Friday, May 27, 2011

The Lady And The Unicorn

Bagaimana proses pembuatan permadani bisa dibingkai menjadi sebuah kisah yang menarik? Tracy Chevalier telah berhasil melakukannya melalui buku Lady dan Unicorn ini. Pembuatan permadani hiasan dinding (tapestry) pada abad pertengahan sangat rumit karena semuanya dilakukan secara manual dibantu alat tenun. Sama sekali tak dapat dibandingkan dengan pembuatan karpet jaman modern yang menggunakan mesin. Selain itu, motif permadani jaman itu dirancang dengan memasukkan simbol-simbol tertentu, yang menceritakan banyak hal sekaligus pada penikmatnya, tentang visi maupun impian keluarga itu. Itulah sebabnya, pembuatan permadani bisa memakan waktu bertahun-tahun, terutama apabila desainnya rumit dan eksklusif, seperti Lady dan Unicorn yang menjadi judul buku ini.

Kisah ini mengambil tokoh keluarga le Viste, sebuah keluarga yang, meski tidak berdarah bangsawan murni namun karena memiliki pengaruh besar pada kerajaan selama beberapa generasi, memiliki reputasi yang baik di kalangan bangsawan dan raja Prancis pada akhir abad 15: Charles VII. Dan setelah Jean le Viste memperistri Genevieve de Nanterre yang putri bangsawan, maka darah kebangsawananpun mengalir ke keluarga itu. Untuk merayakan kenaikan status yang dianugerahkan oleh Raja itu, le Viste memesan permadani untuk dipamerkan di rumahnya saat pesta.

Nicolas des Innocents adalah pelukis yang tampan, angkuh dan perayu wanita kelas kakap, yang sangat ironis mengingat ia menyandang nama Innocents (innocent). Selama ini reputasinya sebagai pelukis gambar diri miniatur wanita-wanita bangsawan, pelukis kaca patri kapel dan pelukis pintu kereta sudah tersebar di antara para bangsawan. Suatu hari Nicolas dipanggil ke kediaman Jean le Viste dengan tugas baru yang belum pernah ia kerjakan sebelumnya: melukis permadani.

Jean le Viste awalnya meminta Nicolas mendesain gambar pertempuran untuk permadaninya. Tentu saja dengan tak lupa memasukkan lambang keluarganya (tiap keluarga bangsawan memiliki lambang masing-masing). Namun Genevieve, istri Jean yang merasa gagal karena "hanya" dapat memberikan 3 orang anak perempuan, meminta Nicolas membujuk suaminya untuk mengubah gambar pertempuran menjadi gambar unicorn. Tepatnya, Lady dan Unicorn. Mengapa lady dan unicorn?

Lady dan Unicorn

Dalam sejarah, permadani Lady dan Unicorn ini memang benar-benar ada (sekarang tersimpan di Museé de Cluny di Paris, Prancis), dan dahulu dibuat atas pesanan salah seorang anggota keluarga Le Viste, yang diduga adalah Jean le Viste.

Unicorn sendiri merupakan sebuah dongeng atau mitos yang unik. Dalam mitos itu unicorn (yang bertubuh seperti kuda dan memiliki tanduk panjang di hidungnya) hanya dapat ditaklukkan oleh seorang perawan. Maka jadilah 6 buah desain permadani yang menggambarkan proses penaklukan seorang lady terhadap unicorn. Begitu menakjubkan bagaimana sebuah gambar dapat menginterpretasikan banyak hal. Nicolas sendiri menggambar 2 lady di antara desain itu yang merupakan perwujudan Genevieve dan Claude (anak gadis Jean le Viste yang cantik, pemberontak dan agak liar). Agak ironis, mengingat Nicolas yang jago menaklukkan wanita harus melukis wanita yang menaklukkan unicorn. Kitapun harus mereka-reka alasan Genevieve meminta Nicolas melukis Lady & Unicorn. Apakah itu karena dongeng ngawur tanduk unicorn yang dapat memurnikan wanita yang dikisahkan Nicolas untuk merayu Claude di luar pintu kamar ibunya? Entahlah…

Ada 6 permadani yang akhirnya dilukis Nicolas. 5 di antaranya melambangkan panca indra manusia, dan dalam makna lain menggambarkan perjalanan sang lady dalam usahanya menggoda dan menaklukkan unicorn.

Permadani yang bergambar lady sedang menoleh sedikit ke samping sambil memegang tanduk unicorn mewakili (indra) Peraba.


Di lukisan lainnya, lady sedang memainkan kecapi yang dibawa oleh dayangnya. Tentu saja lukisan ini melambangkan Pendengaran.


