Wednesday, August 3, 2011

A Golden Web


Delizioso!”, celoteh bayi perempuan berusia 8 bulan itu setelah mengecap air susu dari payudara ibu susunya. Ya, anda tak salah baca! Kata dalam bahasa Italia yang artinya “lezat” itu keluar dari mulut seorang bayi, yang bukan hanya dapat melafalkan kata itu dengan benar, namun juga memahami sensasi yang diekspresikan kata itu. Jadi, tak mengherankan kan, kalau si bayi itu kemudian tumbuh menjadi seorang gadis yang amat pandai. Alessandra Giliani, nama gadis itu. Lahir di awal abad 14 bukanlah waktu yang tepat bagi seorang perempuan yang memiliki cita-cita setinggi langit, meskipun “setinggi langit” di sini hanyalah berarti mempelajari ilmu kedokteran di bangku kuliah. Resiko terbesar bagi perempuan yang mau mendobrak dominasi kaum pria seperti itu, adalah dibakar! Namun resiko itu dikalahkan oleh gabungan impian dan keberanian dari Alessandra, gadis muda dari Persiceto, Italia.

Sejak kecil Alessandra telah menunjukkan ketertarikan pada alam sekitar. Tak seperti anak gadis umumnya yang tinggal di rumah dan membantu ibunya mengurus rumah tangga, Alessandra senang bertualang di alam bebas, memperhatikan makhluk hidup dan semua fenomena alam. Ia biasa bepergian secara diam-diam bersama abangnya: Nicco yang amat menyayanginya. Ibu Alessandra meninggal saat ia masih kecil, dan seorang ibu tiri yang tak menyukainya menggantikan tempat di sisi ayahnya. Ursula, ibu tirinya itu, sangat ingin “menendang” keluar Alessandra dari rumahnya, maka ia dan ayah Alessandra mengatur sebuah perjodohan dengan anak pengusaha kaya. Demi mengejar impian dan menghindari perkawinan, Alessandra pun merancang rencana untuk melarikan diri ke Bologna demi belajar kedokteran.

Untunglah, ritual sebelum pernikahan bagi gadis anak orang kaya di masa itu, adalah menjalani pingitan di biara. Alessandra pun akhirnya melarikan diri dari biara tempat ia dipingit. Masalah kedua yang harus dihadapi Alessandra di tempat tujuannya adalah kenyataan bahwa gadis atau perempuan tak boleh mengikuti pelajaran. Namun bukan Alessandra kalau tak dapat memikirkan solusinya. Samaran sebagai seorang pemuda dipakainya, sehingga ia akhirnya menjelma menjadi Sandro, mahasiswa cerdas di Bologna.

Apakah semuanya lantas berjalan dengan lancar? Tentu saja tidak. Awalnya seorang mahasiswa miskin yang sama-sama magang di kediaman professor kedokteran Mondino de’ Liuzi, memergoki samarannya. Belum lagi si mahasiswa ganteng bernama Otto yang mulai menebarkan benih-benih cinta dalam hatinya. Namun di luar itu, impian Alessandra untuk belajar kedokteran berjalan mulus. Bahkan Mondino mengangkatnya sebagai asisten yang tugasnya melakukan pembedahan pada mayat, sementara sang professor menjelaskan anatomi tubuh pada mahasiswa-mahasiswanya. Kepandaian dan ketrampilannya memegang pisau bedah dengan cepat beredar ke seluruh Bologna.

Sementara itu di Persiceto, rencana untuk menikahkan Alessandra telah semakin dekat. Ayahnya, diikuti diam-diam oleh Nicco, berangkat ke Bologna untuk menemui calon menantunya. Siapakah ia? Dan bagaimana kalau ayahnya menemukan Alessandra dalam samarannya sebagai Sandro di Bologna?

***


Belajar Kedokteran dan Anatomi di Bologna


Banyak hal menarik yang kutemui di buku ini. Salah satunya adalah proses belajar para mahasiswa di Bologna. Alih-alih mendaftarkan diri ke universitas tertentu untuk mendapatkan pengajaran, para mahasiswa mendirikan asosiasi mahasiswa dan mengundang ahli/profesor yang mereka pilih sendiri untuk mengajar mereka, di tempat yang mereka tentukan sendiri yang tak terjadwal, namun biasanya di lapangan terbuka. Jadi, untuk mendapatkan pengajaran, anda cukup membayar kepada asosiasi, lalu mulai mengikuti pelajaran. Hal menarik kedua adalah cara mengajar professor Mondino de’ Liuzi. Ia biasa duduk di kursi pengajar yang tinggi (mengingatkanku pada kursi wasit bulu tangkis), dengan 2 orang asisten menekuri sebujur mayat segar. Salah satunya akan melakukan pembedahan, satunya lagi akan menunjukkan bagian yang disebutkan oleh Mondino dalam pengajarannya, seraya mengutip dari bukunya, sementara para mahasiswa menyimak di seberangnya.


Begini kira-kira pose saat Mondino mengajar, bersama Alessandra yang membantu pembedahan



Tapi yang paling menarik, tentu saja, mengenai apa yang diperjuangkan oleh Alessandra semasa hidupnya yang singkat. Setelah mondok di kediaman professor Mondino, sekaligus menjadi asisten tetapnya, Alessandra menemukan dirinya tenggelam dalam ketertarikan pada bidang anatomi dan pembedahan. Setelah beberapa kali mempraktekkan pembedahan pada mayat babi (berkat bantuan Otto), Alessandra akhirnya menemukan suatu teori yang mengagumkan: sirkulasi darah di tubuh manusia. Alessandra membuat 2 cairan pewarna dengan warna merah dan biru. Setelah mengeringkan darah dari mayat segar manusia sungguhan, ia menyuntikkan cairan biru dari sebelah kanan jantung, dan merah dari sebelah kiri. Dengan cara ini Alessandra adalah manusia pertama di dunia yang pernah menyaksikan perjalanan darah dari bilik kiri jantung ke bilik kanan jantung, dari jantung ke paru-paru dan kembali lagi ke jantung (mungkin dari sinilah pembuluh arteri diberi warna merah dan pembuluh vena diberi warna biru pada pelajaran biologi kita!). Pendek kata, penemuan itu adalah penemuan yang mematahkan apa yang pernah dipelajarinya hingga saat itu, bahkan dari gurunya sendiri: Mondino.

