and espionage—“double spy”—to infiltrate the Democratic. There were more than fifty agents of White House who were directed to ruin the opposition and made the whole election collapsed.

Chapter 7

The “Mafia USC” recruiter had a relation with Howard Hunt; he was paid by Nixon’s private lawyer. Nixon’s campaign used provocateurs to sabotage Democratic convention, while Nixon’s Assistant was mentioned as one of the sabotage’s contacts. The Ministry of Justice had most of the evidences, but they have not done anything yet to follow up the case.

Chapter 8

Nixon’s Private Lawyer turned out to be one of five people who had the authority to withdraw the “secret fund”. Nixon’s Campaign Director finally held a press conference as a counter attack to Washington Post, but they still did not respond to the accusation.

Chapter 9

It was finally revealed that Nixon’s Assistant was the fifth person who controlled the secret fund, the key person of Watergate. Overjoyed with this, Washington Post made a mistake by publishing news which the reporters had misinterpreted their source. The investigation was then stuck.


~~~~



Wednesday, November 21, 2012

Vivaldi’s Virgins


Seandainya anda hidup di abad 17 dan tinggal di Ospedale della Pietà—asrama dan sekolah musik putri di Venice—anda mungkin akan sering mendengar denting bel berbunyi di malam hari, yang disusul oleh tangisan bayi. Itu berarti ada satu orang anak (kebanyakan) perempuan lagi yang tak diinginkan orang tuanya….

Anna Maria dal Violin adalah salah satu penghuni Pietà yang empat belas tahun lalu ditemukan di scafetta (tempat yang dirancang khusus untuk meletakkan bayi dari luar asrama) oleh salah seorang biarawati yang sedang bertugas. Tak diketahui siapa orang tua Anna Maria, dan ‘dal Violin’ adalah nama yang disematkan padanya sebagai siswa yang belajar alat musik biola. Sejarah mencatat bahwa maestro Antonio Vivaldi—yang juga seorang pastor—pernah mengajar di Pietà. Anna Maria merupakan anak emasnya saat itu, karena hanya Anna Maria yang mampu menginterpretasikan musik yang diciptakan Vivaldi sesuai keinginannya.

Aku bisa membayangkan Anna Maria yang merasa tersisih dan tak dicintai seorang pun di dunia, ketika semua penghuni ospedale dijemput sanak keluarganya untuk berlibur, sementara Anna Maria harus tetap tinggal di ospedale karena tak ada seorang pun yang menjemputnya. Di salah satu saat-saat sedih itulah terjadi dua hal yang mengubah kehidupan Anna Maria. Peristiwa pertama adalah maestro Vivaldi mengunjunginya dan memberinya selembar hasil karya terbarunya yang khusus di persembahkan bagi Anna Maria, bertuliskan ‘Per Sig.ra: Anna Maria’ di atasnya. Sebuah penghargaan yang sangat berarti bagi Anna Maria.

Kejadian kedua adalah ketika Anna Maria berurai air mata menyaksikan kegembiraan teman-temannya yang meninggalkannya sendirian di ospedale, datanglah Sister Laura—biarawati baik hati yang mempromosikan Anna Maria pada Vivaldi—menyuruh Anna Maria duduk di kamarnya dan menulis surat bagi ibunya. Ya, ibu yang tak pernah dikenal ataupun diketahui keberadaannya. Ibu yang mungkin takkan pernah membaca tulisan putrinya. Namun kata-kata Sister Laura membesarkan hati Anna Maria untuk menumpahkan kerinduannya akan kasih seorang ibu, atau kecintaannya pada musik, dan segala kegalauan masa remaja yang mewarnai hidupnya yang seorang diri di dunia, lewat surat-surat kepada ibunya. “God knows everything, and He will make sure your letter finds its way to your mother’s heart.”, itulah kata-kata lembut Sister Laura yang memberi semangat baru pada Anna Maria.

Selanjutnya Barbara Quick merangkai kisah hidup Anna Maria lewat surat-surat itu maupun narasi, menggunakan teknik maju-mundur, dari ketika Anna Maria remaja hingga setelah ia menjadi wanita dewasa. Banyak hal menarik yang tersingkap dari balik dinding-dinding ospedale yang bagi orang luar tertutup rapat, kecuali sesekali ketika para figlie di coro—anggota paduan suara—melantunkan lagu-lagu yang menyentuh hati dalam alunan suara merdu mereka yang terdengar bak paduan suara para malaikat di surga yang sedang memuliakan Tuhan. Kita bisa melihat bagaimana perjuangan para Vivaldi’s Virgins—anak-anak perempuan asuhan Vivaldi—berusaha melepaskan diri dari jerat nasib seumur hidup ‘terkubur’ bak di penjara dan tak pernah merasakan dinamika dunia luar.