Indra Perasa berwujud dalam lady yang sedang memberi makan burung betetnya. Tangan kanannya mengambil buah di wadah yang dibawa dayangnya, sedang si betet bertengger di tangan kirinya. Sementara singa dan unicorn mengapit di kanan-kiri sang lady dengan jubah berkibar ditiup angin. Konon permadani yang nampak paling “hidup” ini menggambarkan sosok Claude, gadis yang selalu berada di hati Nicolas, meski tak kunjung dapat dimilikinya.


Sementara lady yang sedang menganyam bunga anyelir menjadi sebuah mahkota, meski tak terlalu jelas, dianggap mewakili Penciuman. Makna di baliknya adalah sang lady yakin telah dapat menaklukkan unicorn sehingga ia menganyam mahkota bunga anyelir untuk pernikahannya.


Indra terakhir, Penglihatan, mewujud dalam gambar unicorn yang meletakkan kaki depannya di pangkuan lady, sementara sang lady yang berwajah sedih membawa sebuah cermin yang merefleksikan si unicorn. Gambar ini boleh jadi adalah simbol unicorn yang akhirnya takluk pada rayuan lady.


Permadani terakhir, yang merupakan kesimpulan dari ke 5 kisah lady dan unicorn tadi berjudul A Mon Seul Desir (bisa diartikan “satu-satunya keinginanku”). Bergambar lady sedang memegang perhiasan (entah mengambil dari atau hendak meletakkan ke) kotak perhiasan yang dipegang dayangnya. Di belakangnya tampak tenda anggun berwarna biru tua, perlambang kenaikan status keluarga le Viste di kerajaan. Kata-kata "a mon seul desir" adalah ungkapan yang didengar Claude saat ibunya mengaku dosa pada pastur dan mengatakan bahwa "mon seul desir" adalah menjadi biarawati. Mungkin saja Claude mengusulkan judul itu pada Nicolas karena pria itulah "mon seul desir" bagi Claude? Entahlah...



Pembuatan Permadani

Sebelum melangkah ke jantung cerita, aku akan mengajak anda sejenak mengintip proses pembuatan permadani di abad pertengahan yang harus dilalui untuk mendapatkan kualitas yang sempurna. Pada saat itu, kota Brussels di Belgia dianggap sebagai salah satu penghasil permadani terbaik di dunia. Inilah beberapa tahap dalam pembuatan permadani:

1. Pelukis mendesain dan melukis gambar sesuai tema yang diminta pemesan.

2. Lukisan itu dibawa kepada kartunis, yang akan memperbesar dan membagi lukisan itu menjadi bagian-bagian sesuai ukuran permadani. Singkatnya, tugas kartunis adalah mengubah media lukisan menjadi media gambar yang siap ditenun menjadi permadani.

3. Karena ukuran permadani jauh lebih besar daripada lukisan, pada saat lukisan itu diperbesar, akan tampak banyak bagian yang kosong. Disinilah peran pelukis millefleurs berperan. Perannya adalah mengisi kekosongan itu dengan gambar elemen-elemen kecil tokoh penunjang, misalnya dayang-dayang atau hewan kecil seperti anjing dan monyet, dan yang terpenting bunga-bunga kecil yang bertebaran di seluruh bidang yang kosong. Tampaknya sederhana, namun millefleurs haruslah mampu menghidupkan keseluruhan desain permadani itu sehingga antara desain asli dan millefleursnya tampak menyatu.

4. Dan yang terpenting tentunya, adalah peran penenun (lissier) itu sendiri. Hasil akhir coretan kartunis lah yang akan ditenun menjadi permadani. Selain menenun, seorang lissier juga harus menangani aspek bisnis dengan pemesan atau perantara (broker)nya. Ia harus memperkirakan beratnya pekerjaan, lamanya waktu yang dibutuhkan, jumlah tenaga kerja dan bahan-bahan yang akan digunakan, dan akhirnya harga yang ia minta. Ia juga harus mengawasi dan mensupervisi pekerjaan semua orang.

Brussels memiliki serikat pekerja penenun yang mengawasi bahwa penenun tidak memperkerjakan orang melebihi jam kerja atau mempekerjakan orang yang tidak dilaporkan sebelumnya hanya agar pesanan permadani lebih cepat jadi dari pesaing. Setelah permadani jadi pun, lissier harus membawanya ke serikat pekerja untuk dinilai hasilnya. Semua ini bertujuan untuk menjaga kualitas permadani yang dihasilkan Brussels sebagai penghasil permadani terbaik dunia.

Hal unik dalam pembuatan permadani ini adalah bahwa sepanjang proses penenunan, yang makan waktu sekitar 2-3 tahun, seluruh pekerja tak dapat melihat hasil kerja mereka. Barulah setelah bagian terakhir selesai ditenun, dilakukan pengguntingan benang-benang yang membentuk tenunan itu dari alat tenun dan dilepaskan dari gulungan. Setelah itu barulah permadani itu dibalik, dan...voila...saat itulah hasil jerih payah selama bertahun-tahun itu terbayar lunas ketika tokoh-tokoh yang hidup dalam dekorasi warna-warna yang indah seolah menyapa mereka untuk pertama kalinya.