Jelaslah bahwa Alessandra telah membuktikan bahwa perempuan sepertinya juga mampu berkiprah di dunia ini. Jauh sebelum emansipasi digaungkan, Alessandra telah menjadi ahli anatomi perempuan pertama di dunia. Dengan pencapaiannya itu, Alessandra seolah berteriak pada dunia bahwa masa depan seorang perempuan bukan saja terletak di antara 2 pilihan: masuk biara atau menikah. Perempuan pun dapat menggapai jenjang pendidikan dan karir seperti halnya pria. Dan untuk berhasil, dibutuhkan lebih dari sebuah niat, keberanian untuk mengambil resiko lah yang paling menentukan keberhasilan atau kegagalan kita.

Sejumput romantika, secuil biologi dicampurkan ke dalam semangkuk kisah emansipasi, menghasilkan ramuan bacaan yang menghibur sekaligus mencerahkan ini! 4 bintang untuk A Golden Web, dan aku berharap penerbit Atria akan semakin banyak menerbitkan kisah-kisah sejarah yang berbobot seperti ini sambil tetap mengusung keceriaan dalam kisah bernuansa young-adult!

Judul: A Golden Web
Pengarang: Barbara Quick
Penerbit: Atria
Terbit: Maret 2011
Tebal: 272 hlm

Monday, August 1, 2011

The Heretic's Daughter

Manusia cenderung mempercayai apa yang ingin ia percayai. Itulah yang mendasari salah satu sejarah terkelam yang terjadi di Amerika pada akhir abad 17: Pengadilan Penyihir Salem. Peristiwa itu membawa banyak korban yang harus dihukum mati karena dituduh/dianggap sebagai penyihir. Salah satunya adalah seorang wanita bernama Martha Carrier. Salah seorang keturunannya lah yang menulis kisah ini, yakni Kathleen Kent.

Keluarga Carrier merupakan keluarga yang hidup sederhana di Bilerica. Thomas adalah suami dan ayah yang pendiam dan menyimpan ketenangan di balik tubuhnya yang besar. Martha adalah seorang wanita tangguh, keras kepala, tegas. Suatu karakter yang jarang ditemui pada kaum wanita pada jaman itu yang halus dan penurut. Martha bahkan berani membentak laki-laki yang memiliki niat jahat terhadap keluarganya. Sarah, yang menjadi penutur di kisah ini adalah anak perempuan pertama di keluarga itu. Ia memiliki 3 abang dan 1 adik perempuan.

Kisah diawali dengan peristiwa wabah cacar yang melanda desa mereka. Dari situ rasanya kisah ini tidak berjalan ke mana-mana. Kathleen hanya berputar-putar di Andover, memperlihatkan wajah desa dengan komunitas kecilnya, bagaimana piciknya pandangan mereka pada saat itu. Bagaimana kecurigaan tumbuh antar tetangga, bahkan antar kerabat dekat. Benih-benih itulah, seperti halnya cacar, yang tumbuh dari kecil hingga akhirnya membesar, meluas, dan akhirnya mematikan. Penyakit, baik pada hewan maupun manusia, atau kebakaran ladang, semua dihubung-hubungkan dengan sihir. Maka begitu seseorang sudah mengeluarkan tuduhan "sihir", kata itu bak bergaung ke seluruh wilayah Salem dan sekitarnya. Semua dendam dan amarah akhirnya menemukan tempat penyaluran: teriakilah musuhmu sebagai penyihir, maka kau tak perlu bersusah payah membalas dendam, dan dendammu akan terbalas secara sah oleh hukum.

Ketika isu merebak bahwa banyak orang ditangkap karena dianggap penyihir, hubungan Sarah yang tadinya jauh dan dingin terhadap ibunya, mulai menghangat. Dalam kondisi ketakutan dan kecemasan, mereka pun menyadari kemiripan di antara mereka berdua. Martha menyuruh Sarah untuk mengakui bahwa ibunya penyihir untuk menjamin kehidupan Sarah dan seluruh keluarga. Martha sendiri takkan pernah mengakui hal yang tak pernah diperbuatnya. Kebenaran akan ia junjung tinggi, meski untuk itu ia harus mengorbankan hidupnya sendiri.

Akhirnya keluarga Carrier ditangkap, kecuali sang ayah. Kathleen menggambarkan dengan detail kondisi di penjara yang suram dan jauh dari manusiawi itu. Hingga tiba saatnya Martha Carrier dihukum gantung karena dianggap sebagai "Ratu Penyihir" dan tak pernah mau mengakui bahwa ia penyihir. Adegan perpisahan yang menyayat hati tergambar jelas di sini. Keputusan Martha untuk menyuruh anak-anaknya berbohong ternyata benar, karena hal itu terbukti menyelamatkan nasib mereka. Sedangkan Martha sendiri menghadapi kematian dengan kepala tegak, tetap menjunjung tinggi kebenaran dan kehormatan.

“Kehidupan bukanlah sesuatu yang kaumiliki atau yang bisa kau simpan. Kehidupan adalah sesuatu yang sanggup kaulepaskan. Boleh jadi tak ada pilihan lain kecuali merelakannya.$E2�� ~Martha Carrier

Petikan berita di surat kabar lawas tentang Martha Carrier yang diadili sebagai penyihir
(sumber: marthacarrier.org)


Mengapa pengadilan penyihir Salem harus terjadi?

Pertanyaan yang terus bercokol di benakku. Apakah –sebenarnya—ada praktik sihir dan penenungan di Salem? Setelah browsing di internet, aku tak menemukan informasi apapun tentang penyihir. Jadi, kesimpulanku, hal itu terjadi karena kombinasi sempitnya wawasan dan sifat buruk manusia. Peristiwa Salem dipicu oleh sakitnya anak perempuan Pendeta Parris. Di kemudian hari, gejala-gejala yang dideritanya disinyalir sebagai penyakit yang disebabkan karena semacam fungus yang menginfeksi bahan makanan yang dimakannya. Namun oleh penduduk gejala itu dikaitkan dengan buku Cotton Mather tentang praktek sihir, dan dengan kentalnya takhayul di antara mereka, maka mereka segera mempercayai bahwa si gadis kecil kena sihir (sumber: law2.umkc.edu). Hal ini diperparah dengan sistem hukum yang buruk dan adanya konflik pribadi antar keluarga atau tetangga, dan dengan gampangnya orang menuding orang lain sebagai penyihir. Dari sebuah kebetulan, akhirnya menjadi kepastian, karena manusia cenderung mempercayai apa yang ingin ia percayai.