Saat itu pilihan bagi para figlie di coro hanyalah: a) Menjadi biarawati; b) Menjadi Maestra di opesdale; c) Menikah dengan seorang pria (bila ada yang meminang). Bukan masa depan yang cerah bagi teman-teman Anna Maria: Marietta dan Giulietta, sehingga mereka harus melakukan muslihat agar dapat lepas dari Pietà. Sementara Anna Maria sendiri berjuang untuk memecahkan misteri siapa pemilik locket kuno yang secara misterius jatuh ke tangannya (dan kemungkinan besar berasal dari ibunya), sambil terus memupuk kecintaan dan keahliannya memainkan musik yang sudah menjadi panggilan hidupnya. Oh, dan Anna Maria juga sempat jatuh cinta pada pemuda Jerman yang membawakannya locket itu...

Kisah ini dijalin dengan begitu memikat oleh Barbara Quick, menggunakan bahasa Inggris yang cantik khas abad 17 dan bertaburan suasana khas Venice yang eksotis dan memabukkan. Sungguh….sensasi menyeberangi laguna di atas gondola di malam hari nan perkat bertabur bintang dan bermandikan sinar bulan, sungguh dapat terlukis jelas di benakku. Belum lagi suasana carnival dengan topeng-topengnya serta kemeriahan opera dan permainan music para maestro. Oh….anda akan benar-benar terbawa suasana Venice abad 17 sambil menikmati intrik-intrik para wanita di ospedale. Oh ya, dan jangan lupakan kisah hidup sang maestro, Antonio Vivaldi, yang konon pernah ‘diasingkan’ dari kalangan musik Venice karena sang biarawan yang terkenal dengan julukan “Red Priest” ini dicurigai memiliki kekasih. Benarkah kisah itu? Dan bagaimana nasib Anna Maria? Mampukah ia menemukan ibunya? Akankah ia menjadi seorang maestra? Bagaimana kisah cintanya dengan si pemuda Jerman?

Lima bintang untuk Vivaldi’s Virgins, yang dari awal bahkan sudah membuatku menangis terharu, dan terpesona dengan alunan bahasanya yang bak alunan musik…. Buku ini adalah satu dari antara sedikit buku yang mampu membuatku menangis tersengguk-sengguk!



Judul: Vivaldi’s Virgins
Penulis: Barbara Quick
Penerbit: Harper Collins
Terbit: 2007
Tebal: 284 hlm

Friday, November 16, 2012

Genghis Khan 2: Badai Di Tengah Padang


Bila di buku pertama kita diajak melihat rekam jejak Temujin kecil hingga bagaimana ia mulai merealisasikan cita-cita mempersatukan Dataran Mongolia, maka di bagian kedua ini kita akan menelusuri berdirinya Imperium Mongol—imperium terbesar yang pernah ada dalam sejarah manusia—dan bagaimana sepak terjang Genghis Khan—sang Ka-Khan yang dulunya bernama Temujin—melakukan ekspansi hingga ke Eropa dan Afrika.

Di akhir buku pertama Temujin telah melakukan aliansi dengan Wang Khan dan memenangkan beberapa pertempuran, yang membuat semua klan-klan di dataran Mongolia waspada. Salah satunya Jamuka, anda Temujin yang memiliki satu visi namun beda pandangan pada cara pencapaiannya. Jamuka mulai mencari dukungan klan-klan lain untuk mengenyahkan Temujin sebelum ia semakin hebat. Salah satu caranya dengan memutuskan hubungan baik Wang Khan dan Temujin lewat putra Wang Khan—Nilka Senggum—yang iri karena Temujin dijadikan urutan pertama calon penerus sang ayah.