Menenun Permadani, Merajut Cinta

Setelah seluruh desain Lady dan Unicorn disetujui Jean le Viste, akhirnya berangkatlah Nicolas ke kota Brussels, Belgia untuk membawa desain itu ke seorang penenun bernama Georges de la Chapelle. Maka dimulailah tahap terpenting dalam pembuatan permadani, yaitu membuat kartun yang lalu dilanjutkan dengan penenunan. Makin banyak tokoh yang terlibat dalam fase ini. Ada Philippe sang kartunis dan ahli millefleurs, seorang pria muda pendiam yang diam-diam mencintai Aliénor, putri Georges yang buta. Meski buta, Aliénor tetap membuat dirinya berguna bagi keluarganya. Ia suka berkebun, dan tanaman bebungaannya dapat mengilhami ayahnya ketika akan menenun gambar bunga. Selain itu, ia juga dapat menjahit dengan halus, bahkan saat gelap karena ia tak menggunakan matanya. Rupanya Tuhan menganugerahinya indra penciuman dan peraba yang sangat sensitif sebagai ganti indra penglihatannya. Sedangkan ibunya, Christine, sebenarnya ingin sekali ikut menenun, hanya saja suaminya tak pernah mempercayakan tugas itu kepadanya. Maka selama ini ia hanya melakukan tugas menjahit, menggulung benang atau mengelim seperti halnya Aliénor. Putra Georges dan Christine, Georges le Jeune juga memiliki bakat menenun seperti ayahnya, dan ia kebagian gambar-gambar yang tak terlalu penting, sementara ayahnya menangani bagian-bagian yang paling krusial.

Awalnya Nicolas yang angkuh dan merendahkan semua yang “berbau” Brussels tidak diterima dengan baik di rumah keluarga de la Chapelle, namun lama-kelamaan kedua pihak dapat menerima satu sama lain. Di tengah tuntutan kerja keras menyelesaikan permadani-permadani itu dalam waktu yang sangat singkat dengan upah yang minim, Nicolas pun menemukan cinta yang lain di tengah keluarga de la Chapelle. Mungkin ia menyerah pada harapannya untuk mendapatkan Claude, mengingat putri bangsawan tak mungkin bergaul apalagi bersanding dengan pelukis. Tapi lebih mungkin Nicolas mengagumi Alienor yang tenang dengan keunikan dan kecantikannya yang seolah terpisah dari dunia. Sementara itu, persoalan lain menghinggapi keluarga de la Chapelle. Seorang pencelup wol bernama Jacques le Boeuf ingin mengambil Alienor menjadi istrinya. Masalahnya, bahan pewarna yang dipakainya mencelup begitu busuk baunya sehingga orang tak tahan berdekatan dengannya, apalagi harus menjadi istrinya. Namun Georges terpaksa menjanjikan putrinya pada Jacques karena kebutuhan bisnis mereka. Dalam kemelut ini, Nicolas menawarkan solusi bagi Alienor secara diam-diam...

Di saat-saat terakhir sebelum semua permadani ditenun, Nicolas mengubah 2 desainnya. Lady dalam Peraba dilukis mirip dengan ekspresi Christine saat ia bersemangat setelah diijinkan menenun. Sedangkan lady dalam Penglihatan berubah menjadi serupa Alienor. Rupanya begitulah cara Nicolas mengekspresikan perasaannya pada wanita-wanita itu. Dan aku berpikir, jangan-jangan sebenarnya unicorn itu merefleksikan Nicolas sendiri? Yang telah berhasil ditaklukkan oleh wanita-wanita itu dengan caranya masing-masing?...

Lady dan Unicorn ini merupakan kombinasi fiksi, sejarah dan seni yang telah berhasil dirangkai dengan apik oleh Tracy Chevalier, dan membuat anda takkan pernah lagi memandang sebuah permadani buatan tangan dengan cara yang sama. Meski merupakan drama beralur datar, namun tak sedetikpun aku tergoda untuk meletakkan buku ini sebelum tamat. Lady dan Unicorn memotret empat orang wanita yang sama-sama merasa terkungkung karena hal yang berbeda. Namun di sisi lain, empat orang wanita itu pula yang telah menghidupkan desain permadani dinding yang paling terkenal di dunia ini: The Lady and The Unicorn.

Judul: Lady dan Unicorn
Judul asli: The Lady and The Unicorn
Penulis: Tracy Chevalier
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: Februari 2007
Tebal: 296 hlm