Apakah praktek itu hanya terjadi pada abad-abad lalu, khususnya pada tahun kelam 1692 itu? Tidak. Hingga saat inipun kita juga sering cenderung mempercayai sesuatu yang ingin kita percayai. Ketika seorang mantan narapidana dituduh melakukan kejahatan, kita akan langsung percaya, karena di benak kita sudah terpancang anggapan bahwa narapidana = kriminal. Padahal belum tentu ia melakukan kejahatan yang dituduhkan. Coba saja, ketika seorang selebriti idola orang banyak dituduh melakukan hal buruk, pasti banyak yang tak percaya. Karena kita semua ingin mempercayai bahwa idola kita adalah manusia sempurna.

Bagaimana pun, The Heretic’s Daughter sekali lagi membuka mata kita pada kelemahan manusia. Meski sekarang manusia modern sudah lebih berwawasan dan kritis, namun kelemahan manusia itu tetap ada. Mari kita menjadi lebih kritis lagi pada apapun yang kita dengar/lihat. Jangan terlalu gampang larut dalam arus masa sebelum kita memahami duduk perkaranya dengan jelas.

3 bintang untuk buku ini!

Judul: The Heretic's Daughter
Penulis: Kathleen Kent
Penerbit: Matahati
Terbit: Mei 2011
Tebal: 282 hlm

Friday, July 29, 2011

The Day Of The Jackal

Kalau anda berkesempatan terbang ke Paris, Prancis, anda akan mendarat di bandara tersibuk no. 7 di dunia: Charles de Gaulle (menurut statistik tahun 2010), yang oleh orang Prancis disebut juga Roissy Airport. Aku pernah berkunjung ke Prancis (walau tidak lewat udara), dan saat itu aku tahu bahwa nama bandara yang terletak di utara kota Paris ini diambil dari nama presiden Prancis: Charles de Gaulle. Namun, baru setelah membaca buku The Day of The Jackal karya Frederick Forsyth inilah (ditambah beberapa riset di internet) aku mengetahui pula bahwa Presiden Charles de Gaule adalah pemimpin negara yang paling banyak mengalami percobaan pembunuhan, ada yang mencantumkan angka 31, ada pula yang bilang 32 kali. Dan salah satunya adalah yang dilakukan Jean Bastien-Thiry pada 22 Agustus 1962 di daerah pinggiran Prancis: Petit Clamart. Aksi Thiry ini kemudian muncul dalam kisah fiksi The Day of The Jackal ini. Forsyth kemudian menambahkan satu lagi percobaan pembunuhan terhadap Gaulle (fiktif tentunya), yang dilakukan oleh seorang pembunuh bayaran berkebangsaan Inggris dengan nama sandi: The Jackal.

Mengapa de Gaulle dibenci?

Charles de Gaulle merupakan pendiri Republik Prancis ke-5. Ia dapat berkuasa karena didukung oleh militer Prancis yang saat itu masih menduduki Aljazair. Namun, de Gaulle tiba-tiba mengubah kebijakannya, dan akhirnya memberikan kemerdekaan kepada Aljazair. Kaum militer kecewa dan marah atas keputusan itu, lalu mencoba membunuh de Gaulle dalam kudeta militer (Etoile Militaire), yang akhirnya gagal total bahkan sebelum rencana terbentuk, karena de Gaulle mampu mengembalikan simpati pasukan untuk mendukungnya. Setelah itu para jebolan militer ini membentuk gerakan bawah tanah yang disebut OAS, dengan misi membunuh de Gaulle. Salah satu aksinya adalah peristiwa Petit Clamart, ketika OAS dipimpin oleh Argoud. Setelah aksi itu ternyata gagal dan Argoud dibunuh, naiklah Rodin, wakilnya, menjadi pemimpin OAS. Dari Rodin lah timbul gagasan cemerlang untuk menyewa seorang pembunuh bayaran independen untuk membunuh de Gaulle, mengingat keamanan makin ditingkatkan oleh pemerintah setelah Petit Clamart, sehingga anggota OAS sendiri sulit untuk bergerak tanpa ketahuan. Setelah melakukan penyelidikan, didapatlah profil seorang pembunuh bayaran yang pas untuk misi ini: seorang Inggris bertubuh tinggi-atletis dan berambut pirang.

The Jackal

The Jackal (di dalam buku diterjemahkan menjadi Sang Jakal, yang menurutku tak perlu) adalah salah satu pembunuh bayaran terbaik di dunia. Tubuhnya tinggi, rambutnya pirang, pembawaannya ramah kalau memang diperlukan dalam penyamaran, namun dingin dan misterius saat menjadi dirinya sendiri. Jackal menjadi pembunuh yang “bersih” (tak meninggalkan jejak yang dapat dilacak) karena cara kerjanya yang teliti, metodis dengan perencanaan yang sangat cermat. Bagian pertama dari buku ini akan menjabarkan perencanaan ini secara detail, mulai dari riset mengenai karakter calon target, pengamatan terhadap lokasi pembunuhan, pembuatan senjata, hingga pemalsuan identitas dan penyamaran. Dalam pembuatan paspor misalnya, Jackal tak melulu memalsukan paspor saja, namun mencari sendiri “korban” yang akan ia curi identitasnya. Jackal suka bekerja sendiri, menentukan cara dan waktunya sendiri sehingga bahkan orang yang merekrutnya pun tak akan tahu ia sedang ada di mana atau menyamar menjadi siapa. Singkatnya, hanya Jackal sendirilah yang memegang rahasia tentang rencananya.