Namun bagi Temujin, untuk memenangkan pertempuran, kau tidak harus memiliki jumlah prajurit sama dengan atau lebih besar daripada lawan. Bahkan dengan jumlah prajurit seperempat dari lawan, kau bisa menang jika menerapkan strategi yang tepat. Ketika henda menyerang China dan berhadapan dengan Tembok Besar nan perkasa, Genghis Khan berkata dalam hati: “Tidakkah mereka tahu bahwa tembok pelindung sejati semestinya dibangun di dalam benak mereka?” Dan memang dalam ratusan perang yang dijalani bangsa Mongol di bawah pimpinan Genghis Khan, mereka bukan saja mempraktekkan aneka strategi yang cerdik, namun juga menciptakan banyak alat dan teknologi baru untuk perang pada jaman itu, salah satunya adalah meriam.

Kembali pada perseteruan Temujin vs Jamuka, kita tentu tahu siapa yang akhirnya menang. Setelah banyak peperangan dan pengkhianatan yang ia hadapi, Temujin akhirnya dapat mendeklarasikan Imperium Mongol yang mempersatukan banyak klan yang tadinya tersebar dan saling bermusuhan, kini menjadi sebuah kekuatan yang menakutkan. Ketika Jamuka akhirnya tertangkap dan dihadapkan ke Temujin—yang tetap menganggapnya sahabat masa kecil yang disayanginya—Jamuka mengakui apa yang menyebabkan kegagalannya. Menariknya, Jamuka ternyata menyadari bahwa kurangnya kasih sayang di masa kecilnya lah yang menyebabkan ia tak mampu menjadi pemimpin yang baik, yang lalu mengandaskan impiannya. Aku turut terharu saat Temujin harus berpisah dengan Jamuka, karena meski ia selalu menyayangi anda-nya, Temujin pun tahu bahwa selama salah satu dari mereka tidak binasa, maka cita-cita besar mempersatukan Dataran Mongolia takkan pernah terwujud.

Selanjutnya kita diajak menyaksikan peperangan demi peperangan yang dilancarkan Genghis Khan tanpa henti selama bertahun-tahun lamanya, dan menambahkan daerah taklukannya hingga terus melebar dan meluas. Pertanyaan kita mungkin, bagaimana seorang Genghis Khan dapat mempersatukan klan-klan Mongol yang barbar dan memimpin negara-negara jajahannya yang notabene jauh lebih maju? Ini yang sangat menarik! Di satu sisi Genghis menerapkan aturan yang sangat ketat bagi masyarakat maupun bagi prajurit Mongol, yang disebut yassa. Aturan-aturan ini dibuat agar moral rakyat menjadi semakin baik, karena bagi pelanggar, hukumannya adalah pemenggalan kepala! Banyak korban berjatuhan pada saat pertama yassa diberlakukan, namun seiring berjalannya waktu, mereka menjadi semakin terbiasa untuk taat pada aturan, dan akhirnya bangsa Mongol dapat meninggalkan kebejatan moralnya di masa lalu. Sebuah pelajaran yang harusnya diterapkan di negeri kita!

Di sisi lain Genghis sangat adil memperlakukan bawahannya. Mereka yang kompeten, setia, dan memiliki jasa terhadap negara, akan menikmati jabatan, kekayaan dan privilese bagi anggota keluarganya. Dan hal ini diberlakukan sama-rata untuk semua, tanpa pandang suku, agama, kaya-miskin, status sosial dsb. Tak ada bedanya apakah kau berasal dari keluarga penggembala ternak atau putra kepala suku, asal kau punya kemampuan, kau akan mendapatkan kesempatan. Genghis selalu menepati janji yang pernah ia buat, dan konon ia makan dan berpakaian yang sama dengan semua bawahannya. Pendek kata, Genghis pemimpin yang peduli rakyat, pandai menilai karakter orang, melindungi mereka yang ia pimpin, membawa mereka pada kesejahteraan, dan tak pernah melupakan janjinya. Tipe pemimpin idaman, bukan?

Dengan kemampuannya memimpin serta strategi perang yang mumpuni—dan ia mempelajari strategi perang itu dari pengalaman hidup sehari-hari yang tak pernah luput dari pengamatan tajam Genghis—akhirnya Genghis Khan mampu mewujudkan cita-citanya, mempersatukan bangsa Mongol dan menjadikannya salah satu imperium yang paling disegani pada masanya.

Satu hal yang (kembali) aku sadari setelah membaca buku ini, bahwa letak geografis dan sumber daya yang dimiliki suatu negara atau masyarakat sangat menentukan pembentukan watak masyarakatnya. Dataran Mongol adalah dataran yang sangat sulit dihuni dengan sumber daya alam yang minim,  membuat masyarakatnya hidup secara nomaden. Mereka hanya dapat bertahan hidup jika memiliki fisik yang tangguh dan determinasi yang kuat, bahkan kuda-kuda asal Mongol yang tubuhnya pendek kekar sangatlah kuat. Mereka konon bisa mendapatkan makanan di hamparan salju dengan cara mengeruk lapisan salju dengan kaki mereka.

Kunci sebagian besar kemenangan pasukan Mongol melawan lawan yang jauh lebih besar dalam jumlah prajurit maupun kekayaan, adalah kecepatan, persatuan, dan pantang menyerah. Meski sedang terpisah, pasukan-pasukan Mongol telah mengembangkan system komunikasi yang amat cepat sehingga mereka dapat berkumpul kembali dalam waktu singkat, bila diperlukan. Dan tentang pantang menyerah, tak perlu dikisahkan lagi. Untuk mengejar salah satu musuh bebuyutan mereka yang tak kunjung menyerah, salah satu anak pasukan Genghis melakukan perang dan pengejaran selama delapan tahun, sejauh ribuan kilometer, dan akhirnya berhasil. Pasukan Mongol tak punya rasa takut terhadap kematian, karena meninggal di medan perang adalah tujuan hidup mereka. Salut pada Imperium Mongol, dan tentu saja… Genghis Khan! Empat bintang untuk buku ini, kurang 1 bintang dari sempurna karena banyak bagian yang benar-benar keji, meski untuk situasi masa itu amat wajar.

Judul: Genghis Khan 2: Badai Di Tengah Padang
Penulis: Sam Djang
Penerjemah: Reni Indardini
Penerbit: Bentang Pustaka
Terbit: Juni 2011
Tebal: 478 hlm.

Tuesday, October 30, 2012

I, Claudius


Tiberius Claudius Drusus Nero Germanicus memerintah Kerajaan Romawi pada tahun 41, menggantikan kemenakannya Caligula yang dibunuh oleh anak buahnya sendiri. Robert Graves menulis novel historical fiction tentangnya ini dalam bentuk memoir, seolah-olah Claudius sendiri—demikian ia dipanggil—mengisahkan segala yang ia lihat dan alami sepanjang hidupnya; setidaknya bagaimana ia, yang sejak lahir disepelekan orang, mampu mencapai tahta tertinggi Romawi, yang kala itu merupakan monarki terbesar di dunia.

Claudius adalah sosok yang berkarakter menarik, itu aku sadari hanya dengan membaca beberapa halaman pertama buku ini—kalau Robert Graves benar-benar dapat menangkap karakternya dengan tepat. Claudius dilahirkan sebagai anak yang sakit-sakitan. Ada yang tak beres dengan lututnya, meski kedua tangannya terbilang kuat. Ia juga sering gagap saat berbicara, terutama ketika gugup atau emosi. Pamannya, Kaisar Tiberius menjulukinya sebagai ‘Clau Clau Claudius’. Karena kekurangannya ini—kelak ditengarai Claudius menderita semacam polio—ia dijauhi oleh semua orang, termasuk ibunya yang menganggap Claudius idiot, dan neneknya Livia yang bahkan tak pernah mau makan semeja dengan Claudius yang dianggap menjijikkan.

Dari segi keturunan, Claudius adalah cucu dari Augustus dan Livia dari garis ayahnya Drusus (Drusus adalah putra Kaisar Tiberius—putra Livia dari suami pertama namun diadopsi oleh Augustus); juga cucu dari Marc Antony dan Octavia dari garis ibunya Antonia. Karena sejak awal telah dijauhkan dari politik oleh Augustus, Claudius menekuni sejarah dari para sejarawan yang tersohor saat itu. Kelak saat Claudius remaja, Augustus pernah tercengang ketika mendengarkan sang cucu berorasi dengan sangat baik (ia mendengarkan diam-diam dari balik tirai, karena jika Claudius mengetahui kehadiran Augustus, gagapnya akan langsung timbul).

Sepanjang hidupnya sebelum menjadi Kaisar, Claudius telah mengamati—dan merekamnya dalam tulisan-tulisannya—kiprah keluarga besarnya dalam politik yang kotor dan kejam. Kita dapat melihat bagaimana Kaisar Augustus sebenarnya didominasi oleh Livia yang ambisius dan banyak membunuh cabang-cabang keluarga mereka kalau dilihatnya orang tertentu akan menghalangi rencananya, yaitu agar garis keturunannya dapat menjadi Kaisar menggantikan Augustus. Setelah Augustus wafat, Tiberius menggantikannya, dan tetap dibayang-bayangi Livia, menjadikan Roma sebagai tempat jagal manusia, dengan tak terhitung banyaknya senator atau anggota keluarga diseret ke pengadilan dengan tuduhan palsu untuk dihukum mati.