Namun, serapat-rapatnya rahasia itu ditutupi, tetap saja ada celah yang bisa disusupi. Berkat kejelian Kolonel Rolland, mereka yang berada di sekitar Presiden de Gaulle mengendus rencana pembunuhan itu, lalu diperintahkanlah Detektif Lebel untuk menemukan si Jackal ini. Tentu saja ini sebuah tugas sulit, bahkan nyaris mustahil bagi Lebel. Bagaimana tidak, ia harus menemukan seorang asing yang tak bernama, dan petunjuknya hanyalah nama sandinya: Jackal. Dalam upayanya ini, Lebel yang harus menghadapi tekanan besar dari para pejabat negara, ditambah dengan kekeras kepala-an sang Presiden sendiri yang tak mau pencarian itu dilakukan terang-terangan karena takut Prancis dinilai pengecut. Kedua hal itu membuat Lebel harus putar otak. Namun kerja kerasnya, yang juga melibatkan berbagai pihak di berbagai negara, terbayar ketika sedikit demi sedikit selubung misteri yang mengelilingi Jackal mulai menguak. Di sisi lain, rahasia misi pencarian itu juga bocor hingga Jackal pun mengetahui bahwa dirinya sedang dicari. Makin seru lah kisah perburuan sang pembunuh bayaran ini yang memenuhi bagian ke dua buku ini. Dan sementara itu, rencana untuk membunuh Presiden masih tetap berjalan….

Dua kubu yang memiliki hasrat menggebu untuk mencapai tujuannya. Yang satu ingin menemukan dan menggagalkan pembunuhan. Yang lainnya ingin menghindar dan melaksanakan pembunuhan. Yang satu memiliki sumber daya tak terbatas yang melibatkan anggota kepolisian atau dinas rahasia negara-negara lain. Bahkan pada hari H di mana Presiden akan muncul di depan publik di alun-alun Place du 18 juin, ratusan ribu personel tumpah ruah di Paris, bisa jadi saat itu pasukan keamanannya lebih banyak dari pada penduduk sendiri! Bagaimana dengan pihak satunya? Ia tetap saja mengandalkan dirinya sendiri, bekerja dengan tenang, sesuai rencana yang telah dengan apik disusun, tak mempedulikan ratusan ribu orang yang sedang memburunya. Perburuan ini begitu menegangkan hingga aku tak mampu meletakkan buku ini pada halaman-halaman terakhir. Dan beberapa menit setelah aku menutup halaman terakhir pun, debaran jantungku masih tetap menggelora....

Place du 18 juin 1940--alun-alun tempat Presiden akan ditembak Jackal


Senapan ramping nan mematikan ala The Jackal

Salah satu hal yang kusukai dari kisah ini adalah ketelitian dan detail yang ditulis Forsyth, yang tidak mengherankan juga mengingat Forsyth pernah menjalani wajib militer sebagai pilot, dan menjadi koresponden dalam perang di Nigeria saat berkarir di bidang jurnalistik. Pengalaman itu mungkin yang menjadi modal kelebihannya dalam detail teknik yang mengagumkan saat menjabarkan tentang senjata ataupun pemalsuan identitas. Bahkan penjabaran tentang cara pemalsuan paspor di buku ini pernah dipraktekkan oleh pembacanya, dan akhirnya sukses! Tapi yang lebih "njelimet" lagi adalah penuturan tentang senapan yang didesain oleh The Jackal khusus untuk misi membunuh de Gaulle. Ia mendatangi seorang pembuat senjata profesional bernama Tuan Goosens, dan menguraikan konsep desain yang ia ciptakan sendiri. Tentu saja senapan itu belum pernah ada di dunia, dan butuh pembunuh bayaran dan pembuat senjata yang sama-sama profesional untuk mampu mewujudkannya.

Senapan itu harus ramping dan dapat dibongkar-pasang dalam waktu singkat. Ketika sudah dibongkar, senapan itu harus diletakkan di dalam tabung baja tipis dengan diameter sekecil mungkin, supaya tidak mencolok untuk dibawa oleh The Jackal. Tabung itu berbentuk khusus yang saat itu digambarkan oleh Jackal di atas kertas bagi Tuan Goosens, namun hanya di bab terakhirlah anda akan mengetahui seperti apa bentuk sebenarnya tabung itu. 7 halaman dihabiskan Forsyth untuk menjelaskan tentang mekanisme senapan ini, yang mungkin bagi sebagian pembaca membosankan, tapi bagiku justru mengasyikkan. Sesuatu yang belum pernah ada, tapi sepertinya masuk akal untuk dibuat. Bagi para teknisi mekanik, tentu bagian ini paling keren! Wawasanku tentang peluru berhulu ledak juga terbuka berkat buku ini. Ternyata sederhana saja membuatnya, dengan membuat lubang kecil sepanjang seperempat inci, lalu ke dalam celah itu diteteskan merkuri, lalu lubang ditutup dengan timah cair, lalu diamplas kembali sehingga kembali ke bentuk semula. Namun akibatnya….sangat mengerikan. Ketika ditembakkan, tetesan merkurinya akan menyentak ke belakang celah tempat ia diisikan. Begitu laju peluru terhambat ketika memasuki daging/tulang manusia, merkuri akan tersentak ke depan, mengoyakkan ujung peluru lalu menyemburkan timah ke jaringan tubuh. Akibatnya, syaraf dan selaput tubuh bagai dikoyak, dipotong, diiris oleh serpihan timah yang menyebar (hlm. 191-192). Tak heran, peluru jenis ini sangat mematikan!

seperti inilah kira-kira senapan ramping ala Jackal (diambil dari versi filmnya)


Siapa yang menang?

Kisah ini terbilang unik, karena kalau dalam kisah suspense biasanya tokoh utama adalah protagonis, Jackal di kisah ini adalah tokoh antagonis. Kalau biasanya sang "lakon" memburu pembunuh, kini justru kita seolah-olah berjalan bersama si pembunuh yang diburu. Empat bintang kusematkan untuk buku karya Frederick Forsyth ini. Siapa yang menang? Itu tak penting lagi rasanya. Bagiku, hanya sepersekian inci saja akhir kisah ini meleset dari harapanku, hanya gara-gara sebuah ciuman. Ciuman siapa? Apa yang meleset? Jawabannya tentu harus anda baca sendiri di bukunya. Yang jelas, setelah tamat membaca buku ini, anda pasti akan mengacungkan semua jempol yang anda miliki untuk kecerdikan si Jackal. Aku sendiri hanya bisa berandai-andai saja, ah....seandainya saja....

Judul: The Day Of The Jackal
Penulis: Frederick Forsyth
Penerbit: Serambi
Terbit: Juni 2011
Tebal: 607 hlm

Tuesday, June 28, 2011

Genghis Khan 1: Sang Penakluk


Aku sedikit mengenal tokoh pemersatu rakyat Mongol bernama Genghis Khan ini sejak kecil. Hanya saja, selama ini aku merasa ada dualisme dalam penilaian akan karakter Genghis Khan ini. Di satu sisi ia dianggap pahlawan, sementara di sisi lain ia adalah orang barbar. Mana yang benar? Mengapa satu orang yang sama bisa memiliki dua sisi sejarah? Mungkin ini alasannya…


It is hard to pass fair judgment on historical facts of which we have no eye witness (sulit juga membuat penilaian yang adil terhadap fakta sejarah yang tidak kita saksikan dengan mata kepala sendiri) ~Prakata


Beruntunglah kita, karena bulan April 2011 lalu Penerbit Bentang Pustaka telah menerbitkan versi terjemahan Buku Genghis Khan: Sang Penakluk ini untuk kita. Buku ini mengungkapkan sejarah seorang pria Mongolia bernama Temujin, yang kelak akan menjadi seorang penakluk terbesar yang pernah hidup di dunia: Genghis Khan. Luas wilayah yang pernah ia taklukkan sekitar 35.000.000 kilometer persegi -- 2,2 kali lebih besar daripada wilayah taklukan Alexander Agung, dan 6,7 kali lebih luas daripada wilayah yang berhasil dikuasai Napoleon Bonaparte. Kekaisaran Romawi bahkan hanya seperempatnya saja. Namun yang menurutku membuat Genghis Khan layak disebut hebat, bukan hanya luasnya wilayah taklukan, melainkan lebih pada kecerdikannya, kebijaksanaannya dalam memerintah, serta semangat, kesabaran, ketekunan dan keberanian dalam karakternya. Hanya lewat buku inilah kita akan melihat karakter Genghis Khan sebagai manusia. Dan hanya setelah membaca buku ini, anda akan memahami mengapa Genghis Khan disebut sebagai pahlawan.

Kisah diawali dengan memperlihatkan ordu (perkampungan/desa) Yesugei yang merupakan markas suku Mongol Kyat, sebagai salah satu yang terkuat pada sekitar abad ke duabelas. Saat itu adalah masa-masa para nomad yang mendiami Dataran Mongolia terpecah belah menjadi ratusan klan dan suku yang berbeda-beda sehingga sering terlibat dalam konflik berkepanjangan. Saat itu, yang kuat akan menghancurkan yang lemah. Sehingga yang lemah hanya punya dua pilihan: hancur atau bergabung pada kelompok yang lebih kuat. Semua orang, semua klan, semua suku tidak memiliki teman atau musuh yang tetap. Kawan hari ini bisa menjadi musuh esok hari bilamana berbeda pandangan, karena kalau kau tak menghancurkan pihak lain duluan, pihak lainlah yang akan menghancurkanmu. Karena situasi seperti inilah orang Mongolia terpecah belah, dan kalau hal itu berangsur-angsur terjadi, suku Mongolia akan punah selamanya.

Yesugei adalah salah seorang yang memiliki impian untuk menyatukan seluruh Mongolia. Yesugei memiliki beberapa putra dan putri. Salah satu putra yang dibanggakannya adalah Temujin, yang lahir dari istri kedua, seorang wanita bernama Ouluun. Dari semenjak kecil, Temujin telah menunjukkan kualitasnya sebagai calon pemimpin besar. Ia tak hanya terampil menunggang kuda dan memanah, namun kecerdasan dan karakter kuatnya sudah mulai memancar. Sepertiga dari awal buku ini dengan sangat detail menggambarkan kehidupan Temujin kecil. Bagaimana ia belajar segala sesuatu (saat itu tak ada sekolah) dari berbagai sumber. Ajaran ayahnya, dongeng dari ibunya, pengalaman di alam bebas bersama Mamay (paman dari pihak ibunya). Singkatnya, setiap hal yang dilihat, didengar dan dialaminya selalu dicerna dengan kritis, mengapa A terjadi? Mengapa B melakukan C? Temujin bukan hanya merenungkan misteri-misteri itu, namun ia selalu menemukan jawabannya untuk dimasukkan ke dalam memorinya. Pendek kata, tak ada hal yang luput dari perhatiannya.

Ketika usianya baru 9 tahun, Temujin sudah akan ditunangkan dengan seorang anak perempuan berusia 10 tahun dari suku Olqunuud, bernama Borte. Saat Yesugei pulang dari mengantarkan Temujin ke ordu calon mertuanya, ia diracun oleh orang Tartar yang menjadi musuh kaum Mongol Kyat. Seharusnya, Temujin adalah pewaris Yesugei, dan berhak menjadi pemimpin suku mereka. Namun, karena rakyat merasa mereka menjadi lemah setelah kematian Yesugei, banyak pendukung Yesugei yang meninggalkan ordu. Bahkan kerabat Temujin. Salah satu yang masih setia pada Temujin adalah Yamuka. Yamuka telah menjadi sahabat Temujin sejak kecil, mereka tumbuh bersama-sama. Mereka berdua bahkan telah menjadi anda. Anda adalah dua orang yang bersumpah setia menjadi saudara.
Dari antara kaum nomad yang bergabung dengan Yesugei saat masih hidup, adalah kaum Taichut. Kaum Taichut merupakan nokhod (orang bebas yang bisa pergi kapan saja mereka mau). Begitu Yesugei meninggal, kaum Taichut mengambil alih ordu Yesugei yang seharusnya menjadi milik Temujin. Temujin terpaksa melarikan diri bersama ibu dan sedikit orang yang masih setia kepadanya. Dari sebuah ordu yang memiliki lima belas ribu kepala keluarga dan merupakan salah satu yang terkuat, tiba-tiba keluarga Temujin jatuh ke jurang kemiskinan yang amat dalam. Ini karena di stepa berlaku hukum, bila suatu klan memenangkan peperangan, ia berhak atas pampasan perang dari pihak yang dikalahkan, berupa ternak, harta benda, termasuk orang (kecuali tentu saja bagi yang melarikan diri). Saking miskinnya, keluarga Temujin bahkan tak bisa makan daging domba dan sapi yang menjadi makanan pokok orang Mongolia. Kekalahan dari kaum Taichut itu bukanlah akhir dari peperangan mereka. Karena beberapa tahun kemudian, tatkala Temujin sudah berusia empat belas tahun, kaum Taichut kembali memburu ordu Temujin. Perjalanan terjal pun kembali harus dilalui Temujin. Dalam keadaan terdesak, ia mampu menyelamatkan keluarganya meski ia sendiri akhirnya tertangkap kaum Taichut. Namun berkat kebaikan salah seorang mantan pengikut Yesugei, ia pun dapat melarikan diri.