Ketika Tiberius akhirnya meninggal, semua orang bersorak-sorak gembira menyambut penggantinya, Caligula (kemenakan Claudius). Tak banyak yang mengetahui perangai asli Caligula yang sadis dan angin-anginan. Claudius yang selama pemerintahan Tiberius berhasil ‘tetap hidup’ di tengah ramainya pengadilan palsu, justru makin menderita saat pemerintahan Caligula. Namun hebatnya, dengan berpura-pura bodoh, dan se-lemah yang dikira orang, Claudius berkali-kali berhasil menghindar dari maut. Hingga akhirnya para bawahan Caligula muak, lalu mereka berkonspirasi membunuh Caligula. Dan karena Claudius satu-satunya marga Julio-Claudian laki-laki yang masih hidup dan dalam usia untuk memerintah Roma, maka mereka memaksanya menjadi Kaisar.

Hingga di sinilah kisah ini berakhir; namun meski Graves tak mengisahkan bagaimana Claudius memerintah Roma, dari buku dan artikel yang kubaca, rupanya Claudius berhasil ‘membawa kembali Romawi ke jalan yang benar’, ia mengelola administratif pemerintahan dengan  tertib, dan rakyat pun kembali merasa aman. Claudius juga berhasil melebarkan ‘sayap’ penaklukan Romawi ke daerah lain, dan ekonomi negara pun berangsur-angsur pulih setelah dihambur-hamburkan dengan semena-mena oleh Caligula.

Satu hal yang menarik tiap kali membaca novel-novel sejarah bertema Romawi, kita akan menemukan lebih banyak lagi kisah tentang tokoh-tokoh lainnya, sehingga setelah membaca banyak buku, lama-lama kita akan dapat membentuk ide tentang masing-masing tokoh, lebih lengkap daripada membaca novel tentangnya! :)

Sebagai kisah sejarah, buku ini termasuk ‘berat’, alih-alih berkonsentrasi pada kisah Claudius saja, Graves—menurutku—terlalu lebar mengisahkan tokoh-tokoh lain, misalnya mengikuti dengan detil kronologi perang Germanicus melawan Jerman. Akhirnya aku merasa bahwa Claudius terlalu banyak berada di balik layar, padahal ada banyak hal yang lebih ingin kuketahui tentang diri Claudius, misalnya bagaimana ia memperlakukan para pembunuh Caligula, atau apakah ia menepati sumpahnya pada Livia untuk menjadikannya Goddess, dan yang terutama bagaimana ia memerintah Romawi, apa saja sumbangsihnya bagi Roma, kecuali buku-buku sejarahnya. Sayang….semuanya terhenti di halaman terakhir.

Namun bagaimana pun juga, Graves telah berhasil membuka kisah salah satu Kaisar Romawi yang tak diperhitungkan orang, yang tak gagah perkasa, namun toh dapat membawa kerajaan terbesar di dunia itu ke sebuah era yang lebih makmur dan sejahtera.

Empat bintang untuk I, (Clau-Clau-) Claudius!

Judul: I, Claudius
Penulis: Robert Graves
Penerbit: Vintage Books
Tebal: 433 hlm

Wednesday, October 3, 2012

Pompeii


Pompeii adalah nama sebuah kota yang terletak di kekaisaran Romawi, yang hancur lebur akibat meletusnya Gunung Vesuvius pada tahun 79. Romawi, sebuah peradaban yang begitu maju di dunia saat itu—ditandai dengan sistem saluran air (aqueduct) terbesar dan tercanggih di dunia—ternyata tak siap menghadapi erupsi vulkanik Gunung Vesuvius, karena mereka tak pernah mengenal vulkanologi sebelumnya, sehingga tak menyadari tanda-tanda alam yang biasanya mengawali rangkaian pembentukan magma di perut sebuah gunung berapi. Lewat kisah historal fiction karya Robert Harris ini kita diajak untuk sedikit memperluas wawasan tentang vulkanologi, dan terutama tanda-tanda akan terjadinya letusan gunung berapi.