Setelah kembali kepada calon mertuanya dahulu, dan kali ini benar-benar mempersunting Borte, Temujin pun mulai berupaya mempersatukan kaum Mongolia, sebuah cita-cita yang diamanatkan oleh mendiang ayahnya. Sebuah usaha yang nampak sia-sia! Berjuang membangun ordu besar dari titik nol merupakan usaha luar biasa. Tapi untuk mempersatukan dataran Mongolia? Mustahil. Mungkin bagi sebagian besar orang, namun tidak bagi Temujin. Saat itu mungkin ia tak punya dukungan dan harta berlimpah, namun ia memiliki modal kuat yang tak dimiliki orang lain: Visi. Kalau pun anda-nya, Yamuka memiliki visi yang sama, namun ia hanya berhenti pada cita-cita itu saja. Sebaliknya, Temujin telah memikirkan langkah demi langkah yang harus dilakukannya untuk meraih cita-cita itu. Visi semata tidaklah cukup, orang harus memiliki visi yang jelas, dan tahu apa yang perlu dilakukannya, bagaimana cara terbaik untuk melakukannya, dan tentu saja yang terpenting: keberanian dan kesabaran untuk mewujudkannya. Itu semua dimiliki Temujin, dan dalam usia muda itu, ia segera melakukannya. Sedikit demi sedikit kehormatan dapat ia raih. Banyak orang yang dulu melarikan diri, kini kembali bergabung dengannya. Bahkan Toghrul Khan, pemimpin klan terbesar saat itu pun mengangkat Temujin menjadi anak angkatnya. Apakah dengan semua itu berarti ia telah sukses? Belum, perjalanan masih jauh. Temujin harus berkali-kali mengalami jatuh bangun, diserang, dan dikhianati. Kadang memenangi pertempuran, kadang juga dikalahkan. Bahkan Borte, istrinya, harus mengalami penculikan dan pemerkosaan ketika ordu mereka kalah. Semuanya itu hanya makin membuat semangat Temujin menggelora. Sayangnya kita belum dapat mengikuti kisah Temjujin dalam kiprahnya sehingga menjadi sang penakluk paling besar dan mashyur di dunia: Genghis Khan. Kisah ini harus berlanjut di buku kedua, sedang buku pertama ini memperlihatkan perjuangan dan jatuh bangun yang dialami Temujin dari sejak kecil.

Meski demikian, setelah membaca buku pertama inipun, aku jadi dapat melihat sosok Genghis Khan yang sebenarnya. Kalau orang menilainya kejam, sadis, bahkan barbar, menurutku itu karena kondisi pada saat itu yang mengharuskannya membunuh lawan-lawannya. Kita harus ingat, bahwa sebagian besar kaum nomad memang masih barbar saat itu. Untuk mempersatukan mereka, memang harus dengan jalan kekerasan. Kalau tidak, selamanya mereka takkan pernah bersatu, dan malah akan punah karena selalu terlibat konflik dengan sesama orang Mongolia sendiri. Toh meski harus membunuh lawan, ia melakukannya ketika perang atau bila orang tersebut akan membahayakan ordunya. Pada mantan musuh yang ia pandang akan setia, ia akan mengangkatnya menjadi anggota pasukannya.



Yang aku kagumi juga dari Temujin adalah perlakuannya terhadap para pengikutnya. Temujin menuntut kesetiaan mereka kepadanya, dan sebagai imbal baliknya ia memberikan keadilan dan perlakuan yang setara bagi semua orang. Bahkan ia sendiri mengenakan pakaian yang sama dan makan makanan yang sama seperti yang dimakan bahkan oleh penggembala lembu (yang termasuk warga paling rendah). Hal ini membuat pengikutnya memandang Temujin sebagai pemimpin yang adil dan mau berbela rasa, dan merupakan hal yang tak lazim, mengingat pemimpin lainnya pada saat itu hidup dalam kemewahan.

Akhirnya, dari buku pertama ini aku bisa memahami sudut pandang Temujin dalam keputusannya untuk menggunakan kekerasan dalam mempersatukan Mongolia. Seperti yang dikatakan oleh Sam Djang di awal tulisanku ini, memang sulit membuat penilaian yang adil terhadap fakta sejarah, jika tidak kita saksikan dengan mata kepala sendiri. Karena kita tak mungkin dapat kembali ke masa lampau, kita harus mengandalkan buku ini untuk membawa kita ke masa itu, ke salah satu masa sejarah paling keemasan di muka bumi ini. Salut pada Bentang yang telah menerjemahkannya dengan baik!

Judul: Genghis Khan 1: Sang Penakluk
Judul asli: Genghis Khan: World Conqueror, volume 1
Penulis: Sam Djang
Penerbit: Bentang Pustaka
Penerbit versi asli: New Horison Books, North Hills, 2010
Penerjemah: Reni Indardini
Terbit: April 2011
Tebal: 503 hlm

Friday, May 27, 2011

The Lady And The Unicorn

Bagaimana proses pembuatan permadani bisa dibingkai menjadi sebuah kisah yang menarik? Tracy Chevalier telah berhasil melakukannya melalui buku Lady dan Unicorn ini. Pembuatan permadani hiasan dinding (tapestry) pada abad pertengahan sangat rumit karena semuanya dilakukan secara manual dibantu alat tenun. Sama sekali tak dapat dibandingkan dengan pembuatan karpet jaman modern yang menggunakan mesin. Selain itu, motif permadani jaman itu dirancang dengan memasukkan simbol-simbol tertentu, yang menceritakan banyak hal sekaligus pada penikmatnya, tentang visi maupun impian keluarga itu. Itulah sebabnya, pembuatan permadani bisa memakan waktu bertahun-tahun, terutama apabila desainnya rumit dan eksklusif, seperti Lady dan Unicorn yang menjadi judul buku ini.

Kisah ini mengambil tokoh keluarga le Viste, sebuah keluarga yang, meski tidak berdarah bangsawan murni namun karena memiliki pengaruh besar pada kerajaan selama beberapa generasi, memiliki reputasi yang baik di kalangan bangsawan dan raja Prancis pada akhir abad 15: Charles VII. Dan setelah Jean le Viste memperistri Genevieve de Nanterre yang putri bangsawan, maka darah kebangsawananpun mengalir ke keluarga itu. Untuk merayakan kenaikan status yang dianugerahkan oleh Raja itu, le Viste memesan permadani untuk dipamerkan di rumahnya saat pesta.