Salah satu tanda awal aktifnya gunung berapi adalah menurunnya debit air. Dan hal inilah yang terjadi di saat itu, sehingga seorang aquarius (insinyur yang bertanggung jawab di bidang perairan) muda bernama Attilius dikirim dari Roma untuk mencari sumber air baru di daerah Misenum. Attilius baru saja menjabat karena aquarius terdahulu telah menghilang selama dua minggu. Berkat intuisinya, Attilius segera menemukan sumber air, namun keanehan terjadi, air itu sepertinya bersembunyi dan terus menghilang ke dalam tanah. Belum lagi ia sempat memikirkannya, datang seorang gadis cantik bernama Corelia dan budaknya, meminta bantuan Attilius menyelamatkan pengurus ikan yang hendak dihukum mati majikannya karena dianggap menyebabkan ikan-ikan kesayangannya mati, padahal si pengurus ikan bersikeras kualitas air lah yang menjadi penyebabnya.

Dari kolam ikan di Vila Hortensia milik jutawan Ampliatus itulah, Attilius menemukan keanehan kedua: ada kandungan belerang di saluran air vila itu, yang menyebabkan ikan-ikan mati. Lalu keanehan itu disusul keanehan lainnya, debit air di kota Misenum terus menurun, dan di kota-kota tetangga air mulai berhenti mengalir. Maka Attilus harus bertindak cepat mencari titik kerusakan saluran air yang memanjang berkilo-kilometer itu. Untuk mempercepat perjalanan, ia meminjam kapal dan peralatan dari Laksamana Plinius (Pliny) yang—selain laksamana juga seorang pengamat ilmu pengetahuan yang menulis banyak buku tentang gejala-gejala alam.

Dalam misi penting itu—penting karena, bila saluran air yang melewati beberapa kota itu tak kunjung diperbaiki, akan terjadi huru hara—perjalanan Attilius diwarnai dengan berbagai halangan. Mulai dari mandor yang sangat membenci dirinya, sikap mencurigakan si jutawan Ampliatus, juga kenyataan bahwa keselamatan dirinya terancam oleh musuh yang ingin membunuhnya. Namun selama itu, ternyata Gunung Vesuvius semakin aktif bekerja. Dan puncaknya, pada tanggal 24 Agustus 79, Vesuvius memuntahkan isi perutnya.

Robert Harris mampu menggambarkan kedahsyatan erupsi itu dan porak-porandanya peradaban manusia yang hidup di sekitarnya dengan baik. Dari kisah ini kita belajar bahwa bahaya terbesar letusan gunung berapi bukan terletak pada hujan batu yang menyertai letusan pertama, namun justru hantaman awan panas yang dibawa angin, yang suhunya mencapai 200 derajat Celcius, yang hanya dalam sedetik mampu membinasakan apa saja—manusia maupun hewan—yang dilewatinya tanpa ampun. Di sinilah kita akan menyaksikan perjuangan manusia untuk melawan kemarahan alam, khususnya bagi Attilius yang demi cintanya bagi seorang gadis, harus jatuh bangun mengiringi kemarahan Vesuvius.

Seperti novel-novel Harris yang sudah pernah kubaca sebelumnya, terutama Imperium dan Conspirata, novel ini juga membawaku melanglang buana ke tanah Romawi, meski emosinya tak sedahsyat yang kurasakan dengan Imperium dan Conspirata. Bonus yang paling mengasyikkan adalah porsi ilmu pengetahuan tentang alam (terutama tentang vulkanologi) yang banyak tersisip di sini. Apalagi Harris banyak mengguakan metafora-metafora cantik di sana-sini. Dan terutama aku paling suka dengan sosok Attilius, seorang aquarius yang sangat menjiwai pekerjaannya. Tak melulu insinyur, Attilus benar-benar memiliki keterikatan pada alam, dan terutama pada air, sehingga saat mendengar aliran air, ia bisa merasa mendengar sebuah simfoni yang indah. Aku selalu kagum pada orang yang begitu mencintai pekerjaannya, yang mampu melihat hal-hal yang tak mampu dilihat orang lain, keindahan—sesuatu yang tak biasa—pada hal-hal yang biasa bagi orang lain.

Empat bintang untuk Pompeii!

Judul: Pompeii
Penulis: Robert Harris
Penerjemah: Fahmy Yamani
Editor: Siska Yuanita
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Terbit: Maret 2010
Tebal: 389