Nicolas des Innocents adalah pelukis yang tampan, angkuh dan perayu wanita kelas kakap, yang sangat ironis mengingat ia menyandang nama Innocents (innocent). Selama ini reputasinya sebagai pelukis gambar diri miniatur wanita-wanita bangsawan, pelukis kaca patri kapel dan pelukis pintu kereta sudah tersebar di antara para bangsawan. Suatu hari Nicolas dipanggil ke kediaman Jean le Viste dengan tugas baru yang belum pernah ia kerjakan sebelumnya: melukis permadani.

Jean le Viste awalnya meminta Nicolas mendesain gambar pertempuran untuk permadaninya. Tentu saja dengan tak lupa memasukkan lambang keluarganya (tiap keluarga bangsawan memiliki lambang masing-masing). Namun Genevieve, istri Jean yang merasa gagal karena "hanya" dapat memberikan 3 orang anak perempuan, meminta Nicolas membujuk suaminya untuk mengubah gambar pertempuran menjadi gambar unicorn. Tepatnya, Lady dan Unicorn. Mengapa lady dan unicorn?

Lady dan Unicorn

Dalam sejarah, permadani Lady dan Unicorn ini memang benar-benar ada (sekarang tersimpan di Museé de Cluny di Paris, Prancis), dan dahulu dibuat atas pesanan salah seorang anggota keluarga Le Viste, yang diduga adalah Jean le Viste.

Unicorn sendiri merupakan sebuah dongeng atau mitos yang unik. Dalam mitos itu unicorn (yang bertubuh seperti kuda dan memiliki tanduk panjang di hidungnya) hanya dapat ditaklukkan oleh seorang perawan. Maka jadilah 6 buah desain permadani yang menggambarkan proses penaklukan seorang lady terhadap unicorn. Begitu menakjubkan bagaimana sebuah gambar dapat menginterpretasikan banyak hal. Nicolas sendiri menggambar 2 lady di antara desain itu yang merupakan perwujudan Genevieve dan Claude (anak gadis Jean le Viste yang cantik, pemberontak dan agak liar). Agak ironis, mengingat Nicolas yang jago menaklukkan wanita harus melukis wanita yang menaklukkan unicorn. Kitapun harus mereka-reka alasan Genevieve meminta Nicolas melukis Lady & Unicorn. Apakah itu karena dongeng ngawur tanduk unicorn yang dapat memurnikan wanita yang dikisahkan Nicolas untuk merayu Claude di luar pintu kamar ibunya? Entahlah…

Ada 6 permadani yang akhirnya dilukis Nicolas. 5 di antaranya melambangkan panca indra manusia, dan dalam makna lain menggambarkan perjalanan sang lady dalam usahanya menggoda dan menaklukkan unicorn.

Permadani yang bergambar lady sedang menoleh sedikit ke samping sambil memegang tanduk unicorn mewakili (indra) Peraba.


Di lukisan lainnya, lady sedang memainkan kecapi yang dibawa oleh dayangnya. Tentu saja lukisan ini melambangkan Pendengaran.


Indra Perasa berwujud dalam lady yang sedang memberi makan burung betetnya. Tangan kanannya mengambil buah di wadah yang dibawa dayangnya, sedang si betet bertengger di tangan kirinya. Sementara singa dan unicorn mengapit di kanan-kiri sang lady dengan jubah berkibar ditiup angin. Konon permadani yang nampak paling “hidup” ini menggambarkan sosok Claude, gadis yang selalu berada di hati Nicolas, meski tak kunjung dapat dimilikinya.


Sementara lady yang sedang menganyam bunga anyelir menjadi sebuah mahkota, meski tak terlalu jelas, dianggap mewakili Penciuman. Makna di baliknya adalah sang lady yakin telah dapat menaklukkan unicorn sehingga ia menganyam mahkota bunga anyelir untuk pernikahannya.


Indra terakhir, Penglihatan, mewujud dalam gambar unicorn yang meletakkan kaki depannya di pangkuan lady, sementara sang lady yang berwajah sedih membawa sebuah cermin yang merefleksikan si unicorn. Gambar ini boleh jadi adalah simbol unicorn yang akhirnya takluk pada rayuan lady.


Permadani terakhir, yang merupakan kesimpulan dari ke 5 kisah lady dan unicorn tadi berjudul A Mon Seul Desir (bisa diartikan “satu-satunya keinginanku”). Bergambar lady sedang memegang perhiasan (entah mengambil dari atau hendak meletakkan ke) kotak perhiasan yang dipegang dayangnya. Di belakangnya tampak tenda anggun berwarna biru tua, perlambang kenaikan status keluarga le Viste di kerajaan. Kata-kata "a mon seul desir" adalah ungkapan yang didengar Claude saat ibunya mengaku dosa pada pastur dan mengatakan bahwa "mon seul desir" adalah menjadi biarawati. Mungkin saja Claude mengusulkan judul itu pada Nicolas karena pria itulah "mon seul desir" bagi Claude? Entahlah...



Pembuatan Permadani

Sebelum melangkah ke jantung cerita, aku akan mengajak anda sejenak mengintip proses pembuatan permadani di abad pertengahan yang harus dilalui untuk mendapatkan kualitas yang sempurna. Pada saat itu, kota Brussels di Belgia dianggap sebagai salah satu penghasil permadani terbaik di dunia. Inilah beberapa tahap dalam pembuatan permadani:

1. Pelukis mendesain dan melukis gambar sesuai tema yang diminta pemesan.

2. Lukisan itu dibawa kepada kartunis, yang akan memperbesar dan membagi lukisan itu menjadi bagian-bagian sesuai ukuran permadani. Singkatnya, tugas kartunis adalah mengubah media lukisan menjadi media gambar yang siap ditenun menjadi permadani.

3. Karena ukuran permadani jauh lebih besar daripada lukisan, pada saat lukisan itu diperbesar, akan tampak banyak bagian yang kosong. Disinilah peran pelukis millefleurs berperan. Perannya adalah mengisi kekosongan itu dengan gambar elemen-elemen kecil tokoh penunjang, misalnya dayang-dayang atau hewan kecil seperti anjing dan monyet, dan yang terpenting bunga-bunga kecil yang bertebaran di seluruh bidang yang kosong. Tampaknya sederhana, namun millefleurs haruslah mampu menghidupkan keseluruhan desain permadani itu sehingga antara desain asli dan millefleursnya tampak menyatu.

4. Dan yang terpenting tentunya, adalah peran penenun (lissier) itu sendiri. Hasil akhir coretan kartunis lah yang akan ditenun menjadi permadani. Selain menenun, seorang lissier juga harus menangani aspek bisnis dengan pemesan atau perantara (broker)nya. Ia harus memperkirakan beratnya pekerjaan, lamanya waktu yang dibutuhkan, jumlah tenaga kerja dan bahan-bahan yang akan digunakan, dan akhirnya harga yang ia minta. Ia juga harus mengawasi dan mensupervisi pekerjaan semua orang.

Brussels memiliki serikat pekerja penenun yang mengawasi bahwa penenun tidak memperkerjakan orang melebihi jam kerja atau mempekerjakan orang yang tidak dilaporkan sebelumnya hanya agar pesanan permadani lebih cepat jadi dari pesaing. Setelah permadani jadi pun, lissier harus membawanya ke serikat pekerja untuk dinilai hasilnya. Semua ini bertujuan untuk menjaga kualitas permadani yang dihasilkan Brussels sebagai penghasil permadani terbaik dunia.

Hal unik dalam pembuatan permadani ini adalah bahwa sepanjang proses penenunan, yang makan waktu sekitar 2-3 tahun, seluruh pekerja tak dapat melihat hasil kerja mereka. Barulah setelah bagian terakhir selesai ditenun, dilakukan pengguntingan benang-benang yang membentuk tenunan itu dari alat tenun dan dilepaskan dari gulungan. Setelah itu barulah permadani itu dibalik, dan...voila...saat itulah hasil jerih payah selama bertahun-tahun itu terbayar lunas ketika tokoh-tokoh yang hidup dalam dekorasi warna-warna yang indah seolah menyapa mereka untuk pertama kalinya.


Menenun Permadani, Merajut Cinta

Setelah seluruh desain Lady dan Unicorn disetujui Jean le Viste, akhirnya berangkatlah Nicolas ke kota Brussels, Belgia untuk membawa desain itu ke seorang penenun bernama Georges de la Chapelle. Maka dimulailah tahap terpenting dalam pembuatan permadani, yaitu membuat kartun yang lalu dilanjutkan dengan penenunan. Makin banyak tokoh yang terlibat dalam fase ini. Ada Philippe sang kartunis dan ahli millefleurs, seorang pria muda pendiam yang diam-diam mencintai Aliénor, putri Georges yang buta. Meski buta, Aliénor tetap membuat dirinya berguna bagi keluarganya. Ia suka berkebun, dan tanaman bebungaannya dapat mengilhami ayahnya ketika akan menenun gambar bunga. Selain itu, ia juga dapat menjahit dengan halus, bahkan saat gelap karena ia tak menggunakan matanya. Rupanya Tuhan menganugerahinya indra penciuman dan peraba yang sangat sensitif sebagai ganti indra penglihatannya. Sedangkan ibunya, Christine, sebenarnya ingin sekali ikut menenun, hanya saja suaminya tak pernah mempercayakan tugas itu kepadanya. Maka selama ini ia hanya melakukan tugas menjahit, menggulung benang atau mengelim seperti halnya Aliénor. Putra Georges dan Christine, Georges le Jeune juga memiliki bakat menenun seperti ayahnya, dan ia kebagian gambar-gambar yang tak terlalu penting, sementara ayahnya menangani bagian-bagian yang paling krusial.

Awalnya Nicolas yang angkuh dan merendahkan semua yang “berbau” Brussels tidak diterima dengan baik di rumah keluarga de la Chapelle, namun lama-kelamaan kedua pihak dapat menerima satu sama lain. Di tengah tuntutan kerja keras menyelesaikan permadani-permadani itu dalam waktu yang sangat singkat dengan upah yang minim, Nicolas pun menemukan cinta yang lain di tengah keluarga de la Chapelle. Mungkin ia menyerah pada harapannya untuk mendapatkan Claude, mengingat putri bangsawan tak mungkin bergaul apalagi bersanding dengan pelukis. Tapi lebih mungkin Nicolas mengagumi Alienor yang tenang dengan keunikan dan kecantikannya yang seolah terpisah dari dunia. Sementara itu, persoalan lain menghinggapi keluarga de la Chapelle. Seorang pencelup wol bernama Jacques le Boeuf ingin mengambil Alienor menjadi istrinya. Masalahnya, bahan pewarna yang dipakainya mencelup begitu busuk baunya sehingga orang tak tahan berdekatan dengannya, apalagi harus menjadi istrinya. Namun Georges terpaksa menjanjikan putrinya pada Jacques karena kebutuhan bisnis mereka. Dalam kemelut ini, Nicolas menawarkan solusi bagi Alienor secara diam-diam...

Di saat-saat terakhir sebelum semua permadani ditenun, Nicolas mengubah 2 desainnya. Lady dalam Peraba dilukis mirip dengan ekspresi Christine saat ia bersemangat setelah diijinkan menenun. Sedangkan lady dalam Penglihatan berubah menjadi serupa Alienor. Rupanya begitulah cara Nicolas mengekspresikan perasaannya pada wanita-wanita itu. Dan aku berpikir, jangan-jangan sebenarnya unicorn itu merefleksikan Nicolas sendiri? Yang telah berhasil ditaklukkan oleh wanita-wanita itu dengan caranya masing-masing?...

Lady dan Unicorn ini merupakan kombinasi fiksi, sejarah dan seni yang telah berhasil dirangkai dengan apik oleh Tracy Chevalier, dan membuat anda takkan pernah lagi memandang sebuah permadani buatan tangan dengan cara yang sama. Meski merupakan drama beralur datar, namun tak sedetikpun aku tergoda untuk meletakkan buku ini sebelum tamat. Lady dan Unicorn memotret empat orang wanita yang sama-sama merasa terkungkung karena hal yang berbeda. Namun di sisi lain, empat orang wanita itu pula yang telah menghidupkan desain permadani dinding yang paling terkenal di dunia ini: The Lady and The Unicorn.

Judul: Lady dan Unicorn
Judul asli: The Lady and The Unicorn
Penulis: Tracy Chevalier
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Februari 2007
Tebal: 296 hlm